Pentagon Umumkan Identitas Empat Tentara AS yang Tewas dalam Perang Melawan Iran



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Militer Amerika Serikat pada Selasa mengumumkan identitas empat prajurit pertama yang gugur dalam konflik bersenjata melawan Iran.

Pengumuman ini disampaikan di tengah peringatan dari pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa eskalasi konflik berpotensi menimbulkan lebih banyak korban jiwa di pihak Amerika.

Keempat prajurit tersebut merupakan bagian dari unit Cadangan Angkatan Darat Amerika Serikat (U.S. Army Reserve) yang berbasis di Iowa. Mereka tewas pada Minggu setelah sebuah drone menghantam fasilitas militer AS di Port Shuaiba, Kuwait.

Kronologi Serangan Drone di Kuwait


Menurut keterangan resmi militer AS, total enam personel militer Amerika telah tewas sejauh ini dalam perang melawan Iran.

Baca Juga: Ekspor Mobil China Tertekan Dampak Konflik Timur Tengah

Empat di antaranya berasal dari United States Army Reserve dan bertugas di Komando Keberlanjutan ke-103 (103rd Sustainment Command) yang bermarkas di Des Moines, Iowa. Komando ini merupakan bagian dari operasi logistik dan suplai global Angkatan Darat AS.

Fasilitas militer di Kuwait yang menjadi lokasi serangan diketahui dilindungi dinding beton penahan ledakan, namun tidak memiliki atap yang diperkuat.

Dua pejabat yang mengetahui situasi tersebut menyatakan bahwa belum jelas apakah sistem pertahanan udara aktif saat insiden terjadi. Tidak ada alarm yang dilaporkan berbunyi ketika drone mendekati fasilitas tersebut.

Identitas Prajurit yang Gugur

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menyebut usia keempat prajurit berkisar antara 20 hingga 42 tahun. Mereka adalah:

  • Kapten Cody A. Khork (35), asal Winter Haven, Florida

  • Sersan Kelas Satu Noah L. Tietjens (42), asal Bellevue, Nebraska

  • Sersan Kelas Satu Nicole M. Amor (39), asal White Bear Lake, Minnesota

  • Sersan Declan J. Coady (20), asal West Des Moines, Iowa

Mayor Jenderal Todd Erskine, yang memimpin Komando Keberlanjutan Teater ke-79 (79th Theater Sustainment Command), menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga dan rekan satuan para prajurit yang gugur.

Rekam Jejak Penugasan Luar Negeri

Sebagian besar prajurit yang tewas memiliki pengalaman penugasan luar negeri. Kapten Khork pernah ditugaskan ke Arab Saudi pada 2018, ke Teluk Guantanamo, Kuba pada 2021, serta ke Polandia pada 2024.

Baca Juga: AS Siap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Trump Kerahkan Instrumen Militer

Sersan Amor sebelumnya bertugas di Kuwait dan Irak pada 2019. Sersan Tietjens juga pernah dua kali menjalani penugasan di Kuwait, masing-masing pada 2009 dan 2019.

Sementara itu, Sersan Coady—yang menerima kenaikan pangkat secara anumerta dari spesialis—baru bergabung dengan Army Reserve pada 2023.

Eskalasi Serangan Balasan Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan, Komando Pusat Militer AS (United States Central Command) melaporkan bahwa Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone dalam serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah.

Risiko terhadap pasukan AS di kawasan tersebut juga menjadi pembahasan dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen AS. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Senator dari Partai Demokrat, Chris Murphy, mengungkapkan bahwa para pejabat tersebut memperingatkan kemungkinan jatuhnya lebih banyak korban jiwa dari pihak Amerika. “Mereka mengatakan di ruangan itu bahwa akan ada lebih banyak warga Amerika yang meninggal—bahwa mereka tidak akan mampu sepenuhnya menghentikan serangan drone ini,” ujarnya.