KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan beban bunga belum cukup menyelamatkan kinerja seluruh bank swasta pada kuartal III-2026. Memang, ada yang masih mampu mengerek laba, tetapi tekanan pendapatan bunga bersih dan lonjakan biaya pencadangan membuat laba sebagian bank justru merosot. Ambil contoh, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatatkan laba bersih turun 14,75% secara tahunan (yoy) sebesar Rp 4,49 triliun sepanjang Januari-September 2026. Meski beban bunga berhasil turun 6,2% yoy menjadi Rp 7,99 triliun, tapi pendapatan bunga terkontraksi 4% menjadi Rp 17,85 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih tetap turun 2,2% menjadi Rp 9,86 triliun. Beban provisi CIMB Niaga juga tercatat melonjak 65,2% menjadi Rp 2,43 triliun. Baca Juga: Transaksi wondr by BNI Tembus Rp 1.774 Triliun, Naik 25% hingga September 2026 Meski begitu, total kredit tumbuh 6,7% yoy menjadi Rp 242,6 triliun per September 2026. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh segmen korporasi yang tumbuh 15,1% yoy menjadi Rp 102.07 triliun. Adapun dana murah atau current account and savings account (CASA) meningkat 4,4% yoy menjadi Rp 197 triliun. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang, tekanan margin bunga dan kenaikan pencadangan menjadi tantangan bagi kinerja perusahaan. Sehingga kedepannya, bank akan lebih selektif menyalurkan kredit dan mengoptimalkan pendanaan. “Fokus kami memperkuat kualitas aset, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi dengan tetap menjaga efisiensi biaya,” ujar Lani dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026). Senada, PT Bank Permata Tbk (BNLI) juga mencatatkan laba bersih turun 10,9% yoy menjadi sebesar Rp 2,57 triliun. Pendapatan bunga Permata Bank turun 5,67% yoy menjadi Rp 12,12 triliun. Meski beban bunga juga turun 10,23% yoy menjadi Rp 4,73 triliun, pendapatan bunga bersih tetap terkoreksi 2,49% yoy menjadi Rp 7,38 triliun. Meski demikian, Permata Bank mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 10,1% yoy menjadi Rp 172,9 triliun hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penyaluran kredit konvensional yang meningkat 13,9% yoy menjadi Rp 153,4 triliun. Baca Juga: Cermati Strategi Pencadangan Perbankan di Kuartal III-2026 Adapun CASA turun sekitar 9% yoy Rp 107,86 triliun. Namun memang, CASA masih mendominasi sebesar 56,4% terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK). Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, bankakan terus fokus memperkuat CASA melalui penguatan transaksi nasabah serta optimalisasi di seluruh kanal. Sebaliknya, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 3,49 triliun hingga September 2026, naik 18,5% yoy. Pendapatan bunga bersih Danamon juga tumbuh 8,9% yoy menjadi Rp 16,22 triliun. Pendapatan bunga naik 7,9% menjadi Rp 22,35 triliun, meski beban bunga juga naik 5,3% menjadi Rp 6,13 triliun. Di sisi pendanaan, CASA Bank Danamon tumbuh 7% yoy menjadi Rp 73,9 triliun per September 2026. Direktur Utama Danamon Nobuya Kawasaki mengatakan, pertumbuhan intermediasi dan pendanaan tetap terjaga dengan didukung pengelolaan risiko dan kualitas aset. "Kami akan tetap berfokus pada pertumbuhan yang sehat, kualitas aset yang terjaga, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026). Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatat laba bersih naik 4,2% yoy menjadi Rp 45,21 triliun pada kuartal III-2026. Ini sejalan dengan pendapatan bunga bersih yang naik 1,2% menjadi Rp 64,9 triliun. Adapun beban provisi BCA juga tercatat menurun 7,5% menjadi Rp 3,6 triliun.
Penurunan Beban Bunga Belum Mampu Dongkrak Kinerja Bank Swasta di Kuartal III-2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan beban bunga belum cukup menyelamatkan kinerja seluruh bank swasta pada kuartal III-2026. Memang, ada yang masih mampu mengerek laba, tetapi tekanan pendapatan bunga bersih dan lonjakan biaya pencadangan membuat laba sebagian bank justru merosot. Ambil contoh, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatatkan laba bersih turun 14,75% secara tahunan (yoy) sebesar Rp 4,49 triliun sepanjang Januari-September 2026. Meski beban bunga berhasil turun 6,2% yoy menjadi Rp 7,99 triliun, tapi pendapatan bunga terkontraksi 4% menjadi Rp 17,85 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih tetap turun 2,2% menjadi Rp 9,86 triliun. Beban provisi CIMB Niaga juga tercatat melonjak 65,2% menjadi Rp 2,43 triliun. Baca Juga: Transaksi wondr by BNI Tembus Rp 1.774 Triliun, Naik 25% hingga September 2026 Meski begitu, total kredit tumbuh 6,7% yoy menjadi Rp 242,6 triliun per September 2026. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh segmen korporasi yang tumbuh 15,1% yoy menjadi Rp 102.07 triliun. Adapun dana murah atau current account and savings account (CASA) meningkat 4,4% yoy menjadi Rp 197 triliun. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang, tekanan margin bunga dan kenaikan pencadangan menjadi tantangan bagi kinerja perusahaan. Sehingga kedepannya, bank akan lebih selektif menyalurkan kredit dan mengoptimalkan pendanaan. “Fokus kami memperkuat kualitas aset, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi dengan tetap menjaga efisiensi biaya,” ujar Lani dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026). Senada, PT Bank Permata Tbk (BNLI) juga mencatatkan laba bersih turun 10,9% yoy menjadi sebesar Rp 2,57 triliun. Pendapatan bunga Permata Bank turun 5,67% yoy menjadi Rp 12,12 triliun. Meski beban bunga juga turun 10,23% yoy menjadi Rp 4,73 triliun, pendapatan bunga bersih tetap terkoreksi 2,49% yoy menjadi Rp 7,38 triliun. Meski demikian, Permata Bank mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 10,1% yoy menjadi Rp 172,9 triliun hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penyaluran kredit konvensional yang meningkat 13,9% yoy menjadi Rp 153,4 triliun. Baca Juga: Cermati Strategi Pencadangan Perbankan di Kuartal III-2026 Adapun CASA turun sekitar 9% yoy Rp 107,86 triliun. Namun memang, CASA masih mendominasi sebesar 56,4% terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK). Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, bankakan terus fokus memperkuat CASA melalui penguatan transaksi nasabah serta optimalisasi di seluruh kanal. Sebaliknya, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 3,49 triliun hingga September 2026, naik 18,5% yoy. Pendapatan bunga bersih Danamon juga tumbuh 8,9% yoy menjadi Rp 16,22 triliun. Pendapatan bunga naik 7,9% menjadi Rp 22,35 triliun, meski beban bunga juga naik 5,3% menjadi Rp 6,13 triliun. Di sisi pendanaan, CASA Bank Danamon tumbuh 7% yoy menjadi Rp 73,9 triliun per September 2026. Direktur Utama Danamon Nobuya Kawasaki mengatakan, pertumbuhan intermediasi dan pendanaan tetap terjaga dengan didukung pengelolaan risiko dan kualitas aset. "Kami akan tetap berfokus pada pertumbuhan yang sehat, kualitas aset yang terjaga, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026). Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatat laba bersih naik 4,2% yoy menjadi Rp 45,21 triliun pada kuartal III-2026. Ini sejalan dengan pendapatan bunga bersih yang naik 1,2% menjadi Rp 64,9 triliun. Adapun beban provisi BCA juga tercatat menurun 7,5% menjadi Rp 3,6 triliun.
TAG: