Penurunan harga karet tak berpengaruh bagi Indonesia



JAKARTA. Harga komoditas karet dunia anjlok akibat turunnya permintaan karet. Melorotnya harga karet ini juga ditengarai akibat menguatnya nilai tukar yen Jepang terhadap dolar Amerika. Tapi, penurunan harga karet dunia ini tidak akan banyak berpengaruh banyak pada industri pengguna karet dalam negeri.Ketua Dewan Karet Indonesia Azis Pane mengatakan optimisme pemulihan ekonomi pada kuartal I tahun 2010 mengakibatkan Jepang melakukan pembelian komoditas karet dalam jumlah besar. "Pembelian ini juga dilakukan karena para pemasok juga menawarkan barang dalam jumlah besar dengan harapan pertumbuhan ekonomi akan bagus," ujar Azis, Senin (16/8).Berdasarkan data yang dirilis oleh Rubber Trade Association of Japan, stok karet di Jepang meningkat menjadi 3.275 ton per 31 Juli 2010 lalu dari level terendahnya pada 20 Juli 2010 lalu yang hanya 2.628 ton.Sementara itu, persediaan karet alam di China makin menggunung di minggu yang ketiga ini sebesar 1.667 ton menjadi 21.875 ton. Data tersebut diumumkan oleh 10 gudang karet di Shanghai, Shandong, Yunnan, Hainan dan Tianjin.Azis menambahkan meski harga karet dunia sedang melorot, tapi kondisi ini tidak akan banyak berpengaruh pada industri ban dalam negeri. "Permintaan ban terus meningkat seiring pertumbuhan industri otomotif," kata Azis. Penurunan harga karet dunia ini, lanjut Azis justru akan membuat harga ban tidak melonjak meski permintaan meningkat.Tapi, Azis memperkirakan penurunan harga karet dunia ini hanya akan bersifat sementara. "Kelebihan stok karet dunia hanya terjadi sementara waktu. Sebentar lagi harga akan stabil dan kembali meningkat," ungkapnya. Azis meyakini ke depan harga karet akan kembali normal.Pasalnya, kebutuhan karet di China sendiri ke depan masih akan besar. Azis bilang, permintaan otomotif di China masih akan naik sekitar 10% - 15% pada tahun ini. "Itu artinya permintaan karet untuk industri otomotif juga masih akan naik," jelasnya. Catatan saja, penjualan mobil di China kemungkinan akan meningkat menjadi 16 juta unit tahun ini, atau meningkat dari 15 juta unit seperti yang sempat diprediksi semula oleh China Association of Automobile Manufacturers.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: