JAKARTA. Nyatanya, dampak penurunan harga solar tak sebesar premium. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penurunan harga premium sebanyak dua kali memberi dampak langsung terhadap penurunan inflasi. "Sedangkan Solar belum terlalu berdampak pada rumah tangga, karena masih ada resistensi dari pengusaha angkutan," kata Kepala BPS Rusman Heriawan, Selasa (30/12) kemarin. Sejauh ini, dampak penurunan solar ini hanya terjadi pada tarif angkutan dalam kota. Sedangkan untuk angkutan antar kota, tarifnya masih terbilang tinggi. "Masih ada semacam ego sektoral. Kalau perlu, pemerintah membuat kebijakan baru agar penurunan solar bisa berdampak," saran Rusman. BPS mengeluarkan penilaiannya tersebut di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, kemarin. Dalam pertemuan mendadak selama satu jam itu, Presiden juga memanggil Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Dalam pertemuan itu, Presiden hanya menyatakan akan berupaya agar penurunan premium dan solar bisa berdampak hingga ke rumah tangga. Sebelumnya, pemerintah menyatakan akan mengevaluasi penurunan harga Premium dan Solar pada 15 Januari 2009. Dengan pertemuan itu, ada kemungkinan penurunan harga Premium dan Solar akan lebih cepat dengan penurunan harga lebih besar, khususnya Solar. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Organda Murphy Hutagalung membantah mempersulit pemerintah untuk menurunkan inflasi. "Kami tidak memiliki ego sektoral. Kami hanya merespon sesuai dengan situasi yang sebenarnya," kata Murphy. Saat harga Premium naik menjadi Rp 6000 per liter, 24 Mei 2008 lalu, pengusaha angkutan mengaku hanya mengikuti harga sparepart yang telah lebih dulu naik. "Sebelum BBM naik, ATPM menaikkan harga sparepart. Saat harga BBM naik, harga naik lagi," kata Murphy. Rencananya, BPS akan mengumumkan inflasi Desember pada 5 Januari 2009.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penurunan Premium Ciutkan Inflasi
JAKARTA. Nyatanya, dampak penurunan harga solar tak sebesar premium. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penurunan harga premium sebanyak dua kali memberi dampak langsung terhadap penurunan inflasi. "Sedangkan Solar belum terlalu berdampak pada rumah tangga, karena masih ada resistensi dari pengusaha angkutan," kata Kepala BPS Rusman Heriawan, Selasa (30/12) kemarin. Sejauh ini, dampak penurunan solar ini hanya terjadi pada tarif angkutan dalam kota. Sedangkan untuk angkutan antar kota, tarifnya masih terbilang tinggi. "Masih ada semacam ego sektoral. Kalau perlu, pemerintah membuat kebijakan baru agar penurunan solar bisa berdampak," saran Rusman. BPS mengeluarkan penilaiannya tersebut di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, kemarin. Dalam pertemuan mendadak selama satu jam itu, Presiden juga memanggil Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Dalam pertemuan itu, Presiden hanya menyatakan akan berupaya agar penurunan premium dan solar bisa berdampak hingga ke rumah tangga. Sebelumnya, pemerintah menyatakan akan mengevaluasi penurunan harga Premium dan Solar pada 15 Januari 2009. Dengan pertemuan itu, ada kemungkinan penurunan harga Premium dan Solar akan lebih cepat dengan penurunan harga lebih besar, khususnya Solar. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Organda Murphy Hutagalung membantah mempersulit pemerintah untuk menurunkan inflasi. "Kami tidak memiliki ego sektoral. Kami hanya merespon sesuai dengan situasi yang sebenarnya," kata Murphy. Saat harga Premium naik menjadi Rp 6000 per liter, 24 Mei 2008 lalu, pengusaha angkutan mengaku hanya mengikuti harga sparepart yang telah lebih dulu naik. "Sebelum BBM naik, ATPM menaikkan harga sparepart. Saat harga BBM naik, harga naik lagi," kata Murphy. Rencananya, BPS akan mengumumkan inflasi Desember pada 5 Januari 2009.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News