Penurunan produk reksadana tidak serta merta ikut menurunkan kinerja industri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang Agustus kemarin, tren penerbitan produk reksadana baru cukup beragam. Salah satu yang menarik adalah empat jenis reksadana open end justru tidak memiliki produk baru, bahkan berkurang produknya.

Merujuk laporan Infovesta Utama, produk reksadana pasar uang merupakan yang produknya susut paling drastis, yakni tujuh produk. Kemudian disusul dengan reksadana pendapatan tetap yang menyusut lima produk. Sedangkan reksadana campuran dan reksadana saham masing-masing turun dua dan satu produk.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan penurunan produk reksadana tidak serta merta mengindikasikan pertumbuhan kinerja reksadana ikut turun. Pasalnya, penurunan produk reksadana biasanya disebabkan karena memang ada kesepakatan antara manajer investasi (MI) dengan nasabah, maupun diperintahkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


“Memang dari sisi jumlah produk mengalami penurunan, namun dari segi dana kelolaan justru terus naik dalam enam bulan terakhir. Jadi kalau produk reksadana semakin banyak itu memang semakin baik, tapi kalau jumlahnya turun, bukan berarti jadi indikasi buruk terhadap pertumbuhannya,” kata Wawan kepada Kontan.co.id, Selasa (8/9).

Baca Juga: Produk reksadana pasar uang paling banyak turun, reksadana campuran bertambah

Wawan menambahkan, tidak adanya penerbitan produk baru dari keempat jenis produk utama reksadana tersebut tidak terlepas dari situasi dan kondisi makro saat ini. Menurutnya, sejak Maret para MI memang menahan untuk tidak menerbitkan produk baru.

Di sisi lain, ketersediaan portofolio, terutama yang berbasis obligasi korporasi tidak bisa dipungkiri cukup terbatas saat ini. Ini disebabkan jumlah obligasi yang diterbitkan oleh korporasi pada tahun ini juga relatif turun dibanding tahun lalu.

Sementara Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi mengatakan tren penurunan produk reksadana baru pada Agustus kemarin bukanlah hal yang mengejutkan. “Sepanjang tahun ini kan penurunan jumlah unit penyertaan memang sudah terjadi yang mengindikasikan banyak nasabah yang menarik dana investasinya di reksadana. Pada akhirnya inilah yang membuat adanya penurunan produk reksadana tersebut,” tambah Reza.

Selanjutnya: IHSG melempem, kinerja reksadana saham paling jeblok sepekan terakhir

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati