KONTAN.CO.ID - DUBLIN - Aksi kekerasan meletus di jalan-jalan ibu kota Irlandia, Dublin, pada hari Kamis (24/11). Amuk massa dipicu oleh kasus lima orang terluka dalam serangan penusukan, termasuk tiga anak-anak dan seorang wanita. Menurut laporan media lokal, serangan tersebut menyebabkan seorang gadis berusia lima tahun dan seorang wanita berusia 30-an terluka parah, dengan tiga lainnya mengalami luka, termasuk pelaku. Kantor berita Anadolu Agency melaporkan, Insiden ini terjadi sekitar pukul 13.40 waktu setempat di Parnell Square East dekat O'Connell Street yang ramai. Dua korban lainnya - seorang gadis berusia enam tahun dan seorang bocah laki-laki berusia lima tahun - ditusuk di luar sekolah terdekat.
Polisi telah mengidentifikasi seorang pria berusia 50-an sebagai "orang yang menarik perhatian" dan saat ini sedang menerima perawatan untuk luka serius. Otoritas keamanan menjelaskan bahwa mereka saat ini tidak mencari individu lain dan sedang mengejar jalur penyelidikan tertentu. Mereka menyatakan bahwa semua motif mungkin dipertimbangkan selama penyelidikan. Baca Juga: Negara Paling Bahaya & Paling Aman Tahun 2022, Apakah Indonesia Masuk? Setelah serangan tersebut, terjadi kekacauan di dekat lokasi insiden, ketika para demonstran berkumpul di area tersebut. Polisi berupaya mengurai massa dengan alat pelindung dan tongkat namun terjadi perlawanan sehingga beberapa kendaraan polisi mengalami kerusakan selama bentrokan dengan para demonstran. Polisi menyatakan bahwa "sekelompok gila huligan yang didorong oleh ideologi sayap kanan jauh" berada di balik protes kekerasan tersebut. Menteri Kehakiman Helen McEntee meminta ketenangan, mengungkapkan keprihatinan bahwa "sekelompok yang keras dan manipulatif" memanfaatkan insiden ini untuk menimbulkan kekacauan. Dia dengan tegas mengecam serangan terhadap petugas penegak hukum. Sebuah unggahan di media sosial X menunjukkan bangunan yang terbakar dan mengklaim bahwa itu adalah rekaman serangan pembakaran di bangunan tempat tinggal migran. "Mobil polisi terbakar di Dublin. Orang Irlandia muak dan marah tentang pengungsi palsu yang menyerang anak-anak dan melakukan berbagai kejahatan. Semua orang Eropa muak dan marah," tulis pengguna X lainnya. Meskipun beberapa laporan menyebutkan bahwa seorang imigran Aljazair bertanggung jawab atas penusukan, polisi tidak mengkonfirmasi identitas pria yang ditangkap. Perdana Menteri Leo Varadkar mengumumkan penempatan polisi tambahan sebagai respons terhadap situasi tersebut. Kantor berita Al Jazeera mengutip seorang Liam Geraghty polisi berpangkat Superintenden yang memastikan kepada publik bahwa serangan ini tidak terkait dengan terorisme, menggambarkannya sebagai "serangan tunggal." Ia menyebut seorang pria berusia 50-an telah ditahan terkait insiden ini dan juga dirawat di rumah sakit dengan luka serius. Otoritas menyatakan bahwa mereka "sedang mengikuti garis penyelidikan tertentu" dan saat ini "tidak mencari tersangka orang lain." Kepala polisi, Drew Harris, mengutuk aksi kekerasan ini dan menyebut sebagai "gambaran yang memalukan" dan menyalahkan "faksi gila yang didorong oleh ideologi ekstrem kanan" atas kerusuhan ini, sambil memperingatkan agar tidak menyebarkan "informasi yang salah." Baca Juga: Inilah Daftar 10 Negara Paling Taat Hukum 2023, Indonesia Peringkat Berapa?