JAKARTA. Keputusan pemerintah Inggris menutup Financial Supervisory Agency (FSA) menjadi angin segar bagi Bank Indonesia (BI) yang tengah berupaya mempertahankan kewenangan pengawasan perbankan agar tetap ada di bank sentral. Pjs. Gubernur BI Darmin Nasution menuturkan, pengalaman Inggris itu mestinya menjadi pelajaran dan masukan juga bagi Indonesia yang kini tengah memproses pembentukan OJK. "Bagi kami ini makin menunjukkan bahwa kita harus berani melihat bagaimana konstruksi OJK yang terbaik bagi Indonesia. BI tidak pernah mengatakan tidak perlu ada OJK, kami bisa terima ada OJK namun kami harapkan jangan yang pragmatis pokoknya harus bikin OJK," kata Darmin usai Sholat Jumat di Mesjid Baitul Ichsan Kompleks BI Jakarta, Jumat (18/6). Darmin menuturkan, BI menginginkan agar semua pihak yang berkepentingan dengan pembentukan OJK di Indonesia, mau berupaya melihat posisi BI sebagai bank sentral yang berfungsi sebagai lender of the last resort. Maksudnya, ketika nanti ada bank yang bermasalah, mau tidak mau bank tersebut pasti akan datang ke BI untuk meminta bantuan terakhir. "Tidak ada institusi lain yang punya kewenangan dan tanggung jawab itu (lender of the last resort) selain BI. Oleh karena itu jangan sampai fungsi pengawasan on site dan off site supervision itu sama sekali hilang (dari bank sentral)," tegas Darmin. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penutupan FSA Jadi Angin Segar Buat BI
JAKARTA. Keputusan pemerintah Inggris menutup Financial Supervisory Agency (FSA) menjadi angin segar bagi Bank Indonesia (BI) yang tengah berupaya mempertahankan kewenangan pengawasan perbankan agar tetap ada di bank sentral. Pjs. Gubernur BI Darmin Nasution menuturkan, pengalaman Inggris itu mestinya menjadi pelajaran dan masukan juga bagi Indonesia yang kini tengah memproses pembentukan OJK. "Bagi kami ini makin menunjukkan bahwa kita harus berani melihat bagaimana konstruksi OJK yang terbaik bagi Indonesia. BI tidak pernah mengatakan tidak perlu ada OJK, kami bisa terima ada OJK namun kami harapkan jangan yang pragmatis pokoknya harus bikin OJK," kata Darmin usai Sholat Jumat di Mesjid Baitul Ichsan Kompleks BI Jakarta, Jumat (18/6). Darmin menuturkan, BI menginginkan agar semua pihak yang berkepentingan dengan pembentukan OJK di Indonesia, mau berupaya melihat posisi BI sebagai bank sentral yang berfungsi sebagai lender of the last resort. Maksudnya, ketika nanti ada bank yang bermasalah, mau tidak mau bank tersebut pasti akan datang ke BI untuk meminta bantuan terakhir. "Tidak ada institusi lain yang punya kewenangan dan tanggung jawab itu (lender of the last resort) selain BI. Oleh karena itu jangan sampai fungsi pengawasan on site dan off site supervision itu sama sekali hilang (dari bank sentral)," tegas Darmin. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News