KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan mulai kehilangan momentum. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penyaluran KPR per Juli 2026 mencapai Rp855,9 triliun, tumbuh 4,3% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang masih tumbuh 4,4% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan penyaluran KPR masih menghadapi tekanan di tengah tingginya suku bunga dan daya beli masyarakat.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman mengatakan, pertumbuhan KPR berpotensi semakin melambat ketika suku bunga masih berada di level tinggi. Menurut dia, KPR memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan suku bunga karena tenor pembiayaannya panjang. Kenaikan bunga yang relatif kecil pun dapat meningkatkan total cicilan yang harus dibayar debitur. "Jadi, persoalan utamanya bukan kebutuhan rumah, tetapi kemampuan rumah tangga mengubah kebutuhan itu menjadi permintaan yang bankable," kata Rizal kepada kontan.co.id, Rabu (9/9/2026). Rizal menilai, tekanan paling besar akan dirasakan segmen rumah menengah. Kelompok ini umumnya tidak banyak mendapatkan subsidi, tetapi juga memiliki keterbatasan untuk membeli rumah secara tunai.
Baca Juga: Penjualan Rumah Tipe Besar Tumbuh, Pembiayaan KPR Susut pada Semester I-2026 Ketika cicilan meningkat sementara pendapatan riil tidak tumbuh secepat kenaikan beban tersebut, calon pembeli cenderung menunda pembelian, menurunkan kelas rumah, atau meningkatkan uang muka. Karena itu, menurut Rizal, persoalan keterjangkauan atau affordability menjadi semakin penting dalam mendorong pertumbuhan KPR. Rizal menilai bunga KPR perbankan masih dapat dibuat kompetitif. Namun, persaingan sebaiknya tidak hanya mengandalkan bunga promo rendah pada periode awal. "Yang lebih penting adalah effective rate jangka menengah yang terjangkau dan relatif stabil," ujarnya. Menurut dia, konsumen membutuhkan kepastian besaran cicilan, sementara bank juga perlu menjaga biaya dana. Dengan demikian, apabila terjadi penurunan suku bunga, transmisi penurunan tersebut dapat masuk ke dalam harga KPR. Hingga akhir 2026, Rizal masih melihat peluang pertumbuhan KPR. Namun, akselerasinya akan sangat bergantung pada arah suku bunga, pertumbuhan pendapatan rumah tangga, harga properti serta efektivitas insentif perumahan. Dia menilai, likuiditas perbankan relatif memadai. Artinya, tantangan utama KPR saat ini bukan kekurangan dana di perbankan, melainkan kemampuan masyarakat untuk membayar cicilan.
Baca Juga: Likuiditas Bank Ketat, Begini Bunga Floating KPR "Target pertumbuhan KPR masih realistis, tetapi akan semakin berat jika daya beli kelas menengah tetap tertekan," katanya. Perlambatan tersebut juga tercermin pada kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Hingga Juni 2026, outstanding KPR BTN mencapai Rp309,94 triliun, tumbuh 5,8% secara tahunan. Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 7,4%. Perlambatan terutama terjadi pada segmen KPR nonsubsidi. Hingga semester I-2026, outstanding KPR nonsubsidi hanya tumbuh 2% secara tahunan, jauh di bawah pertumbuhan 8,8% pada semester I-2025. Sebaliknya, KPR subsidi masih mencatatkan pertumbuhan lebih kuat. Outstanding KPR subsidi BTN hingga Juni 2026 tumbuh 8,1% secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan 6,5% pada periode yang sama tahun lalu. Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, perlambatan pasar rumah primer antara lain dipengaruhi keterbatasan pasokan rumah, termasuk persoalan perizinan lahan di sejumlah daerah. Selain itu, permintaan rumah baru dengan harga di atas Rp1 miliar masih cenderung stagnan. "Kondisi tersebut membuat kami memperluas fokus ke secondary market," ujar Nixon. BTN kini memperluas pembiayaan untuk pembelian rumah bekas, renovasi rumah hingga perluasan bangunan melalui kerja sama dengan platform digital properti seperti Pinhome dan Rumah123. "Secondary market itu termasuk membeli rumah bekas lalu direnovasi, atau hanya renovasi rumah saja, dan juga memperluas area rumah. Itu kami masuk bersama Pinhome maupun Rumah123, kami akan agresif kerja sama ini," kata Nixon.
Baca Juga: Bunga KPR Bank Konvensional Masih Tinggi, KPR Bank Syariah Jadi Primadona Perseroan berharap digitalisasi proses pengajuan KPR dapat mempercepat penyaluran pembiayaan sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru di tengah lesunya pasar rumah primer. Meski demikian, BTN masih mempertahankan target pertumbuhan kredit secara keseluruhan sebesar 8%-10% hingga akhir 2026. Di tengah perlambatan industri, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga masih mencatatkan pertumbuhan positif pada bisnis KPR. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, penetapan suku bunga kredit mempertimbangkan kondisi likuiditas, tingkat risiko, kondisi pasar serta perkembangan perekonomian secara keseluruhan. "BCA senantiasa mencermati perkembangan berbagai faktor tersebut dalam menetapkan suku bunga kredit yang kompetitif bagi nasabah, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang prudent," kata Hera. Per Juni 2026, KPR BCA mencapai Rp144,3 triliun dan masih tumbuh secara sehat. BCA pun optimistis dapat menjaga penyaluran kredit, termasuk KPR, sejalan dengan perkembangan kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat. Untuk mendorong permintaan, BCA menggelar BCA Expo 2026 secara offline di tujuh kota besar dan online melalui platform digital hingga 31 Oktober 2026. Dalam gelaran tersebut, BCA menawarkan bunga spesial KPR mulai 1,23% efektif per tahun fixed satu tahun untuk rumah baru dari mitra developer KPR BCA, dengan biaya provisi 0,81%.
BCA berharap berbagai penawaran tersebut dapat meningkatkan volume aplikasi baru, khususnya KPR dan kredit kendaraan bermotor. Hera menegaskan, BCA akan tetap mendorong penyaluran kredit secara pruden dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin.
Baca Juga: BCA Optimistis Pertumbuhan KPR Menguat pada Semester II-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News