Penyaluran Kredit Perbankan Mulai Melaju pada Tiga Bulan Pertama 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit perbankan hingga kuartal I-2026 kian melaju. Pertumbuhan outstanding kredit pada Maret 2026 lebih tinggi dari Februari 2026.

Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Maret 2026, penyaluran kredit perbankan tumbuh 9,49% secara tahunan (year on year/YoY), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37% YoY.

Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Maret 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,85% (yoy), 4,38% (yoy), dan 5,88% (yoy).


Baca Juga: Bisnis Payroll, Strategi Jitu Bank Pangkas Biaya Dana!

“Kredit terus tumbuh dengan baik dan meningkat secara bertahap sejalan dengan pemulihan ekonomi,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers RDG BI, Rabu (22/4/2026).

BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 bisa mencapai di kisaran 8%-12%.

Untuk mencapai target tersebut, BI terus memperkuat stimulus melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Hingga minggu pertama April 2026, total insentif likuiditas makroprudensial yang telah digelontorkan mencapai Rp 427,9 triliun.

Sejumlah bank juga terlihat mulai mencatatkan perbaikan pada pertumbuhan penyaluran kredit di kuartal I-2026. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, berhasil mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 1.530 triliun atau naik 17,4% secara tahunan pada kuartal I-2026. Secara kuartalan, kreditnya juga tumbuh 2,21%.

Baca Juga: Risiko Iklim Meningkat, Industri Asuransi Mengembangkan Skema Parametrik

Segmen korporasi masih menjadi penopang pertumbuhan kredit bank berlogo pita emas ini mencapai Rp 801 triliun atau tumbuh 29,2%, di susul segmen komersial yang tumbuh 13,34% mencapai Rp 325 triliun.

Memasuki kuartal II-2026, Bank Mandiri memproyeksikan ekspansi kredit tetap tumbuh sejalan dengan industri. Penyaluran kredit akan difokuskan ke sektor-sektor yang prospektif dan memiliki ketahanan tinggi, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan juga tak menampik ketidakpastian global masih tinggi dan berdampak ke kondisi domestik, termasuk ke sektor perbankan.

Di dalam negeri, tekanan harga energi dan pelemahan daya beli masyarakat juga menjadi perhatian. Kedua faktor ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko kredit, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi.

Menghadapi kondisi tersebut, Bank Mandiri memilih memperketat strategi penyaluran kredit. Perseroan fokus pada sektor yang dinilai prospektif dan tahan terhadap tekanan ekonomi, sembari meningkatkan pengawasan portofolio secara intensif.

Di sisi lain, bank ini juga memperkuat dukungan terhadap ekonomi kerakyatan melalui akselerasi pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus mendukung berbagai program strategis pemerintah.

Baca Juga: Bank Mandiri Buat Fitur Sertifikat Pengurangan Emisi di Aplikasi Livin' by Mandiri

Dengan langkah tersebut, perseroan optimistis mampu menjaga kinerja tetap solid hingga akhir tahun.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) mencatatkan penyaluran kredit senilai Rp 400,63 triliun atau naik 10,3% yoy pada kuartal I-2026 dari Rp 363,11 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Namun memang jika dilihat secara kuartalan pertumbuhan kreditnya masih stagnan.

Dari total penyaluran kredit tersebut, di segmen KPR tumbuh 5,9% yoy, korporasi tumbuh 51,9%, konsumer tumbuh 14,4% dan komersial tumbuh 12,3%.

Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengungkapkan, bank telah menetapkan target pertumbuhan kredit untuk tahun 2026 di level 10%.

Nixon menjelaskan, pada tahun ini bank memiliki setidaknya dua mesin pertumbuhan kredit, yakni fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dan kredit program perumahan (KPP).  Dengan dua produk itu, Nixon meyakini pertumbuhan kredit bank bisa makin menggeliat.

PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga optimistis kinerjanya di kuartal I-2026 tetap solid dan resilien jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya.

"Ini terlihat dari pertumbuhan DPK, intermediasi, dan kualitas aset yang tetap terjaga, serta likuiditas yang memadai di tengah dinamika pasar yang masih menantang," ungkap Corporate Secretary BRI Dhany.

Lebih lanjut Dhanny mengatakan, pertumbuhan kredit masih akan ditopang khususnya pada segmen UMKM yang menjadi kontributor utama, sejalan dengan fokus BRI pada ekonomi kerakyatan.

BRI juga berupaya menciptakan pertumbuhan baru dengan mempercepat ekspansi bisnis konsumer melalui penguatan mortgage, auto loan, optimalisasi payroll, hingga penguatan layanan wealth management.

"Disiplin dalam manajemen risiko dan selective growth juga turut menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas aset perseroan," katanya.

Jika dilihat dari laporan keuangannya, hingga Februari 2026 penyaluran kredit bank BRI berhasil tumbuh dua digit, yakni 10,49% yoy menjadi Rp 1.345,16 triliun.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan memperkirakan prospek penyaluran kredit pada kuartal II-2026 masih akan bergerak sejalan dengan dinamika global dan domestik. Trioksa melihat perbaikan yang lebih signifikan berpotensi terjadi pada semester II, dengan catatan kondisi ekonomi membaik.

“Jika kondisi global dan domestik membaik, maka kredit akan kembali tumbuh lebih kuat di paruh kedua tahun ini,” jelasnya.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, perbankan perlu menerapkan strategi yang seimbang antara ekspansi dan manajemen risiko. Salah satunya dengan menyalurkan kredit secara selektif ke sektor-sektor yang memiliki prospek dan risiko terukur.

Selain itu, bank juga perlu menjaga biaya dana tetap rendah serta meningkatkan efisiensi operasional guna menjaga daya saing dan profitabilitas di tengah tekanan pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News