Penyaluran KUR Capai Rp 169 Triliun, Perbankan Genjot Penyaluran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp 169 triliun hingga 22 Juli 2026. Penyaluran tersebut telah menjangkau 2,65 juta debitur UMKM. Pemerintah menargetkan penyaluran KUR mencapai Rp 290 triliun sepanjang 2026. Artinya, masih ada sekitar Rp 121 triliun yang harus disalurkan hingga akhir tahun. Di sisi lain, penyaluran KUR berlangsung di tengah peningkatan risiko kredit UMKM. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) UMKM mencapai 4,54% pada Juni 2026.

Baca Juga: Allianz Utama Indonesia Bukukan Total Aset Rp 1,9 Triliun sepanjang Tahun 2025 Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM sekaligus Juru Bicara Kementerian UMKM Riza Damanik mengatakan, kualitas KUR masih terjaga dengan NPL di kisaran 2%. "Melalui subsidi APBN, bunga KUR hanya sebesar 6%, jauh lebih rendah dibandingkan bunga kredit komersial yang berkisar antara 10% hingga 14% atau bahkan lebih," kata Riza di Jakarta, Senin (3/8/2026). Pemerintah juga mengarahkan lebih dari 65% penyaluran KUR ke sektor produksi, seperti pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, dan industri pengolahan. Dari total debitur, sekitar 1,1 juta merupakan debitur baru yang pertama kali mengakses pembiayaan formal, sementara 511.000 pelaku UMKM tercatat telah naik kelas. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi salah satu yang terus menggenjot penyaluran KUR. Hingga Juli 2026, realisasi penyaluran KUR Bank Mandiri mencapai Rp 25,63 triliun atau 62,5% dari target tahun ini. Senior Vice President Micro Development and Agent Banking Bank Mandiri Bayu Trisno Arief Setiawan mengatakan, penyaluran KUR tidak hanya berorientasi pada besarnya pembiayaan, tetapi juga kemampuan UMKM untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan skala bisnis. "Bagi kami, keberhasilan UMKM naik kelas merupakan indikator nyata bahwa pemberdayaan yang dilakukan memberikan dampak berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.

Baca Juga: BCA Naikkan Limit Transfer myBCA hingga Rp 500 Juta per Hari Bayu mengatakan sepanjang Januari-Juli 2026, sebanyak 56.043 debitur berhasil naik kelas atau beralih ke skema pembiayaan komersial yang lebih tinggi. Perseroan juga menjangkau 134.682 debitur baru. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat realisasi penyaluran KUR mencapai Rp 103,81 triliun hingga akhir Juni 2026. Penyaluran tersebut telah menjangkau sekitar 2 juta debitur di berbagai wilayah Indonesia. Penyaluran KUR BRI masih didominasi sektor produktif. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan porsi 42,68% dari total penyaluran, disusul sektor perdagangan sebesar 32,34%. Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, KUR menjadi salah satu instrumen strategis perseroan dalam memperkuat daya saing UMKM dan mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor produktif. “Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif, khususnya pertanian, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat basis ekonomi daerah dan mendukung agenda ketahanan pangan nasional,” ujar Akhmad dalam keterangan resmi, Kamis (13/8/2026). Dari sisi peningkatan skala usaha, sebanyak 487.000 debitur KUR BRI telah berhasil naik kelas atau graduasi hingga Juni 2026. Capaian tersebut setara 50,71% dari target graduasi BRI tahun ini sebanyak 962.000 debitur. Selain KUR reguler, BRI juga menyalurkan Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR Perumahan. Hingga Juni 2026, realisasinya mencapai Rp10,7 triliun atau sekitar 89% dari target Rp 12 triliun.


Baca Juga: Amar Bank Sambut Konsep Universal Banking, Siap Perluas Produk Adapun PT Bank BPD DIY mencatat realisasi penyaluran KUR sebesar Rp 456 miliar hingga Juni 2026. Capaian tersebut sekitar 38% dari kuota yang ditetapkan sebesar Rp 1,2 triliun. Realisasi ini turun sekitar 30,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 658 miliar. Direktur Pemasaran Bank BPD DIY R Agus Trimurjanto mengatakan, penyaluran KUR hingga semester I-2026 masih belum optimal. "Penyaluran sampai Juni kami rasakan belum optimal, hal ini dikarenakan kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Potensi tumbuhnya usaha-usaha baru belum seperti tahun-tahun lalu," kata Agus kepada Kontan, Kamis (13/8/2026). Dari sisi kualitas kredit, NPL KUR Bank BPD DIY tercatat sebesar 3,5% per Juni 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,94%. Meski demikian, Bank BPD DIY tetap menyiapkan sejumlah strategi untuk mendorong penyaluran KUR. Strategi tersebut antara lain memperkuat kapasitas dan jumlah sumber daya manusia, meningkatkan penetrasi kredit ke sektor UMKM, serta mengoptimalkan potensi supply chain dan referral dari nasabah eksisting. Bank BPD DIY juga memperluas kerja sama dengan lembaga pemerintah, instansi, komunitas sektor bisnis, serta meningkatkan hubungan kemitraan dengan kelompok UMKM. Sementara itu, Bank BPD Bali mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp 1,17 triliun hingga Juni 2026. Capaian tersebut setara 64,55% dari target penyaluran KUR tahun ini sebesar Rp 1,8 triliun. Direktur Utama Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma mengatakan, penyaluran KUR tersebut mengedepankan pembiayaan inklusif, dengan 73,31% disalurkan kepada debitur baru.

Baca Juga: Amar Bank Sambut Konsep Universal Banking, Siap Perluas Produk Pembiayaan juga diarahkan ke sektor prioritas yang mendukung kemandirian ekonomi lokal, seperti pertanian, kelautan, dan industri perajin di Bali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News