KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program rumah subsidi pemerintah hingga kuartal III 2026 belum menunjukkan penyaluran sesuai ekspektasi. Dari target 350.000 unit rumah subsidi tahun ini, realisasi yang tersalurkan baru mencapai 160.070 unit. Berdasarkan data realisasi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), jumlah tersebut setara dengan 45,73% dari target pemerintah sebanyak 350.000 unit hingga akhir kuartal III 2026. Dari total penyaluran tersebut, hanya 17 unit yang merupakan hunian vertikal. Sementara itu, sebagian besar rumah subsidi yang tersalurkan masih berupa rumah tapak.
Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai, rendahnya realisasi penyaluran rumah subsidi tidak dapat langsung disimpulkan sebagai dampak perubahan gaya hidup generasi Z yang lebih mengutamakan pengeluaran untuk liburan maupun pengalaman.
Baca Juga: Bahlil Siapkan Strategi Jaga Harga Nikel di Tengah Lonjakan Permintaan Smelter "Harus hati-hati menyimpulkan penurunan jumlah rumah subsidi karena Gen Z lebih memilih lifestyle untuk berlibur daripada membeli rumah. Menurut saya enggak sesimpel itu. Persoalan yang lebih fundamental adalah affordability dan bankability, yaitu kemampuan mereka dan apakah mereka layak dinilai oleh bank untuk bisa mencicil," ujar Ferry Rabu, (7/10/2026). Menurut Ferry, tantangan masyarakat dalam membeli rumah bukan hanya menyangkut harga properti. Kemampuan menyediakan uang muka, membayar biaya transaksi, serta menjaga kemampuan mencicil secara konsisten juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Selain itu, kelayakan calon pembeli di mata perbankan menjadi aspek penting karena sebagian besar pembelian rumah dilakukan melalui fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR). "Setiap orang pasti punya keinginan untuk memiliki rumah, tetapi masalahnya kemampuan untuk masuk ke pasar perumahan ini memang semakin sulit dan semakin berat. Jadi bukan hanya soal harga rumahnya, tapi juga kemampuan menyediakan uang muka, biaya transaksi, kemudian apakah mereka bisa konsisten mencicil setiap bulannya, dan yang paling penting apakah mereka dinilai layak oleh bank," kata Ferry. Tantangan tersebut berpotensi lebih besar bagi konsumen berusia muda yang masih berada pada tahap awal karier. Pada fase tersebut, pertumbuhan pendapatan belum tentu mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup dan kebutuhan lainnya.
Baca Juga: Kapasitas Smelter Nikel RI Tembus 320 Juta Ton, Kementerian ESDM Evaluasi Kuota Padahal, pembelian rumah merupakan keputusan finansial jangka panjang yang membutuhkan kemampuan pembayaran secara stabil. Kondisi pendapatan dan pengeluaran menjadi pertimbangan penting sebelum calon pembeli mengambil cicilan KPR. Selain tingkat penghasilan, kondisi keuangan dan riwayat kredit calon debitur juga turut menentukan akses terhadap pembiayaan perumahan. Utang konsumtif maupun pinjaman online dapat memengaruhi penilaian perbankan terhadap kemampuan calon debitur dalam membayar cicilan. Di sisi lain, perubahan pola konsumsi generasi muda tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat daya beli. Pengeluaran untuk kebutuhan harian, perjalanan, hiburan, maupun pengalaman dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengalokasikan pendapatan untuk kebutuhan jangka panjang seperti kepemilikan rumah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News