KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar lahan industri di Jabodetabek masih mencatatkan permintaan yang kuat pada kuartal III-2026. Penyerapan lahan industri mencapai 59 hektare sepanjang kuartal III-2026, sehingga mendorong tingkat hunian kawasan industri di Jabodetabek menjadi 91,6%. Berdasarkan data CBRE Indonesia, total stok lahan industri di Jabodetabek mencapai sekitar 15.600 hektare. Adapun harga lahan industri rata-rata berada di kisaran Rp 2,6 juta per meter persegi. Head of Research & Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus mengatakan, sektor industri menjadi salah satu segmen properti dengan kinerja terkuat dibandingkan sektor lainnya.
“Dari segi investasi baru, ekspansi bisnis, itu banyak di sektor manufaktur. Lalu sektor terkait FMCG, di kebutuhan obat-obatan, temrasuk 3PL logistik. Itulah yang memang menjadi driver dari perkembangan di sektor ini,” ungkap Anton, dalam acara media briefing CBRE Indonesia, pada Rabu (28/10/2026).
Baca Juga: Impor BBM dan LPG Kini Lewat BLU Lemigas, Ini Catatan Penting dari DEN Anton menjelaskan, kawasan industri yang telah berkembang seperti Cikarang dan Karawang masih menjadi pilihan pelaku usaha.
Hal ini sejalan dengan ketersediaan infrastruktur dan ekosistem industri yang matang, sehingga menjadi keunggulan kawasan tersebut dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan. Namun demikian, pertimbangan perusahaan dalam memilih kawasan industri juga kini semakin beragam. Di mana, kualitas infrastruktur dan utilitas menjadi faktor pembeda, di tengah pertumbuhan kebutuhan pusat data atau
data center. “Akses listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang dapat diandalkan semakin mempengaruhi keputusan
occupiers, terutama operator data center dan industri berbasis teknologi. Tren ini turut mendorong pertumbuhan harga lahan di lokasi industri utama,” ujarnya.
Menurut Anton, keberadaan pusat data turut mendorong kenaikan harga lahan di kawasan industri tertentu, termasuk Cikarang.
Kebutuhan terhadap pasokan listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang andal membuat operator pusat data cenderung mencari lokasi dengan infrastruktur memadai. Di sisi lain, tingginya biaya tenaga kerja di kawasan industri yang sudah mapan mendorong sebagian pelaku usaha mempertimbangkan lokasi alternatif di luar koridor industri utama Jabodetabek.
Baca Juga: Penjualan Avian (AVIA) Tumbuh 16,7% Jadi Rp 6,9 Triliun hingga Kuartal III-2026 Kawasan di wilayah Jawa lainnya berpotensi menjadi pilihan bagi industri yang lebih sensitif terhadap biaya operasional.
CBRE mencatat, potensi pasokan lahan industri mendatang di Jabodetabek mencapai sekitar 1.400 hektare. Ke depan, permintaan lahan industri diperkirakan tetap ditopang ekspansi manufaktur dan kebutuhan infrastruktur digital.
“Kualitas infrastruktur kini menjadi salah satu faktor utama dalam kawasan industri. Bagi banyak perusahaan, khususnya operator data center, utilitas yang dapat diandalkan kini sama pentingnya dengan lokasi,” ujarnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News