Penyerapan SBR015 Berpotensi Tembus Rp 25 Triliun, Begini Penjelasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seri Savings Bond Ritel (SBR) 015 yang dimulai pada Senin (28/9/2026), diproyeksikan bakal memantik antusiasme tinggi dari investor ritel domestik.

Kehadiran kupon yang lebih tinggi daripada seri sebelumnya menjadi magnet utama penyerapan dana masyarakat.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, tingkat penyerapan SBR015 diproyeksikan mampu berlayar melampaui capaian beberapa seri terdahulu.


Ia memperkirakan volume penjualan instrumen ini secara realistis dapat menembus angka belasan hingga puluhan triliun rupiah selama masa penawaran yang berlangsung hingga 22 Oktober 2026.

Baca Juga: DADA Bagikan Dividen Rp2 Miliar, Cek Jadwal Cum Dividennya

"Potensi penyerapan SBR015 cukup besar dan secara realistis dapat berada di kisaran Rp 20 triliun - Rp 25 triliun, dengan peluang lebih tinggi jika kuota ditambah dan likuiditas ritel tetap kuat," kata Syafruddin kepada Kontan, Senin (28/9/2026).

Proyeksi optimistis tersebut ditopang oleh tawaran kupon yang lebih memikat dibandingkan dengan SBR014.

Pemerintah menetapkan kupon awal SBR015T2 (tenor 2 tahun) sebesar 6,75% per tahun dengan spread tetap 100 bps di atas BI-Rate.

Sementara SBR015T4 (tenor 4 tahun) menawarkan kupon awal 6,85% per tahun dengan spread 110 bps.

Tingkat imbal hasil ini berada jauh di atas floor SBR014 yang masing-masing hanya sebesar 6,25% dan 6,35%.

Sebagai pembanding, realisasi penjualan SBR014 sebelumnya mencatatkan angka Rp 14,92 triliun, sedangkan SBR013 menyerap Rp 19,45 triliun.

Baca Juga: Saham GOTO Tertekan Usai BEI Turunkan Batas Harga Jadi Rp 1, Cek Support Berikutnya

Capaian SBR015 bahkan berpeluang mendekati rekor SBR012 yang menembus Rp 22,18 triliun sebagai salah satu penerbitan SBN ritel non tradable tertinggi.

Syafruddin menyebutkan bahwa penerapan skema floating with floor memberikan perlindungan dua arah yang sangat ideal di tengah ketidakpastian makroekonomi dan volatilitas rupiah.

Apabila BI Rate merangkak naik, kupon SBR015 akan menyesuaikan ke atas pada evaluasi tiga bulanan.

Namun, jika suku bunga acuan dipangkas, kupon tidak akan turun di bawah batas minimal.

"Daya tarik utamanya bukan hanya selisih kupon, tetapi perlindungan terhadap dua arah suku bunga: jika BI-Rate naik, kupon berpotensi ikut naik; jika BI Rate turun, investor tetap memperoleh floor tersebut," ujar Syafruddin.

Hitungan imbal hasil bersihnya pun terhitung menggiurkan. Setelah dipotong PPh final SBN sebesar 10%, imbal hasil bersih minimal SBR015 berada di level 6,08% untuk tenor 2 tahun dan 6,17% untuk tenor 4 tahun.

Baca Juga: Kuota Produksi Batubara Diperketat, Aset Batubara Strategis Jadi Sasaran Akuisisi

Nilai ini jauh lebih unggul jika disandingkan dengan rata-rata bunga bersih deposito bank umum yang masih terpotong pajak 20%.

Sebagai gambaran, simulasi investasi Rp 100 juta pada SBR015T2 menghasilkan kupon bersih sekitar Rp 506.250 per bulan, sedangkan pada SBR015T4 mencapai Rp 513.750 per bulan.

Meski tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder (non tradable), pemerintah menyediakan fasilitas early redemption dengan alokasi maksimal 50% dari total nilai pemesanan.

Berdasarkan ketentuan DJPPR Kemenkeu, periode pengajuan early redemption SBR015T2 dijadwalkan pada 27 Oktober hingga 4 November 2027 dengan pelunasan jatuh tempo pada 10 Oktober 2028.

Untuk SBR015T4, pengajuan dibuka pada 30 Oktober hingga 6 November 2028 dengan pelunasan akhir pada 10 Oktober 2030.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News