KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Jasa Marga Tbk (
JSMR) mencatat kinerja positif sepanjang Januari – September 2025. Penyesuaian tarif jalan tol diproyeksi mampu meningkatkan pendapatan JSMR di tahun 2026. JSMR mencatat pertumbuhan pendapatan yang moderat, dengan total pendapatan mencapai Rp 21,1 triliun, naik 4% secara
year on year (yoy) per kuartal III-2025. Pertumbuhan terutama didorong oleh pendapatan tol inti sebesar Rp 13,42 triliun, naik 5% yoy. Pendapatan tol inti didukung oleh peningkatan 5% yoy dalam rata-rata pendapatan tol setelah penyesuaian tarif di beberapa ruas jalan tol, meskipun terjadi sedikit penurunan volume lalu lintas (turun 0,3%).
Baca Juga: Begini Target Produksi Migas dan Listrik Medco Energi (MEDC) di 2026! “Pertumbuhan pendapatan tetap didorong oleh tarif tol yang lebih tinggi, sedikit mengimbangi penurunan lalu lintas,” ujar Sukarno Alatas, Analis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya pada 24 Desember 2025. Sementara itu, Sukarno mencatat pendapatan konstruksi tetap lemah, menurun 24% yoy menjadi Rp 6,56 triliun di tengah normalisasi proyek. Pendapatan dari segmen lain relatif stabil di Rp 1,11 triliun (turun 1% yoy). Adapun secara kuartalan, pendapatan kuartal III-2025 melonjak menjadi Rp 8,14 triliun yang didorong oleh pemulihan pendapatan konstruksi, yang naik 96% secara quarte on quarter (qoq). Dari segi profitabilitas, laba kotor dan EBITDA meningkat masing-masing sebesar 6% dan 8% yoy, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 44%. Namun, laba bersih turun 16% yoy menjadi Rp 2,73 triliun, terutama karena tekanan non-operasional (beban pajak tangguhan). Pada kuartal ke-3 tahun 2025, laba bersih semakin melemah, turun 9% qoq dan 10% yoy. Dari perspektif neraca, JSMR mempertahankan posisi keuangan yang solid, dengan total aset meningkat 10% yoy menjadi Rp 155,0 triliun, meskipun Return on Equity (ROE) dan Return on Assets (ROA) melemah masing-masing menjadi 6% dan 2%. Secara keseluruhan, kinerja operasional tetap tangguh, tetapi pemulihan pendapatan terus tertinggal. Sukarno menyoroti penyesuaian tarif tol tahun 2025 yang tetap menjadi katalis pendapatan utama bagi JSMR. Kenaikan tarif sebesar 3,5% sampai 11,4% di beberapa ruas jalan tol diperkirakan akan secara langsung meningkatkan pendapatan rata – rata jalan tol, dengan rute-rute utama tambahan yang sebelumnya ditunda dan dijadwalkan untuk penyesuaian pada kuartal IV – 2025. Ini memperpanjang potensi kenaikan hingga tahun fiskal 2026. Mengingat elastisitas lalu lintas yang rendah, dampaknya terhadap volume diperkirakan akan terbatas, mendukung prospek positif untuk pendapatan, arus kas, dan margin. “Kenaikan tarif mendukung prospek jangka menengah, meskipun leverage yang tinggi membatasi fleksibilitas neraca,” kata Sukarno. Arnanto Januri, Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia menyoroti isu divestasi jalan tol milik Waskita Karya Tbk (WSKT) ke dalam portofolio Jasa Marga. Dia memperkirakan dampak skenario terburuk. WSKT tercatat memiliki 10 konsesi jalan tol, dengan total panjang 479 km, dimana 25% masih dalam tahap konstruksi.
Baca Juga: Komitmen Terapkan ESG, Cek Rekomendasi Saham Jasa Marga (JSMR) Sebagian besar jalan tol yang beroperasi merugi, dengan kerugian bersih sekitar Rp 1,4 triliun per tahun menurut perhitungan JP Morgan Sekuritas Indonesia, atau setara dengan sekitar 40% dari perkiraan pendapatan tahun 2026 untuk JSMR, dengan asumsi semua hal lainnya sama. Bagian jalan tol yang belum selesai dapat menambah belanja modal tambahan sekitar Rp 15 triliun untuk JSMR, yang menunjukkan tambahan utang sebesar Rp 10 triliun dengan asumsi struktur modal utang 70% dan ekuitas 30%. Angka ini dapat mendorong rasio utang bersih JSMR menjadi 2,2x dibandingkan dengan 1,9x saat ini dan puncaknya 3x pada tahun 2020. “Kami berhipotesis bahwa pasar melebih-lebihkan probabilitas (lebih dari 50%) transfer aset (divestasi) dari WSKT, dan kami melihat ini sebagai hal yang berlebihan,” kata Arnanto dalam risetnya pada 17 November 2025.
Baca Juga: Begini Upaya BEI Jaga Pasar Saham RI Agar Tak Turun Kasta Imbas Keputusan MSCI Analis Maybank Sekuritas, Etta Rusdiana Putra mengatakan, skor Environmental, Social, and Governance (ESG) JSMR sebesar 39 berada di bawah benchmark Maybank 50, terutama tertekan oleh indikator kuantitatif lingkungan seperti peningkatan intensitas emisi, energi, dan air, seiring bertambahnya panjang jalan tol dan volume lalu lintas. “Meski demikian, terdapat peluang perbaikan melalui inisiatif seperti daur ulang air dan penggunaan energi terbarukan,” ujar Etta kepada Kontan, Rabu (28/1/2026). Etta menambahkan JSMR menunjukkan komitmen ESG melalui tiga jalan tol PROPER emas, pembentukan Komite Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, serta target jangka panjang penurunan emisi 10% hingga 2029. Inisiatif stasiun pengisian electric vehicle (EV) di 52 lokasi juga mendukung mobilitas hijau. Sukarno percaya valuasi JSMR tetap menarik, didukung oleh peningkatan margin operasional, pertumbuhan pendapatan tol yang konsisten, dan perluasan infrastruktur jangka panjang. Adapun risiko negatif utama meliputi perubahan kebijakan pemerintah, penundaan implementasi tarif tol, gangguan operasional, variabilitas kontribusi pendapatan non-tunai, risiko likuidasi anak perusahaan, penundaan proyek, dan biaya bunga yang lebih tinggi. Sukarno memproyeksikan pendapatan dan laba bersih JSMR tahun 2025 masing-masing mencapai Rp 28,7 triliun dan Rp 4,5 triliun. Tahun 2026, pendapatan diproyeksi mencapai Rp 30,8 triliun dan laba bersih Rp 4 triliun. Adapun pada tahun 2024, JSMR mengantongi pendapatan Rp 28,7 triliun dan laba bersih Rp 4,5 triliun.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound pada Kamis (29/1), Ini Saham Rekomendasi Analis Sukarno dan Etta merekomendasikan
buy saham JSMR dengan target harga masing-masing Rp 5.300 per saham dan Rp 6.000 per saham. Sedangkan Arnanto merekomendasikan
overweight saham JSMR dengan target harga Rp 5.175 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News