PepsiCo Lampaui Ekspektasi Pendapatan Berkat Minuman Tanpa Gula dan Produk Sehat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PepsiCo membukukan pendapatan kuartal II yang melampaui ekspektasi pasar, ditopang kuatnya permintaan terhadap minuman tanpa gula, soda prebiotik, dan camilan tinggi protein. 

Kinerja tersebut berhasil menutupi pelemahan penjualan bisnis makanan di Amerika Utara yang terdampak pengetatan belanja konsumen.

Pada kuartal II, pendapatan PepsiCo tumbuh 6,4% secara tahunan menjadi US$ 24,18 miliar, lebih tinggi dari proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan menjadi US$ 23,95 miliar.


Laba inti per saham juga meningkat menjadi US$ 2,20 dari US$ 2,12 pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Jerman Borong Rudal Tomahawk AS, Perkuat Pertahanan Jarak Jauh

Meski mencatatkan kinerja positif, PepsiCo masih menghadapi tekanan biaya operasional.

Perusahaan memperkirakan inflasi biaya bahan baku akan meningkat pada paruh kedua tahun ini seiring tingginya harga minyak akibat konflik Iran, yang turut mendorong kenaikan biaya kemasan dan logistik.

Chief Financial Officer PepsiCo Steve Schmitt mengatakan, klaim pengembalian tarif impor yang dibayarkan tahun lalu serta peningkatan efisiensi operasional diharapkan dapat membantu meredam kenaikan biaya tersebut.

Di sisi lain, PepsiCo juga berupaya mengembalikan minat konsumen di Amerika Utara dengan memangkas harga sejumlah produk, seperti Lay's dan Doritos, hingga 15%. 

Langkah ini ditempuh karena konsumen semakin sensitif terhadap harga dan mulai beralih ke produk yang lebih murah maupun kemasan yang lebih kecil di tengah inflasi yang masih tinggi.

Baca Juga: Iran Klaim Proyektil AS Menghantam Area Sekitar Pembangkit Nuklir Bushehr

Selain strategi harga, perusahaan terus memperbarui portofolio produknya dengan menghadirkan pilihan yang lebih sehat. Beberapa di antaranya adalah Gatorade Lower Sugar yang rendah gula, Propel Powder, serta Quaker Protein Rice Crisps yang kaya protein untuk menjawab tren gaya hidup sehat.

Namun, bisnis makanan PepsiCo di Amerika Utara masih mencatatkan penurunan penjualan sebesar 2%, terutama akibat turunnya harga jual bersih efektif.

Chief Executive Officer PepsiCo Ramon Laguarta mengatakan tekanan terhadap daya beli konsumen masih membayangi pasar domestik.

"Hasil kuartal ini dipengaruhi oleh melambatnya kinerja kategori makanan dan minuman di Amerika Serikat seiring anggaran belanja konsumen yang semakin ketat akibat tekanan inflasi," ujarnya.

Untuk keseluruhan tahun fiskal 2026, PepsiCo mempertahankan proyeksinya.

Baca Juga: India Hapus Bea Masuk untuk Komponen Barang Elektronik & Ponsel Pintar!

Perusahaan masih memperkirakan pertumbuhan pendapatan organik sebesar 2% hingga 4%, sementara laba inti per saham dalam mata uang konstan diproyeksikan meningkat 4% hingga 6%.

Analis eMarketer Suzy Davidkhanian menilai tantangan terbesar PepsiCo saat ini bukan lagi membangun merek yang kuat, melainkan menjaga agar merek-merek tersebut tetap relevan dengan perubahan preferensi konsumen yang semakin mengutamakan pilihan produk yang lebih sehat dan bernilai.