JAKARTA. Volume ekspor produk mutiara sepanjang Januari-Agustus 2010 meningkat hampir empat kali lipat dibanding volume ekspor periode sama tahun lalu. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, selama delapan bulan pertama tahun ini, ekspor produk mutiara mencapai 621 ton. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlahnya hanya 159 ton. Direktur Pemasaran Luar Negeri KKP Saut P. Hutagalung bilang, naiknya volume ekspor mutiara dan produk sampingannya dipicu meningkatnya produksi budi daya mutiara di Indonesia. “Kalau produksinya naik, ekspor pasti naik,” katanya kepada KONTAN, Senin (15/10).Dari jumlah ekspor sebanyak 621 ton tadi, ekspor mutiara sendiri hanya 4,77 ton. Adapun sisanya, yang merupakan porsi terbesar, adalah produk sampingan, yaitu kulit kerang penghasil mutiara. Bambang Setiawan, Wakil Ketua Bidang Organisasi Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI) bilang, kenaikan ekspor mutiara lebih banyak terjadi pada produk sampingan, yaitu kulit kerang yang banyak digunakan untuk aksesori pakaian. Negara tujuan ekspor utama kulit kerang adalah Italia, Spanyol dan Korea Selatan.Adapun mutiara Indonesia , menurut Ketua Dewan Pakar ASBUMI Soenan H. Purnomo, sekitar 70% diekspor ke Jepang. “Mereka yang pertama kali mengajari kita budi daya mutiara,” katanya. Di Jepang, mutiara asal Indonesia diolah menjadi perhiasan untuk konsumsi lokal atau di ekspor. Mutiara Indonesia juga dikirim ke Eropa dan Australia. Selain itu, sejumlah pengusaha Indonesia menjalin kerja sama dengan pengusaha mutiara di Australia. Mereka sepakat memperdagangkan South Sea Pearl, jenis mutiara terbaik di dunia.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Per Agustus, ekspor mutiara naik empat kali lipat
JAKARTA. Volume ekspor produk mutiara sepanjang Januari-Agustus 2010 meningkat hampir empat kali lipat dibanding volume ekspor periode sama tahun lalu. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, selama delapan bulan pertama tahun ini, ekspor produk mutiara mencapai 621 ton. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlahnya hanya 159 ton. Direktur Pemasaran Luar Negeri KKP Saut P. Hutagalung bilang, naiknya volume ekspor mutiara dan produk sampingannya dipicu meningkatnya produksi budi daya mutiara di Indonesia. “Kalau produksinya naik, ekspor pasti naik,” katanya kepada KONTAN, Senin (15/10).Dari jumlah ekspor sebanyak 621 ton tadi, ekspor mutiara sendiri hanya 4,77 ton. Adapun sisanya, yang merupakan porsi terbesar, adalah produk sampingan, yaitu kulit kerang penghasil mutiara. Bambang Setiawan, Wakil Ketua Bidang Organisasi Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI) bilang, kenaikan ekspor mutiara lebih banyak terjadi pada produk sampingan, yaitu kulit kerang yang banyak digunakan untuk aksesori pakaian. Negara tujuan ekspor utama kulit kerang adalah Italia, Spanyol dan Korea Selatan.Adapun mutiara Indonesia , menurut Ketua Dewan Pakar ASBUMI Soenan H. Purnomo, sekitar 70% diekspor ke Jepang. “Mereka yang pertama kali mengajari kita budi daya mutiara,” katanya. Di Jepang, mutiara asal Indonesia diolah menjadi perhiasan untuk konsumsi lokal atau di ekspor. Mutiara Indonesia juga dikirim ke Eropa dan Australia. Selain itu, sejumlah pengusaha Indonesia menjalin kerja sama dengan pengusaha mutiara di Australia. Mereka sepakat memperdagangkan South Sea Pearl, jenis mutiara terbaik di dunia.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News