PER IHSG Murah Menjadi Daya Tarik Investor Asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio harga saham terhadap laba alias price to earnings ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada di 16,11 kali.

Research Analyst Reliance Sekuritas Lukman Hakim mencermati, sekarang ini IHSG kembali mendekati harga tertinggi sepanjang waktu atau all time high (ATH) yang didorong oleh kenikan saham big cap maupun small cap.

Selain itu, pergerakan IHSG juga tertopang oleh euforia investor terkait kenikan beberapa harga komoditas yang membuat harga sahamnya terapresiasi. 


"Kenaikan IHSG ini dapat dikatakan sehat di tengah pertumbuhan laba yang solid, sehingga PER IHSG terbilang masih murah," tutur Lukman kepada Kontan.co.id, Selasa (6/9).

Baca Juga: Menguat 9,90% dari Awal Tahun, Bagaimana Valuasi IHSG Sekarang?

Ia melanjutkan, IHSG masih undervalued sehingga memiliki ruang gerak seiring dengan pertumbuhan laba yang solid setelah pandemi Covid-19. Lihat saja, apabila dijajarkan dengan bursa saham yang ada di Asia lainnya IHSG memiliki PER yang lebih rendah ketimbang bursa Thailand yang memiliki PER 16.64 kali, Philippines dengan PER 17.33 kali, Malaysia yang memiliki PER 16.43 kali.

Berkaca pada tahun lalu, IHSG berhasil mencetak pertumbuhan 10,1%. Lukman melihat, pada tahun tahun ini IHSG masih berpotensi bertahan di atas 7.200 didukung oleh harga komoditas batu bara yang menjadi andalan Indonesia.

Dari segi inflow investor asing juga masih solid, jadi dapat mendorong penguatan IHSG, khususnya saham-saham big cap seperti dari sektor perbankan.  "Jika melihat data ekonomi Indonesia juga cenderung unggul jika dibandingkan dengan negara tetangga," imbuh Lukman.

Hanya saja, ia menyarankan pelaku pasar harus memperhatikan tingkat inflasi di dalam negeri setelah pemerintah menaikkan harga BBM. Selanjutnya, pelemahan rupiah yang berpotensi membuat adanya outflow investor asing jadi katalis negatif.

Dari jajaran saham-saham di indeks LQ45, Lukman menjagokan saham dari sektor perbankan yakni BBRI, kemudian dari sektor energi meliputi HRUM, ADRO dan PTBA sejalan dengan kenaikan harga komoditas batubara.

Baca Juga: Harga BBM Naik, Sektor Apa Saja yang Diuntungkan dan Dirugikan?

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menambahkan, dengan valuasi IHSG yang terbilang murah maka menjadi daya tarik bagi investor asing. Berdasarkan RTI, investor asing hari ini masih mencatatkan beli bersih Rp 549,79 miliar di seluruh pasar. Dalam sepekan net buy asing sudah sebesar Rp 2,78 triliun.

"Investor asing yang hendak memanfaatkan kenaikan harga komoditas cenderung akan menempatkan dananya di Indonesia, jadi selama commodity rally masih terjadi, harusnya Indonesia adalah negara tujuan investasi yang sangat baik," pungkas Frankie.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi