Per Juli, ekspor film tembus Rp 13 M



JAKARTA. Setelah tahun lalu mengalami lesu darah, kini industri perfilman kita mulai bangkit lagi. Tak percaya? Tengok saja data yang dirilis Kementerian Perdagangan (Kemdag).Sepanjang Januari-Juli tahun 2010, ekspor produk sinematografi (film) mencapai US$ 1,4 juta atau sekitar Rp 13 miliar. Angka itu tumbuh 69,35% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang US$ 858.427. Angka tersebut sudah hampir menyamai ekspor produk film sepanjang tahun 2009 yang mencapai US$ 1,7 juta.Meski mulai bangkit lagi, pemerintah tetap belum berani muluk-muluk mematok target nilai ekspor film. "Yang kami fokuskan adalah meningkatkan kualitas film Indonesia agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri," kata Tjetjep Suparman, Direktur Jenderal (Dirjen) Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Budaya dan Pariwisata, Senin (18/10).Laporan Kemdag memang menunjukkan bahwa kendati bisnis ini berkembang, ketergantungan pada impor masih sangat besar. Hal itu tercermin dari tingginya nilai impor produk sinematografi Januari-Juli yang mencapai US$ 42,6 juta. Khusus di bulan Juli, impor produk sinematografi mencapai US$ 6,7 juta, naik 4,6% dari Juni sebesar US$ 6,4 juta.Besarnya ketergantungan sinematografi pada impor diakui Noorca Massardi, juru bicara jaringan bioskop 21. Ia menjelaskan, saban tahun, bioskop 21 memutar sekitar 100 -120 judul film impor dan hanya sedikit yang lokal. "Untuk mendorong film nasional, kami komitmen memutar semua film Indonesia," ujarnya.Raam Punjabi, Ketua Umum Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) mengungkapkan, jumlah film impor masih membanjiri Indonesia karena pemerintah kurang mendukung ekspor film Indonesia. Buktinya, pemerintah selama ini kurang aktif melakukan pemasaran film Indonesia. "Kalau ada produser yang mengekspor filmnya untuk diputar secara komersial di bioskop atau mengikuti festival, sudah pasti itu dibiayai oleh kantong pengusaha sendiri," ungkap Raam yang juga menjabat Presiden Direktur Tripar Multivision Plus Ltd, Senin (18/10). Raam yakin, jika pemerintah aktif melakukan pemasaran film Indonesia, ekspor film akan tumbuh lebih pesat. Apalagi, menurut Raam, peluang diterimanya film Indonesia di pentas global sangat besar. Dari segi isi, misalnya, konten cerita tidak kalah dengan film asing.Selain itu, produktivitas industri perfilman juga sudah jauh lebih meningkat. Pada 2004, misalnya, produksi film layar lebar hanya mencapai 21 judul. Tahun 2009, produksi film meningkat hingga 90 judul. Tahun ini film layar lebar diprediksi akan tumbuh 15,5% menjadi 104 judul.Tripar Multivision Plus, sebagai misal, tahun ini memproduksi 12 judul film. Dari jumlah itu, sebanyak dua film akan diterbangkan ke AS. Film yang akan diekspor ke Negeri Uwak Sam itu berjudul "Sang Pencerah" dan "Obama Anak Menteng". Agar bisa unjuk gigi di panggung internasional, Multivision menggabungkan diri dalam MIPTV dan MIPCOM, tempat pemasaran film dan media internasional. "Kami termasuk perusahaan yang hadir tiga kali setahun di panggung internasional," terang Raam.Pemerintah membantah disebut kurang aktif membantu pemasaran film Indonesia. Menurut Tjetjep, pemerintah sudah berupaya mempromosikan film Indonesia di luar negeri. "Contohnya saat Festival Film Cannes 2010 di Prancis, kami turut mempromosikan sekitar 22 film Indonesia di sana," ujar Tjetjep.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: