KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah saham data center tercatat memiliki valuasi premium. Hal ini terlihat dari tingginya Price to Earning Ratio (PER) dan/atau Price to Book Value (PBV) sejumlah emiten. Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) misalnya memiliki PER 328,01x dan PBV 101,43x. Saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) memiliki PER – 1.002,69x dan PBV 249,76. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, saham data center cenderung mendapatkan valuasi premium karena investor tidak semata-mata menilai kinerja keuangan saat ini. Akan tetapi juga melakukan pricing-in terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang industri seiring akselerasi digitalisasi, kebutuhan cloud computing, artificial intelligence (AI), hyperscaler, serta peningkatan kebutuhan kapasitas penyimpanan dan pemrosesan data.
Baca Juga: Wijaya Karya Beton (WTON) Dorong ESG Jadi Sumber Pertumbuhan Bisnis Baru “Selain itu, jumlah emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap bisnis data center di BEI masih relatif terbatas, sehingga terdapat unsur kelangkaan (scarcity premium) yang dapat mendorong valuasi,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (9/9/2026). Namun, Nafan melihat valuasi yang sangat ekstrem seperti PER ratusan kali atau PBV puluhan hingga ratusan kali tetap mengandung risiko overvaluation dan potensi terbentuknya bubble apabila ekspektasi pertumbuhan sudah terlalu jauh meninggalkan fundamental. Jadi, premium valuation masih dapat dibenarkan jika didukung pertumbuhan pendapatan, EBITDA, laba, utilisasi kapasitas, kontrak jangka panjang, dan return on invested capital yang kuat, tetapi perlu diwaspadai apabila kenaikan harga lebih banyak ditopang sentimen dan spekulasi. Apabila terjadi
bubble pada saham data center dan kemudian pecah, Nafan menyebut dampak awal kemungkinan paling terasa pada emiten-emiten yang valuasinya paling tinggi dan memiliki free float serta likuiditas yang memadai. Jika koreksinya meluas, sentimen tersebut dapat menekan IHSG melalui transmisi wealth effect, penurunan risk appetite, aksi profit taking, serta perpindahan dana investor dari saham teknologi/infrastruktur digital ke sektor yang memiliki valuasi lebih defensif. “Kendati demikian, saya melihat dampaknya terhadap pasar secara keseluruhan akan sangat bergantung pada bobot kapitalisasi saham data center di IHSG dan seberapa luas koreksi tersebut menyebar,” ucap Nafan. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Budi Frensidy mencatat bahwa DCII sendiri memiliki 9 data center, kapasitas shell 132 MW dan potensi pengembangan lebih dari 2.000 MW. Namun pada PER ratusan kali dan PBV di atas 100 kali, menurutnya sebagian besar karena pertumbuhan bertahun-tahun ke depan sudah masuk ke harga. Jadi risiko bubble tetap ada apabila pertumbuhan laba, utilisasi maupun ekspansi kapasitas akhirnya tidak mampu mengejar ekspektasi harga saham. Sementara untuk saham MGLV risikonya bahkan lebih tinggi karena transformasi menjadi AI data center baru disetujui pada September 2026 dan masih akan melalui rights issue, akuisisi serta pembangunan kapasitas baru. Jadi harga saham MGLV saat ini lebih banyak merefleksikan future
expectation daripada
existing earnings.
Baca Juga: Penjualan SR025 Tenor Lima Tahun Baru 48% dari Target, Tenor 3 Tahun Lebih Diminati Terkait potensi apabila terjadi bubble, Budi melihat dampaknya terhadap IHSG masih relatif terkendali. Meski DCII mempunyai kapitalisasi pasar sekitar Rp 477 triliun atau sekitar 4,2% dari kapitalisasi BEI, tetapi IHSG sekarang menggunakan metode
capped free-float adjusted market capitalization. Sehingga pengaruh aktualnya terhadap indeks lebih kecil daripada kapitalisasi pasar nominalnya. “Yang lebih perlu diwaspadai adalah
contagion effect: koreksi tajam bisa membuat investor melakukan
repricing terhadap saham-saham bertema AI, teknologi dan
growth lainnya,” jelas Budi. Sementara mengenai indikator bubble mulai pecah, Nafan mengatakan bahwa sinyal awal yang perlu diperhatikan investor antara lain kenaikan harga yang jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan dan laba, pelebaran PER/PBV tanpa revisi fundamental yang sepadan, valuasi yang semakin sulit dijustifikasi dengan proyeksi arus kas. Lalu, meningkatnya volatilitas dan volume transaksi spekulatif, aksi jual oleh pemegang saham utama/insider, serta mulai munculnya penurunan target harga atau revisi turun proyeksi earnings. “Investor juga perlu mencermati apakah ekspansi kapasitas benar-benar menghasilkan
cash flow dan tingkat utilisasi yang memadai, bukan sekadar pertumbuhan kapasitas,” terang Nafan. Adapun, bagi investor ritel yang sudah masuk pada valuasi premium, menurut Nafan pendekatannya harus lebih disiplin terhadap manajemen risiko daripada mengejar target harga semata. Investor perlu mengevaluasi kembali investment thesis. Yakni apakah kenaikan harga masih didukung pertumbuhan fundamental atau sudah terlalu bergantung pada ekspektasi.
Baca Juga: Harga Emas Masih Konsolidasi, Berpeluang Kembali Bullish di Akhir 2026 Jika valuasi semakin tidak rasional, melakukan
profit taking secara bertahap dapat menjadi pilihan untuk mengurangi
downside risk, khususnya apabila posisi sudah menghasilkan keuntungan signifikan. Investor juga sebaiknya tidak melakukan
average down secara otomatis ketika harga terkoreksi, karena saham dengan valuasi ekstrem masih dapat mengalami multiple contraction yang besar. Sebaliknya, tetap lakukan diversifikasi portofolio dan tetapkan batas risiko (risk limit/stop loss) sesuai profil investasi. “Kuncinya, jangan hanya melihat prospek industri data center yang memang sangat menarik, tetapi juga harus membedakan antara prospek bisnis yang bagus dengan harga saham yang sudah terlalu mahal,” tutur Nafan. Sementara Budi menyarankan investor yang sudah masuk pada valuasi premium saham data center, sebaiknya tidak menambah posisi hanya karena momentum harga. Menurutnya, investor dapat melakukan
partial profit taking jika porsinya sudah terlalu besar, gunakan
trailing stop, dan batasi
exposure sesuai toleransi risiko. “Yang paling penting adalah kembali melihat fundamental: pertumbuhan revenue dan EBITDA, utilisasi kapasitas, contracted MW,
capital expenditure, utang, arus kas dan valuasi dibandingkan perusahaan data center sejenis” ujar Budi.
Baca Juga: Morgan Stanley Borong Saham GOTO di Harga Rp 25, Nilai Transaksinya Rp 547 Miliar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menjelaskan risiko yang terkait dengan ekosistem data center di Indonesia. Pertama, ekspektasi berlebihan, kapasitas yang masih direncanakan dinilai seolah sudah beroperasi, terisi pelanggan dan menghasilkan arus kas. Pasar pada akhirnya akan membedakan antara pengumuman dan realisasi laba.
Kedua, keterlambatan penyambungan listrik, gangguan pasokan gas, perubahan tarif, mahalnya listrik cadangan, keterbatasan air dan kenaikan biaya konstruksi. Ketiga, kelebihan pasokan data center, ketergantungan pada sedikit pelanggan, perubahan teknologi yang cepat, tingkat keterisian rendah dan tekanan neraca akibat belanja modal besar. Keempat, risiko emisi karbon, gas meningkatkan keandalan listrik, tetapi dapat bertentangan dengan target penurunan emisi pelanggan global jika tidak dipadukan dengan efisiensi, energi terbarukan atau baterai. “Risiko saham: valuasi mahal, likuiditas rendah, porsi saham publik terbatas dan struktur kepemilikan yang kurang menguntungkan pemegang saham minoritas dapat menghapus manfaat dari tema fundamental yang benar,” ucap Liza. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News