Peraih Nobel James Robinson Sebut Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8% Tak Mudah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Peraih Nobel Ekonomi 2024 James A. Robinson menilai, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% per tahun bukanlah sasaran yang mudah dicapai. Pasalnya, hanya sedikit negara di dunia yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi pada level tersebut dalam jangka panjang.

Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% pada 2029.

Robinson mengatakan, secara teori pertumbuhan ekonomi dapat ditopang oleh investasi, tabungan, akumulasi modal manusia, adopsi teknologi, dan inovasi. Namun, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar akumulasi modal dan kemajuan teknologi.


Baca Juga: 12,3 Juta Usaha di RI Berpotensi Naik Kelas, tapi Terhambat Sejumlah Persoalan

“Tidak banyak kasus di mana negara-negara (bisa) tumbuh 8% per tahun. Jadi apa artinya? Artinya itu sulit,” ujar Robinson dalam agenda Prasasti Indonesia Policy Forum 2026, Selasa (13/10/2026).

Dia menjelaskan, sejumlah negara di Asia berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 8% selama beberapa dekade. Korea Selatan mencatatkan capaian tersebut pada dekade 1960-an, 1970-an, dan 1980-an. Sementara itu, Singapura mencapainya pada dekade 1960-an dan 1970-an, sedangkan Jepang pada dekade 1950-an dan 1960-an.

Meski demikian, Robinson mengingatkan bahwa keberhasilan negara-negara tersebut tidak berarti pertumbuhan ekonomi tinggi mudah dicapai oleh negara lain.

Menurut Robinson, kawasan Asia memiliki lebih banyak contoh negara yang berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi dibandingkan dengan kawasan lain, termasuk Amerika Latin. Namun, pencapaian tersebut tetap membutuhkan fondasi ekonomi dan kelembagaan yang kuat.

Dia juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam sebagai salah satu faktor yang membedakan keberhasilan pertumbuhan antarnegara. Kekayaan sumber daya alam dapat menjadi modal pembangunan apabila dikelola dan diinvestasikan secara produktif, termasuk untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat institusi.

Sebaliknya, negara yang hanya mengandalkan ekstraksi sumber daya alam atau kenaikan harga komoditas berisiko mengalami perlambatan ketika harga turun atau aktivitas ekstraksi berkurang.

Baca Juga: Kementrans Buka Peluang Hilirisasi Komoditas Pertanian &Kelautan lewat Mitra Tiongkok

Lebih lanjut, Robinson menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh investasi, pembangunan sumber daya manusia, dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas institusi yang membentuk insentif serta peluang bagi masyarakat.

“Di balik semua hal ini, hal-hal baik ini, seperti investasi dalam modal manusia dan perubahan teknologi, adalah institusi, aturan-aturan,” ujar Robinson.

Dia menjelaskan, institusi ekonomi dapat dibedakan menjadi institusi inklusif dan institusi ekstraktif. Institusi inklusif menciptakan kesempatan ekonomi yang luas bagi masyarakat untuk berwirausaha, berinvestasi, dan berinovasi. Sebaliknya, institusi ekstraktif cenderung membatasi akses terhadap peluang ekonomi.

Robinson menilai, institusi yang tepat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung investasi dan transformasi ekonomi secara cepat. Karena itu, upaya Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi 8% per tahun perlu disertai penguatan institusi yang mampu memperluas kesempatan ekonomi dan mendorong produktivitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: