KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memproyeksikan potensi penghematan anggaran belanja subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam APBN 2026 mencapai Rp 54,2 triliun melalui kombinasi kebijakan
work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan sektor swasta, serta implementasi biodiesel B50. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan WFH memberikan kontribusi langsung terhadap efisiensi anggaran. "Penerapan kebijakan
Work From Home ini, potensi penghematan yang langsung ke APBN sebesar Rp 6,2 triliun," ujarnya saat konferensi pers, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga: Transportasi Publik Terbaik di Asia, Cek Posisi Indonesia di Daftar Top 10 Namun, pengurangan konsumsi BBM tidak cukup hanya melalui pasokan. Perubahan pola mobilitas masyarakat menjadi kunci. Penggunaan transportasi publik secara masif, terutama di kota besar, dinilai paling efektif menekan konsumsi BBM. Pengamat tata kota, Yayat Supriyatna, menekankan peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi massal di wilayah padat seperti Jabodetabek memiliki dampak signifikan. "Peralihan secara masif di kota besar akan efektif menekan konsumsi BBM, karena volume kendaraan sangat tinggi," kata Yayat dalam keterangannya seperti dikutip, Rabu (1/4/2026). Menurut Yayat, infrastruktur transportasi publik di Jabodetabek saat ini relatif memadai, termasuk MRT, LRT, KRL, TransJakarta, dan mikrotrans, sehingga masyarakat hanya perlu menyesuaikan waktu dan kebiasaan. Di daerah, tantangan berbeda muncul. Keterbatasan layanan transportasi publik membuat penghematan BBM tidak bisa hanya mengandalkan infrastruktur.
Baca Juga: Negara di Dunia Ramai-Ramai Tekan Harga BBM akibat Perang Iran, RI Apa Kabar? Yayat menyarankan pembangunan budaya mobilitas baru, termasuk mendorong aktivitas berjalan kaki dan optimalisasi transportasi kolektif bagi pegawai. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi pada hari tertentu, khususnya bagi ASN, juga dinilai langkah konkret. Dorongan penghematan BBM penting di tengah tren konsumsi energi yang terus meningkat. Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi BBM nasional mencapai 232.417 kiloliter per hari hingga September 2025, dengan porsi impor masih besar, terutama bensin yang mencapai 49,64%.
Permintaan bensin juga meningkat menjadi 105.432 kiloliter per hari, sementara konsumsi solar menurun menjadi 72.308 kiloliter per hari.
Baca Juga: Penerapan Etanol E10, Diprediksi Dapat Tekan Konsumsi BBM 4,2 Juta Kiloliter Kondisi ini menunjukkan ketergantungan terhadap BBM masih tinggi. Peralihan ke transportasi publik, didukung kebijakan dan perubahan perilaku, dinilai kunci menekan konsumsi sekaligus mengurangi kemacetan dan beban impor energi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News