Perang Iran-Israel Guncang Pasar Global, Cek Saham-Saham yang Berpeluang Meroket



KONTAN.CO.ID - Eskalasi perang Iran dan Israel berpotensi mengguncang pasar keuangan global dan menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah.

Lonjakan harga energi, sentimen risk-off, hingga pelemahan nilai tukar rupiah bisa memicu koreksi tajam di pasar saham domestik.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan konflik di Timur Tengah akan memberikan tekanan pada sektor industri dasar, serta sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi ini bakal menekan pergerakan IHSG.


Menurutnya, China merupakan salah satu konsumen utama minyak Iran, dengan sekitar 13 persen dari total impor minyak berasal dari negara tersebut. Jika pasokan terganggu akibat konflik, biaya energi di China berpotensi melonjak tajam.

“Eskalasi ini diprediksi akan memberikan tekanan signifikan pada sektor industri dasar (basic industry), serta sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Kenapa? China saat ini mengandalkan sekitar 13 persen dari total impor minyak jalur lautnya dari Iran,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

Kenaikan biaya energi akan mendorong meningkatnya ongkos produksi industri di China, yang pada akhirnya bisa memperlambat pertumbuhan ekonominya.

Mengingat China merupakan mitra dagang utama Indonesia, perlambatan ekonomi Tirai Bambu akibat tingginya biaya energi akan berdampak langsung pada penurunan permintaan terhadap ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas dan produk industri berbasis bahan baku.

Baca Juga: Tagihan SPayLater: Cara Praktis Bayar Lewat Livin' Mandiri, Anti Ribet

“Gangguan pada pasokan ini akan memicu lonjakan biaya energi dan biaya produksi di China. Sebagai mitra dagang utama Indonesia, perlambatan ekonomi di China akibat tingginya biaya energi akan langsung memukul permintaan ekspor kita,” paparnya.

Tekanan tidak berhenti di situ.

Emiten domestik yang mengimpor bahan baku dalam denominasi dollar AS juga menghadapi risiko double blow.

Pertama, kenaikan harga bahan baku global akibat supply shock.

Kedua, potensi pelemahan rupiah akibat arus modal keluar dan meningkatnya sentimen risk-off.

“Emiten yang mengimpor bahan baku dalam denominasi dollar AS akan menghadapi double blow: kenaikan harga bahan baku secara global dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah akibat risk-off sentiment,” beber Azharys.

Namun, di tengah tekanan tersebut, terdapat sektor yang justru berpotensi diuntungkan.

Baca Juga: Lupa Username BRImo? Ini Cara Cek Kembali Tanpa Perlu ke Bank

Ia menilai sektor minyak dan gas (oil & gas) memiliki peluang mendapat katalis positif dari eskalasi konflik.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur hampir 30 persen perdagangan minyak dunia, merupakan titik krusial. Jika terjadi gangguan atau risiko penutupan, harga minyak mentah global hampir pasti melonjak akibat kekhawatiran pasokan.

Kenaikan harga minyak dunia akan mendorong peningkatan average selling price (ASP) bagi perusahaan energi.

Emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) diperkirakan berpotensi mencatatkan apresiasi harga saham seiring proyeksi kenaikan pendapatan.

“Emiten seperti MEDC, ELSA, dan ENRG diprediksi akan mengalami apresiasi harga saham seiring dengan potensi peningkatan revenue dari kenaikan harga jual rata-rata (ASP) minyak global,” ucapnya.

Selain sektor migas, emiten pelayaran energi seperti PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT GTS Internasional Tbk (GTSI), dan Soechi Lines Tbk (SOCI) berada dalam posisi strategis untuk memanfaatkan momentum kenaikan tarif pelayaran internasional.

Dengan demikian, meski secara umum IHSG berisiko anjlok akibat tekanan global, rotasi sektor sangat mungkin terjadi.

Sektor industri dasar dan importir bahan baku berpotensi tertekan, sementara sektor energi dapat menjadi penopang indeks.

Senada, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan lagi sekadar isu politik, melainkan telah masuk ke ranah risiko ekonomi global.

Tonton: Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei Wafat dalam Serangan Israel Amerika Serikat

Sentimen tersebut tercermin dari pergerakan harga komoditas. Harga emas tercatat menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah WTI dan Brent melonjak hampir 3 persen.

Kenaikan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Salah satu titik paling krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz.

Jalur strategis ini merupakan salah satu rute distribusi minyak tersibuk di dunia, dengan sekitar 30 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut.

Jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan.

Lonjakan harga energi berisiko menjalar ke inflasi global, memicu pelemahan nilai tukar di negara berkembang, hingga mempengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di banyak negara.

Dalam konteks Indonesia, tekanan terhadap IHSG dapat muncul dari dua sisi sekaligus.

Pertama, potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market.

Kedua, risiko inflasi impor akibat kenaikan harga energi yang dapat meningkatkan biaya produksi emiten domestik.

“Bagi pasar modal Indonesia, tekanan bisa datang dari dua sisi. Pertama, potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi,” ungkap Hendra.

Jika harga minyak bertahan tinggi, beban operasional perusahaan akan meningkat dan margin laba berpotensi tergerus.

Dalam kondisi tersebut, IHSG berpeluang bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut ditembus, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya.

Sementara itu, resistance terdekat berada di kisaran 8.300.

Meski dibayangi tekanan, tidak semua sektor terdampak negatif.

Sektor berbasis komoditas justru berpotensi menjadi penopang indeks. Kenaikan harga emas dan minyak membuka peluang bagi saham-saham tambang dan energi.

Hendra merekomendasikan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebagai trading buy dengan target Rp 3.900, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target Rp 4.500.

Kemudian, PT Elnusa Tbk (ELSA) dinilai menarik untuk trading buy dengan target Rp 900, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target Rp 1.900, serta PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sebagai speculative buy dengan target harga Rp 1.400.

Selain itu, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) juga dinilai layak dicermati sebagai trading buy dengan target Rp 750, seiring meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi di tengah volatilitas harga minyak global.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Perang Iran-Israel Memanas, Saham Energi dan Emas Berpeluang Melonjak"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News