KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Persaingan memperebutkan Warner Bros. Discovery (WBD) kian memanas setelah Paramount Skydance (PSKY.O) mengajukan penawaran yang lebih tinggi untuk mengakuisisi pemilik HBO Max tersebut. Informasi ini disampaikan sumber yang mengetahui proses negosiasi kepada Reuters pada Senin (23/2/2026). Langkah tersebut meningkatkan upaya Paramount untuk menggagalkan kesepakatan antara Warner Bros dan Netflix, sekaligus memperuncing perang penawaran atas salah satu aset paling bergengsi di Hollywood. Portofolio Warner Bros mencakup waralaba besar seperti Harry Potter dan Game of Thrones, yang menjadi daya tarik utama dalam perebutan ini.
Paramount Tingkatkan Nilai Penawaran
Dalam proposal terbarunya, Paramount meningkatkan tawaran awal senilai US$108,4 miliar atau setara US$30 per saham untuk mengakuisisi seluruh perusahaan. Revisi ini disebut-sebut bertujuan menjawab kekhawatiran manajemen Warner Bros terkait kepastian pendanaan.
Baca Juga: Warner Bros Beri Waktu 7 Hari Bagi Paramount untuk Beri Tawaran Baru yang Lebih Oke Detail perubahan nilai tawaran belum diungkapkan secara resmi. Baik Warner Bros maupun Paramount menolak memberikan komentar, sementara Netflix belum dapat dihubungi untuk tanggapan lebih lanjut. Sebelumnya, Netflix—yang menjadi pihak pilihan Warner Bros—mengajukan penawaran pembelian studio dan aset streaming sebesar US$27,75 per saham secara tunai, atau sekitar US$82,7 miliar. Dalam ketentuan yang berlaku, Netflix memiliki hak untuk menyamai (match) penawaran terbaru dari Paramount yang dipimpin David Ellison. Laporan Variety menyebutkan Warner Bros kemungkinan akan meninjau ulang tawaran Paramount, meski tetap merekomendasikan kesepakatan dengan Netflix kepada para pemegang saham.
Tekanan Investor dan Batas Waktu Revisi
Warner Bros sebelumnya menolak proposal Paramount tertanggal 10 Februari karena dinilai belum memenuhi kriteria “superior proposal” oleh dewan direksi. Perusahaan memberikan tenggat waktu tujuh hari hingga 23 Februari bagi Paramount untuk menyampaikan penawaran revisi. Analis MoffettNathanson menilai tawaran di kisaran US$34 per saham dari Paramount berpotensi mengakhiri perang penawaran dan menghindari perdebatan lebih lanjut mengenai valuasi Discovery Global. Sebagai bagian dari restrukturisasi, Warner Bros berencana memisahkan (spin off) aset televisi kabel seperti CNN dan HGTV ke dalam entitas baru bernama Discovery Global. Berdasarkan estimasi internal, entitas tersebut dapat bernilai antara US$1,33 hingga US$6,86 per saham. Netflix menyatakan proposalnya memberi potensi kenaikan nilai tambahan bagi pemegang saham Warner Bros melalui spin off tersebut, yang diklaim akan meningkatkan fleksibilitas strategis, operasional, dan finansial perusahaan baru. Namun, Paramount menilai spin off kabel tersebut secara efektif tidak memiliki nilai signifikan. Tekanan terhadap manajemen Warner Bros juga datang dari investor aktivis Ancora Capital, yang membangun kepemilikan saham sekitar US$200 juta di perusahaan tersebut. Investor itu menuduh manajemen tidak cukup terbuka terhadap diskusi dengan Paramount dan mengancam akan menolak kesepakatan dengan Netflix dalam rapat umum tahunan jika negosiasi tidak dibuka kembali. Saham Paramount Global tercatat naik 1,3% menjadi US$10,70 dalam perdagangan setelah jam bursa.
Baca Juga: Bersaing dengan Netflix, Paramount Percantik Tawaran untuk Warner Bros Sorotan Regulasi dan Risiko Antimonopoli
Pemegang saham Warner Bros dijadwalkan memberikan suara atas proposal Netflix pada 20 Maret. Persetujuan investor akan menjadi langkah penting, namun kesepakatan tetap harus melalui pengawasan ketat otoritas persaingan usaha di Amerika Serikat dan Eropa. Regulator akan menilai apakah penggabungan kekuatan streaming global Netflix dengan aset studio Warner Bros yang telah berdiri lebih dari satu abad akan mengurangi persaingan atau membatasi pilihan konsumen. Paramount menyatakan telah mengantongi izin investasi asing di Jerman dan tengah berdiskusi dengan regulator antimonopoli di AS, Uni Eropa, dan Inggris. Perusahaan menegaskan jalur persetujuan regulasinya lebih jelas dibandingkan Netflix. Jika akuisisi oleh Paramount terwujud, entitas gabungan disebut-sebut akan melampaui skala pasar The Walt Disney Company, sekaligus menggabungkan dua operator televisi besar. Sejumlah senator dari Partai Demokrat bahkan menyatakan kekhawatiran bahwa entitas tersebut dapat mengendalikan hampir seluruh tayangan televisi yang dikonsumsi masyarakat Amerika. Di sisi lain, kombinasi Netflix dengan HBO Max berpotensi menjadikannya pemain streaming global terbesar dengan sekitar setengah miliar pelanggan.
Baca Juga: Trump Tak Ikut Campur dalam Persaingan Akuisisi Warner Bros oleh Netflix & Paramount Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, menyatakan optimisme bahwa kesepakatan akan memperoleh persetujuan regulator dan mengklaim langkah tersebut akan lebih baik bagi industri Hollywood karena menghindari pemutusan hubungan kerja di tengah perlambatan produksi dan fluktuasi pendapatan box office.
Netflix juga berargumen bahwa integrasi layanan streaming-nya dengan HBO Max dapat menghadirkan paket bundling berbiaya lebih rendah bagi konsumen. Namun, klaim bahwa Netflix membutuhkan Warner Bros untuk bersaing dengan YouTube—distributor televisi paling banyak ditonton di AS—diperkirakan akan mendapat tantangan dari Departemen Kehakiman AS. Sebagai bagian dari proses peninjauan regulasi, Departemen Kehakiman AS juga meneliti apakah Netflix pernah terlibat dalam praktik anti-persaingan. Netflix merujuk data Nielsen yang menunjukkan YouTube milik Google mencatat waktu tonton televisi lebih tinggi dibandingkan layanan streaming lainnya di Amerika Serikat.