KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran mulai menekan keuangan pemerintah AS. Biaya konflik yang telah berlangsung sekitar enam bulan itu mencapai US$ 38 miliar hingga 1 Agustus 2026 dan diperkirakan bertambah sekitar US$ 3 miliar setiap bulan jika perang berlanjut. Angka tersebut berasal dari kajian Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan yang membantu Kongres AS menghitung dampak anggaran. CBO juga memperkirakan perang akan mendorong inflasi AS sebesar 0,5% dalam tiga bulan pertama 2027.
Beban perang bukan hanya berasal dari biaya operasi militer. CBO mencatat pengeluaran terbesar berkaitan dengan penggunaan cepat persediaan amunisi AS. Pengisian kembali sejumlah persediaan senjata tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun.
Baca Juga: Biaya Perang AS-Iran Capai US$ 38 Miliar, Diperkirakan Naik US$ 3 Miliar Per Bulan Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesiapan militer AS menghadapi konflik lain. Kekurangan sejumlah amunisi, termasuk rudal pencegat, berpotensi membatasi kemampuan Pentagon merespons konflik besar lain, termasuk kemungkinan ketegangan yang melibatkan China dan Taiwan. "Biaya perang diperkirakan terus bertambah US$3 miliar per bulan," tulis CBO. Biaya tersebut juga berpotensi lebih besar dari hitungan CBO. Lembaga tersebut belum memasukkan biaya serangan terbaru terhadap kapal komersial di Selat Hormuz maupun serangan terhadap instalasi militer AS di kawasan tersebut. Biaya bunga atas pembiayaan perang juga belum dihitung dan dapat menambah puluhan miliar dolar terhadap total beban. Departemen Pertahanan AS sendiri tidak memberikan data kepada auditor keuangan Kongres dalam penyusunan kajian tersebut. Pentagon juga membantah adanya kekurangan amunisi yang dapat mengganggu operasi militer AS.
Baca Juga: CORE Indonesia: Perang Iran VS Israel-AS Berpotensi Gerus Ekspor Indonesia Sementara itu, dampak perang mulai merembet ke perekonomian. Gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20% minyak dunia, telah mengerek harga energi. Kenaikan harga minyak kemudian meningkatkan tekanan inflasi bagi konsumen dan produsen di berbagai negara. Tekanan tersebut datang ketika kondisi fiskal AS juga menghadapi beban besar. Utang publik AS telah menembus US$40 triliun pada Agustus 2026, sehingga tambahan belanja perang berpotensi semakin memperberat kebutuhan pembiayaan pemerintah. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya memperkirakan biaya perang mencapai sekitar US$37,5 miliar dalam kesaksian di Senat pada 21 Juli. Ia juga meminta hampir US$90 miliar dana darurat untuk mengisi kembali persediaan amunisi. Kajian terbaru CBO menempatkan biaya perang hingga 1 Agustus sedikit di atas angka tersebut, yakni sekitar US$38 miliar. Pentagon juga telah mencatat kerusakan pada sejumlah fasilitas dan peralatan militernya di Timur Tengah akibat serangan Iran.
Baca Juga: Perang AS-Iran Berlanjut, Harga Minyak Melonjak Tembus US$ 90 per Barel Hingga 19 Juni, inspektur jenderal Pentagon memperkirakan biaya perang mencapai US$ 33,4 miliar, termasuk sekitar US$ 184 juta kerusakan fasilitas diplomatik AS. Dengan biaya yang berpotensi bertambah US$ 3 miliar per bulan, durasi perang menjadi faktor penting bagi tekanan terhadap anggaran AS sekaligus perekonomian global. Ketidakpastian pasokan energi dari kawasan Teluk juga terus menjadi salah satu sumber tekanan terhadap harga minyak dan inflasi global.