Perang AS–Israel vs Iran Picu Lonjakan Biaya Logistik, Ekspor Beras India Melambat



KONTAN.CO.ID – MUMBAI. Ekspor beras dari India mulai melambat setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mendorong kenaikan biaya pengiriman dan asuransi. Kondisi ini membuat eksportir kesulitan mendapatkan kapal pengangkut, menurut lima eksportir yang diwawancarai Reuters.

Sebagai eksportir beras terbesar di dunia, India menyumbang lebih dari 40% dari total ekspor beras global. Volume ekspor negara tersebut bahkan biasanya melebihi gabungan ekspor dari tiga pemasok terbesar berikutnya, yakni Thailand, Vietnam, dan Pakistan.

Namun, lonjakan tarif pengiriman kini mulai mengkhawatirkan baik pembeli maupun penjual. Hal ini menyebabkan perlambatan signifikan dalam penandatanganan kontrak ekspor baru.


Senior Vice President Olam Agri India, Nitin Gupta, mengatakan tarif pengiriman meningkat hampir setiap hari.

Baca Juga: Stok Fuel Oil di Singapura Naik 3 Minggu Berturut-turut, Permintaan Bunker Melambat

“Freight rates terus naik setiap hari. Perusahaan pelayaran juga menambahkan biaya tambahan perang serta emergency fuel surcharges (EFS), sehingga biaya impor menjadi semakin mahal bagi pembeli,” ujar Gupta.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi kapal terjadi sejak lalu lintas maritim di Selat Hormuz hampir terhenti lebih dari sepekan terakhir. Gangguan ini berdampak besar karena sekitar 20% pengiriman minyak dunia melewati jalur tersebut.

Terganggunya arus pengiriman energi global ikut mendorong kenaikan harga energi, termasuk harga bahan bakar kapal (bunker fuel), yang kemudian meningkatkan biaya logistik perdagangan internasional.

Pesanan Lama Masih Berjalan

Executive Director eksportir beras Satyam Balajee, Himanshu Agrawal, mengatakan saat ini eksportir beras non-basmati masih menjalankan kontrak lama.

Proses pemuatan kapal yang sudah bersandar di pelabuhan juga masih berjalan lancar. Namun, eksportir menghadapi kesulitan dalam mengatur logistik untuk pesanan baru.

“Negara pengimpor masih memiliki stok yang cukup, dengan sebagian besar pasokan masih dalam perjalanan. Saat ini belum ada pembelian panik dari pembeli karena mereka menunggu situasi menjadi lebih jelas,” kata Agrawal.

Baca Juga: Hong Kong Tangkap 8 Orang Terkait Kasus Insider Trading Hedge Fund dan Broker

India terutama mengekspor beras non-basmati ke sejumlah negara seperti Bangladesh, Benin, Pantai Gading, Guinea, dan Kamerun.

Sementara itu, beras premium basmati dari India sebagian besar dipasarkan ke negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, Iran, dan Uni Emirat Arab.

Pengiriman ke Timur Tengah Tertahan

Seorang eksportir yang berbasis di New Delhi mengatakan pengiriman beras basmati India yang menuju pasar utama Timur Tengah—termasuk Iran, Irak, Qatar, dan Arab Saudi—terhenti di tengah perjalanan akibat efektifnya penutupan Selat Hormuz.

“Kami tidak tahu kapan kapal akan dibongkar muat atau kapan pembayaran akan diterima,” ujarnya.

Di sisi lain, produksi beras India pada tahun ini melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah.

Eksportir lainnya, Mukesh Jain, mengatakan India sebenarnya memiliki pasokan yang cukup untuk memenuhi permintaan ekspor. Pelemahan nilai tukar rupee juga seharusnya meningkatkan daya saing ekspor.

Namun demikian, hambatan logistik akibat konflik geopolitik membuat banyak eksportir menunda penandatanganan kontrak baru.