Perang Berlanjut, Goldman Sachs Pertahankan Prediksi Emas Tembus US$ 5.400



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Goldman Sachs Group Inc. mempertahankan pandangan bullish terhadap prospek emas, meskipun terjadi aksi jual baru-baru ini. Lembaga keuangan ini memperkirakan harga emas akan naik kembali pada akhir 2026.

Analis Goldman Sachs Lina Thomas dan Daan Struyven menulis dalam risetnya, sebagaimana dikutip Bloomberg, Goldman Sachs mempertahankan prospek jangka menengah emas dan memprediksi harga logam mulia ini dapat mencapai US$ 5.400 per ons troi.

Goldman Sachs menyebut pembelian berkelanjutan oleh bank sentral juga mendorong harga emas Selain itu, bank sentral Amerika Serikat berpotensi melakukan dua kali pemotongan suku bunga acuan lagi tahun ini, yang juga berpotensi mendorong harga emas.


Baca Juga: Harga Emas Dunia Mengarah ke Bulan Terburuk 17 Tahun pada Selasa (31/3/2026)

Kendati begitu, Goldman Sachs memprediksi harga emas batangan masih menghadapi risiko penurunan taktis dalam jangka pendek, dan dapat turun hingga US$ 3.800 per ons troi jika guncangan pasokan energi memburuk.

Namun, potensi kenaikan tetap signifikan jika perang Iran berkontribusi pada diversifikasi yang dipercepat dari aset Barat tradisional.

Harga emas telah jatuh 13% sejak perang dimulai sebulan yang lalu. Penyebabnya, penurunan di pasar ekuitas memaksa investor melikuidasi posisi dan pasar mulai memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Baca Juga: Goldman Sachs Tunda Prediksi Pemangkasan Suku Bunga The Fed ke September 2026

Namun, Thomas dan Struyven menilai, penyesuaian harga tersebut telah melebihi ekspektasi, mencerminkan penekanan yang berlebihan pada saluran inflasi dibandingkan dengan hambatan pertumbuhan.

Keduanya menilai, kekhawatiran beberapa bank sentral mungkin menjual emas untuk mendukung nilai tukar mata uang kemungkinan besar tidak akan terwujud. Negara-negara Teluk lebih cenderung melakukan intervensi dengan melikuidasi obligasi pemerintah AS karena negara-negara tersebut biasanya menerapkan patokan dolar.

Dengan asumsi tidak ada investasi tambahan dari sektor swasta, para analis mengatakan mereka memperkirakan volatilitas harga akan moderat dalam jangka menengah, memungkinkan pembelian sektor resmi untuk kembali meningkat dan rata-rata sekitar 60 ton per bulan.