Perang Bikin Sektor Jasa AS Tercekik, Biaya Input Melonjak Tertinggi dalam 13 Tahun



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON – Pertumbuhan sektor jasa Amerika Serikat (AS) terpantau melambat pada Maret 2026. Di saat yang sama, beban biaya yang dibayarkan pelaku usaha untuk input melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 13 tahun terakhir.

Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa perang yang berkepanjangan dengan Iran mulai mengguyur tekanan inflasi ke perekonomian Paman Sam.

Berdasarkan survei Institute for Supply Management (ISM) yang dirilis Senin (6/4), indeks manajer pembelian (PMI) non-manufaktur terjerembap ke angka 54,0 dari sebelumnya 56,1 pada Februari. 


Angka ini lebih rendah dari estimasi moderat para ekonom di level 54,9. Meski masih di atas ambang ekspansi (50), tren penurunan ini menunjukkan hambatan yang mulai nyata.

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Untungkan Iran hingga Saudi, Negara Lain Rugi Miliaran

Ekonom Nilai APBN Tak Kuat Lama Tahan Harga BBM, Kenaikan Tinggal Hitungan Minggu!
© 2026 Konten oleh Kontan

Ledakan Biaya Input 

Poin paling krusial dalam laporan ini adalah indeks harga yang dibayarkan bisnis untuk input, yang melesat 7,7 poin menjadi 70,7. Ini merupakan angka tertinggi sejak Oktober 2022 sekaligus kenaikan persentase terbesar dalam 13 tahun.

Konflik di Timur Tengah yang memasuki bulan kedua menjadi faktor dominan. Para pelaku usaha di sektor konstruksi hingga perdagangan grosir melaporkan ketidakpastian hebat. 

Ancaman penutupan Selat Hormuz dan lonjakan biaya tambahan risiko perang (war-risk surcharges) menekan biaya logistik regional, termasuk angkutan udara.

Baca Juga: Sektor Jasa Jepang Tumbuh Stabil, PMI Naik ke Level 53,2

Dampaknya terasa langsung di kantong konsumen: Pertama, harga Minyak: Melambung lebih dari 50%.

Kedua, harga bensin: Rata-rata nasional menembus US$ 4 per galon untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun.

Ketiga, komoditas: Harga kayu, tembaga, dan baja dilaporkan merangkak naik.

Dilema The Fed dan Kebijakan Tarif

Kondisi inflasi yang "lengket" ini membuat Federal Reserve (The Fed) berada di posisi sulit. Bank sentral AS sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

Dengan data terbaru ini, peluang pemangkasan suku bunga pada tahun 2026 semakin menipis.

"Sektor jasa masih ekspansi, tapi hambatan makin kuat. Pertumbuhan melambat di tengah tekanan harga yang persisten," ujar Priscilla Thiagamoorthy, Senior Economist BMO Capital Markets.

Baca Juga: Pertumbuhan Sektor Jasa Jepang Melambat pada Desember, PMI Tunjukkan Tekanan Biaya

Selain perang, kebijakan Presiden Donald Trump terkait tarif global selama 150 hari—sebagai respons atas putusan Mahkamah Agung—turut memperkeruh suasana. 

Sektor akomodasi dan jasa makanan melaporkan ketidakpastian operasional akibat implementasi tarif baru tersebut.

Anomali Pasar Tenaga Kerja

Ada catatan menarik pada komponen lapangan kerja ISM yang turun ke level terendah sejak akhir 2023. 

Data ini berseberangan dengan laporan pemerintah Jumat lalu yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta sebesar 143.000. 

Kendati demikian, para analis menilai indikator harga ISM tetap menjadi sinyal yang lebih akurat bagi tren inflasi masa depan yang diprediksi mendekati 4%.

Dari sisi industri, 13 sektor masih mencatat pertumbuhan termasuk perdagangan grosir, transportasi, pergudangan, serta konstruksi.

Namun, tiga sektor yakni perdagangan ritel, pertanian, dan administrasi publik justru mencatatkan kontraksi di periode Maret.

Selat Hormuz Mulai Dibuka! Kapal Minyak Malaysia Lolos Tanpa Bayar Toll di Tengah Konflik Iran
© 2026 Konten oleh Kontan