Perang dagang jadi stimulus penguat otot rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China masih berlangsung hingga detik ini. Presiden AS, Donald Trump sebetulnya menginginkan bahwa kesepakatan dagang bisa rampung sebelum batas waktu 1 Maret 2019. Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai perang dagang AS-China kali ini berdampak positif terhadap rupiah. Apalagi kesepakatan kenaikkan tarif impor China kemungkinan diundur. AS hari ini juga libur memperingati hari presiden.

Mengutip Bloomberg, pada Selasa (19/2) rupiah menguat 0,03% menjadi Rp 14.103 per dollar Amerika Serikat (AS). Sementara dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) melemah 0,11% menjadi Rp 14.119 per dollar AS dibanding penutupan kemarin di Rp 14.106 per dollar AS.

Tak hanyak perang dagang, shutdown pemerintahan AS masih mengambang. Trump tetap bersih keras mengajukan anggaran pembangunan tembok perbatasan Meksiko. Tetapi banyak yang tidak setuju, negosiasi senat sementara memberi angin sejuk.


“Gonjang-ganjing pemerintahan AS membuat pelaku pasar sementara pindah haluan ke mata uang lain termasuk rupiah,” kata Bhima kepada Kontan.co.id, Selasa (19/2).

Ia menambahkan faktor The Fed yang masih dovish juga masih berpengaruh bagi rupiah. Kemungkinan The Fed semakin yakin menaham suku bunga acuannya setelah beberapa hari lalu rilis data inflasi dan tenaga kerja AS tidak sesuai ekspektasi.

Sementara dari dalam negeri BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) besok, yang mana mengindikasikan tidak akan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-DRR dari level sekarang yakni 6%.

Bhima memproyeksikan mata uang Garuda besok bergerak sedikit flukluatif. Masih bisa menguat tetapi tidak terlalu kencang dengan rentang Rp 14.100-Rp 14.120 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi