Perang dagang mengancam upaya China menekan emisi gas rumah kaca



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Target China untuk menekan emisi gas rumah kaca terancam gagal tercapai akibat perang dagang dengan Amerika Serikat. Tekanan ekonomi yang kian berat membuat Beijing makin sulit melepaskan ketergantungan akan batubara guna mendorong perekonomian.

“Elemen-elemen eksternal, seperti perang perdagangan dengan China telah membawa dampak negatif dan meningkatnya ketidakpastian pada ekonomi global, yang juga membuat China lebih sulit untuk mengatasi perubahan iklim,” kata Li Gao, Kepala Kantor Perubahan Iklim di Kementerian Ekologi dan Lingkungan seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Pembatasan ekspor bahan baku chip ke Korsel bisa jadi bumerang bagi Jepang


Namun begitu, ia menyebut pemerintah akan berupaya sekeras mungkin untuk menekan emisi karbon. "Jangan meremehkan tekad pemerintah China. Tetapi pada saat yang sama, jangan meremehkan kesulitan yang dihadapi China," katanya.

Li mengatakan pihaknya akan fokus pada pembiayaan iklim di masa depan dan bekerja dengan bank sentral dan badan perencanaan top China untuk merancang kebijakan guna mendukung proyek pengurangan karbon di negara tersebut.

Termasuk dengan mendorong pengembangan energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Namun dia mengatakan China masih harus mengandalkan bahan bakar fosil, terutama dengan melambatnya perekonomian.

Baca Juga: China menolak usulan pemimpin Hong Kong menarik RUU ekstradisi

"Dengan ekonomi di bawah tekanan, negara ini harus mengambil lebih banyak langkah untuk menjamin pekerjaan dan mata pencaharian masyarakat," katanya. 

“Beberapa langkah tersebut mungkin tidak sesuai dengan upaya kami untuk mengatasi perubahan iklim,” ungkap dia.

Kebijakan China kemungkinan akan diteliti di KTT iklim PBB yang akan digelar bulan depan di AS. Terutama setelah musim panas yang memecahkan rekor suhu di seluruh dunia.

Baca Juga: Ini senjata terbaik China dalam perang dagang dengan AS

Utusan iklim Amerika Serikat Luis de Alba sebelumnya mengatakan bahwa AS telah menerima respons positif dari China untuk mengakhiri investasi terkait batubara yang merupakan sumber utama gas rumah kaca dan polusi udara.

Editor: Tendi Mahadi