Perang Drone Hezbollah-Israel di Lebanon Memanas, Ancam Upaya Perdamaian Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik antara kelompok bersenjata Hezbollah dan Israel memasuki babak baru dengan meningkatnya penggunaan drone bunuh diri FPV (First Person View) di wilayah Lebanon selatan.

Eskalasi ini dinilai memperumit upaya diplomasi yang tengah berlangsung untuk meredakan ketegangan kawasan dan menghentikan perang yang lebih luas antara Iran dan Israel.

Dalam laporan Reuters, Hezbollah disebut semakin intensif menggunakan drone FPV murah yang mudah dirakit untuk menyerang posisi pasukan Israel di Lebanon selatan. Drone tersebut dikendalikan menggunakan kabel serat optik sehingga mampu menghindari teknologi pengacau sinyal milik Israel.


Kelompok yang didukung Iran itu mulai menggunakan taktik baru sejak mereka menembakkan serangan ke Israel pada 2 Maret, beberapa hari setelah pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Sejak gencatan senjata diumumkan pada 16 April, Hezbollah telah mempublikasikan lebih dari 45 video serangan drone FPV. Sebanyak 28 di antaranya dilakukan setelah gencatan senjata berlaku. Serangan-serangan itu terutama menyasar pasukan Israel yang masih menempati zona penyangga hingga 10 kilometer dari perbatasan Lebanon.

Baca Juga: Ekspor Minyak Saudi ke China Anjlok! Harga Minyak Dunia Berisiko Volatil

Sebelum gencatan senjata, video-video Hezbollah menunjukkan drone menyerang kendaraan militer dan posisi statis seperti tank serta alat berat. Namun setelah gencatan senjata, sasaran mulai bergeser ke kelompok tentara Israel secara langsung.

Menurut laporan Israel, sedikitnya tiga tentara dan satu kontraktor tewas akibat serangan drone Hezbollah pascagencatan senjata. Sebaliknya, Israel juga melancarkan serangan balasan menggunakan drone FPV terhadap anggota Hezbollah.

Drone FPV Jadi Senjata Murah dan Efektif

Penggunaan drone FPV dalam perang modern semakin berkembang sejak konflik Rusia-Ukrainian, terutama di medan perang Ukraina. Teknologi ini kini mulai diadaptasi Hezbollah untuk menghadapi keunggulan militer Israel.

Pakar perang drone dari Ukraina, Dmytro Putiata, menilai kemampuan operator drone Hezbollah masih berkembang.

"Mereka masih amatir, tetapi mereka terus belajar," ujarnya.

Menurut sumber Hezbollah dan pejabat keamanan asing, satu unit drone dasar dapat dirakit dengan biaya kurang dari US$ 400. Drone tersebut bahkan dapat dipasangi hulu ledak anti-tank Rusia tipe PG-7L sehingga berubah menjadi senjata presisi jarak jauh.

Komponen drone disebut berasal dari produk komersial yang diproduksi perusahaan-perusahaan China dan dijual bebas di marketplace daring global.

Hambatan Baru bagi Upaya Perdamaian

Meningkatnya perang drone ini menjadi tantangan baru bagi proses negosiasi damai di kawasan. Iran dan Pakistan menilai setiap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran harus mencakup penghentian serangan Israel di Lebanon agar konflik regional tidak kembali meluas.

Di sisi lain, pembicaraan langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel yang dimediasi Amerika Serikat dijadwalkan kembali berlangsung pekan ini. Namun progres negosiasi dinilai lambat karena Israel tetap menuntut pelucutan senjata Hezbollah.

Kepala hubungan media Hezbollah, Youssef el-Zein, mengatakan kelompoknya meyakini serangan drone yang terus menimbulkan korban di pihak Israel dapat memaksa penarikan pasukan Israel dari Lebanon lebih efektif dibanding negosiasi diplomatik.

"Kami mengetahui keunggulan musuh, tetapi kami juga mengetahui titik-titik kelemahan mereka," kata Zein.

Baca Juga: Ancaman Siber AI Makin Ganas, BaFin Peringatkan Bank!

Israel Akui Ancaman Drone Hezbollah

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengakui ancaman drone Hezbollah menjadi persoalan serius bagi keamanan Israel.

Ia mengatakan pemerintah Israel telah memerintahkan pembentukan proyek khusus untuk menghadapi ancaman drone tersebut, meski pengembangannya membutuhkan waktu.

Militer Israel melaporkan hampir setiap hari terjadi peluncuran drone peledak ke arah pasukannya di Lebanon selatan. Radio Angkatan Darat Israel bahkan menyebut serangan itu telah melukai sekitar 40 tentara.

Menurut pejabat pertahanan Israel, drone FPV Hezbollah sulit dideteksi karena ukurannya kecil dan diterbangkan rendah mengikuti kontur wilayah Lebanon selatan yang dikuasai dengan baik oleh Hezbollah.

Israel kini mengembangkan berbagai sistem pertahanan baru, termasuk peningkatan radar, penggunaan sistem pertahanan rudal Iron Dome, hingga pengujian sistem pencegat drone terbaru.

Selain solusi teknologi tinggi, Israel juga mulai menerapkan langkah sederhana seperti pemasangan jaring pelindung dan modifikasi senjata infanteri untuk menjatuhkan drone.

Meski demikian, sejumlah analis menilai serangan drone Hezbollah sejauh ini lebih efektif sebagai alat propaganda psikologis dibanding menghasilkan dampak militer besar di lapangan.