Perang Iran Ancam Produksi Exxon Mobil, TotalEnergies, dan Shell



KONTAN.CO.ID - Exxon Mobil, TotalEnergies, dan Shell termasuk perusahaan energi global yang dinilai paling rentan terhadap gangguan produksi minyak dan gas akibat perang AS-Israel dengan Iran, menurut sejumlah analis dalam catatan riset yang dirilis Minggu (1/3/2026) dan Senin (2/3/2026).

Serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengguncang sektor energi global.

Konflik tersebut memaksa penutupan sejumlah ladang minyak dan gas di kawasan serta secara efektif menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital antara Iran dan Oman yang dilalui tanker minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG) dari produsen utama Timur Tengah menuju pasar global.


Baca Juga: Kongres AS Terbelah soal Aksi Militer ke Iran, Voting War Powers Digelar Pekan Ini

Paparan Produksi di Timur Tengah

Analis Jefferies memperkirakan sekitar 29% total produksi TotalEnergies berada di Timur Tengah, sementara kawasan tersebut menyumbang sekitar 20% produksi minyak dan gas Exxon serta 20% produksi Shell.

Meski risiko gangguan meningkat, lonjakan harga energi berpotensi menopang keuntungan perusahaan.

Kontrak berjangka minyak Brent ditutup naik sekitar 7% menjadi US$77,74 per barel pada Senin, sementara harga gas alam acuan Eropa melonjak sekitar 40%.

Baca Juga: Warga AS di Iran Terancam, Aktivis Khawatir Jadi Alat Tawar di Tengah Eskalasi Perang

LNG Jadi Titik Rawan

Salah satu dampak paling signifikan diperkirakan terjadi pada portofolio LNG Exxon. Sekitar 60% bisnis LNG perusahaan asal AS itu terkonsentrasi di Timur Tengah, menurut analis TD Cowen.

Ketiga perusahaan tersebut merupakan mitra dari perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, yang menghentikan produksi LNG pada Senin setelah serangan drone Iran terhadap fasilitasnya. Qatar menyumbang sekitar 20% pasokan LNG global.

Exxon diperkirakan akan terbantu oleh dimulainya produksi proyek Golden Pass LNG di Texas bulan ini, menurut analis Barclays Betty Jiang.

Baca Juga: PMI Manufaktur Korsel Ekspansi 3 Bulan Beruntun, Ditopang Lonjakan Produksi Chip

Selain kepemilikan LNG di kawasan, TotalEnergies juga memproduksi minyak dan gas di Uni Emirat Arab, sementara Shell memiliki kehadiran signifikan di Oman.

Situasi ini menempatkan raksasa energi global dalam posisi dilematis: menghadapi potensi gangguan operasional di satu sisi, namun di sisi lain menikmati lonjakan harga komoditas akibat ketidakpastian geopolitik.