KONTAN.CO.ID - Konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali mengguncang jalur pelayaran dan pasar energi global. Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah militer AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Serangkaian serangan tersebut menjadi gelombang serangan terbesar terhadap pelayaran sejak perang yang telah berlangsung selama enam bulan dimulai. Sedikitnya satu pelaut dilaporkan tewas dan satu lainnya masih hilang.
Baca Juga: Istri Presiden Pertama Indonesia Dituntut Hukuman Denda Rp 22,8 Juta, Cek Kasusnya! Pasar energi langsung merespons eskalasi tersebut. Harga minyak mentah Brent menembus level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Militer AS mengatakan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran dalam serangan pada malam sebelumnya. AS merilis video yang menunjukkan sejumlah kapal terbakar sebelum akhirnya tenggelam. Komando Pusat AS menyebut serangan tersebut merupakan respons atas serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal perang AS menggunakan rudal balistik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington akan terus menargetkan kapal tanker Iran sebagai respons terhadap serangan terhadap kapal perang AS. "Iran terus mencoba menyerang kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker," kata Rubio kepada wartawan saat kunjungan ke Kolombia. Iran mengatakan, serangan tersebut merupakan respons dengan menembaki dua kapal AS dan delapan kapal tanker.
Baca Juga: Lagi! Pilot Negeri Tetangga Ini Ditangkap Karena Dugaan Kasus Narkoba Selat Hormuz Kembali Terancam Eskalasi terbaru menjadi ancaman serius bagi kelancaran distribusi energi dunia karena terjadi di sekitar Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Namun, aktivitas pengiriman minyak melalui selat tersebut kembali merosot setelah konflik meningkat sejak akhir Agustus. Claudio Galimberti, kepala ekonom Rystad Energy mengatakan, arus minyak melalui Selat Hormuz sempat turun hingga sekitar 2 juta barel per hari (barrels per day/bpd). Angka tersebut jauh di bawah level 8 juta-9 juta bpd yang tercatat pada pekan sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus. Kondisi tersebut membuat upaya pembukaan kembali jalur pelayaran yang sebelumnya mulai menunjukkan perkembangan kembali terancam. Selain minyak mentah, kenaikan harga produk bahan bakar hasil pengolahan minyak juga semakin tajam. Harga rata-rata ritel diesel di Amerika Serikat bahkan mencetak rekor baru pada Rabu, menembus US$ 5,94 per galon.
Baca Juga: Liga Champions Memanas! PSG Pesta 6 Gol, Arsenal Menang Dramatis Kapal Dagang Ikut Terdampak Serangan tidak hanya menyasar kapal tanker minyak Iran. Sejumlah kapal dagang juga dilaporkan mengalami serangan di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman. Salah satu korban adalah kapal tanker produk minyak Hercules Star yang berada di perairan dekat Dubai. Perusahaan penyewa kapal, Peninsula, menyatakan satu awak kapal tewas dan satu lainnya hilang. Badan keamanan maritim Inggris UKMTO juga menerima laporan mengenai beberapa kapal dagang yang terkena tembakan hingga mengalami kerusakan di kawasan Teluk bagian utara dan Teluk Oman, di kedua sisi Selat Hormuz. Di Irak, dua pejabat pelabuhan mengatakan kapal tanker New Andros yang membawa sekitar 2 juta barel bahan bakar minyak terbakar setelah terkena serangan drone di perairan Irak. Tidak ada laporan korban dari 22 awak kapal. Sementara itu, sebuah kapal tanker gas alam cair (
liquefied natural gas/LNG) dilaporkan mengalami kerusakan di pelabuhan Khor Fakkan, Uni Emirat Arab. Situasi tersebut meningkatkan risiko gangguan lebih luas terhadap rantai pasok energi dunia apabila konflik terus berlanjut dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz semakin terbatas.
Baca Juga: Ada Insiden di Air Force One Hadiah Qatar, Donald Trump Tetap Nekat Terbang Di sisi lain, konflik juga meluas ke kawasan lain. Pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir, menambah risiko terhadap jalur distribusi energi dari Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran berupaya memengaruhi pemilihan umum sela AS pada November mendatang. Trump juga menyatakan perang dapat segera berakhir setelah pemilu tersebut. Namun, Wall Street Journal melaporkan sejumlah penasihat utama Gedung Putih secara pribadi telah memperingatkan Trump bahwa konflik berpotensi berlangsung hingga sisa masa kepresidenannya yang berakhir pada Januari 2029. Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut.