KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/JERUSALEM/RIYADH. Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran membayangi kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada Rabu (13/5/2026). Konflik yang terus berlangsung juga mulai memicu pergeseran aliansi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Trump tiba di Beijing untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (14/5).
Baca Juga: Harga Emas Turun Dua Hari Beruntun Rabu (13/5), Khawatir Suku Bunga AS Tetap Tinggi Dalam pertemuan tersebut, Trump diperkirakan akan meminta dukungan China guna membantu menyelesaikan konflik yang dinilai semakin mahal dan tidak populer di dalam negeri AS. Namun, sejumlah analis menilai kecil kemungkinan China akan memberikan dukungan penuh sesuai harapan Washington. Di tengah kunjungan tersebut, berbagai laporan baru menunjukkan perang Iran telah mempercepat realignment geopolitik di Timur Tengah. Israel mengungkapkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diam-diam melakukan kunjungan ke Uni Emirat Arab (UEA) pada Maret lalu untuk bertemu Presiden Sheikh Mohammed bin Zayed. Israel menyebut pertemuan itu menghasilkan “terobosan bersejarah” dalam hubungan kedua negara.
Baca Juga: Minyak Brent Ditutup Turun 2% Rabu (13/5), Cemas Inflasi AS dan Suku Bunga Tinggi Hubungan Israel dan UEA sendiri mulai membaik sejak penandatanganan Abraham Accords pada 2020 yang dimediasi Trump. Kedekatan kedua negara disebut semakin kuat setelah UEA turut terkena dampak serangan Iran. Meski demikian, Kementerian Luar Negeri UEA membantah adanya kunjungan rahasia tersebut. UEA menegaskan seluruh klaim mengenai kunjungan yang tidak diumumkan secara resmi tidak berdasar. Iran pun mengecam UEA terkait dugaan kedekatan dengan Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut permusuhan terhadap Iran sebagai langkah yang berbahaya dan tidak dapat dimaafkan. Secara terpisah,
Reuters juga melaporkan jet tempur Arab Saudi menyerang milisi yang didukung Iran di Irak. Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari respons militer negara-negara Teluk selama konflik berlangsung.
Baca Juga: Beijing Kecewa Berat! Eropa Mau Batasi Investasi, China Ancam ‘Tutup Pintu’ Di sisi lain, Iran semakin memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur vital yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Iran juga dikabarkan menjalin kesepakatan dengan Irak dan Pakistan untuk pengiriman minyak serta gas alam cair (LNG). Pejabat Iran bahkan menilai penguasaan Selat Hormuz dapat menjadi sumber pendapatan besar sekaligus memperkuat posisi diplomatik negara tersebut. Hingga kini, lebih dari sebulan setelah gencatan senjata rapuh diberlakukan, tuntutan AS dan Iran untuk mengakhiri perang masih jauh berbeda. Washington meminta Iran menghentikan program nuklir serta melepas kendali atas Selat Hormuz. Sebaliknya, Teheran menuntut kompensasi kerusakan perang, penghentian blokade AS, dan penghentian konflik di seluruh front termasuk Lebanon. Trump sebelumnya menyebut tuntutan Iran tersebut sebagai “sampah”.
Baca Juga: Era Powell Berakhir! Kevin Warsh Ambil Alih The Fed di Tengah Ancaman Inflasi Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan negosiasi masih menunjukkan perkembangan. Menurut dia, tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Konflik ini juga terus menekan pasar energi global. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak global turun sekitar 3,9 juta barel per hari pada 2026 akibat gangguan produksi di Timur Tengah.
Sementara itu, data pelacakan kapal menunjukkan supertanker China yang membawa 2 juta barel minyak mentah Irak melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Kapal tersebut menjadi tanker minyak China ketiga yang diketahui melewati jalur itu sejak perang pecah pada akhir Februari lalu. Ketegangan juga masih berlangsung di Lebanon. Meski gencatan senjata yang dimediasi AS diumumkan bulan lalu, Israel tetap melancarkan serangan terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Pada Rabu, serangan udara Israel terhadap kendaraan di Lebanon dilaporkan menewaskan 12 orang, termasuk dua anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.