KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik Iran yang kian memanas tidak hanya mengancam warisan politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tetapi juga meningkatkan taruhan politik bagi dua tokoh kunci pemerintahannya: Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Keduanya dipandang sebagai kandidat kuat penerus Trump menjelang pemilihan presiden 2028, dan kini terlibat dalam upaya negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah memasuki pekan kelima tersebut.
Vance vs Rubio: Dua Pendekatan Berbeda
Dalam dinamika konflik, JD Vance cenderung mengambil pendekatan hati-hati, mencerminkan skeptisisme terhadap keterlibatan militer jangka panjang AS di luar negeri. Sebaliknya, Marco Rubio tampil sejalan dengan sikap keras Trump dan menjadi salah satu pembela paling vokal atas operasi militer terhadap Iran.
Trump menyatakan bahwa kedua tokoh tersebut terlibat dalam upaya menekan Iran agar memenuhi tuntutan AS, termasuk pembongkaran program nuklir dan rudal balistik serta menjamin kelancaran jalur minyak melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: China Gelar Patroli di Laut China Selatan, Ketegangan dengan Filipina Memanas Di balik layar, Trump bahkan disebut mulai mempertimbangkan suksesi kepemimpinan dengan mempertanyakan kepada para penasihatnya: “JD atau Marco?”
Dampak Perang terhadap Peta Politik 2028
Hasil dari konflik ini dinilai akan sangat menentukan peluang politik keduanya pada 2028. Jika perang berakhir cepat dengan hasil yang menguntungkan AS, Rubio berpotensi mendapatkan keuntungan politik sebagai figur yang dianggap stabil dalam krisis. Sebaliknya, jika konflik berlarut-larut, Vance dapat memanfaatkan situasi dengan mengedepankan posisi anti-perang yang selaras dengan basis pendukung Trump, tanpa harus secara terbuka menentang presiden. Sementara itu, tingkat persetujuan publik terhadap Trump juga mengalami tekanan. Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan approval rating Trump turun menjadi 36%, terendah sejak kembali menjabat, dipicu oleh lonjakan harga energi dan ketidakpuasan terhadap perang Iran.
Persaingan Internal Partai Republik
Sejumlah kalangan Partai Republik mulai mengamati sinyal dukungan Trump terhadap calon penerusnya. Beberapa pihak menilai Trump cenderung lebih dekat ke Rubio, meskipun sikapnya dikenal mudah berubah. Gedung Putih menolak spekulasi tersebut dan menegaskan fokus utama pemerintah adalah menyelesaikan konflik dan melindungi kepentingan rakyat Amerika.
Dari Rival Menjadi Penerus
JD Vance, mantan Marinir yang pernah bertugas di Irak, dikenal sebagai pengkritik intervensi militer AS. Ia bahkan pernah menyebut dirinya sebagai “never-Trumper” sebelum akhirnya menjadi sekutu dekat Trump.
Baca Juga: Serangan Houthi ke Israel Perluas Risiko Perang Iran, Pasokan Energi Terancam Sementara itu, Marco Rubio yang pernah bersaing keras dengan Trump pada pemilu 2016 kini memiliki hubungan yang solid dengan presiden dan menjadi bagian penting dalam kebijakan luar negeri AS.
Meski demikian, Rubio disebut tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden jika Vance maju, dan terbuka untuk menjadi pasangan wakil presiden.
Perbedaan Sikap Terlihat Jelas
Perbedaan pendekatan keduanya terlihat dalam rapat kabinet terbaru. Rubio secara tegas membela kebijakan Trump terhadap Iran, sementara Vance lebih menekankan pada upaya strategis untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, dinamika antara Vance dan Rubio mencerminkan arah masa depan Partai Republik pasca-Trump. Analis menilai, keberhasilan atau kegagalan perang ini tidak hanya akan menentukan posisi global AS, tetapi juga membentuk peta politik domestik menjelang pemilu 2028.