Perang Iran Berlanjut, Pemerintah Korea Selatan Kaji Penambahan Anggaran Stimulus



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Pemerintah Korea Selatan (Korsel) terus menyusun strategi untuk mengatasi ancaman krisis energi akibat perang di Timur Tengah. Pemerintah negeri ginseng ini mempertimbangkan menambah anggaran untuk mengatasi krisis.

Bloomberg melaporkan, Sekretaris Kepresidenan untuk Urusan Politik Hong Ik-pyo menyebut Korsel mungkin akan menyusun anggaran tambahan lagi di paruh kedua tahun ini, jika gangguan pasokan minyak mentah akibat perang berlanjut.

“Kami dengan hati-hati memproyeksikan, jika situasi di Timur Tengah berkepanjangan lebih lanjut, anggaran tambahan mungkin diperlukan pada paruh kedua tahun ini, di luar anggaran saat ini,” kata Hong dalam wawancara dengan TV kabel MBN, Minggu (5/4/2026), seperti dikutip Bloomberg.


Baca Juga: Korea Selatan Meminta Negara Teluk Beri Jaminan Pasokan Energi & Keamanan Kapal Korea

Sebelumnya, pemerintah Korsel telah mengumumkan anggaran tambahan sebesar 26,2 triliun won, sekitar Rp 295,27 triliun, untuk meringankan beban dari lonjakan harga bahan bakar. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung kelompok rentan dan menstabilkan rantai pasokan.

Kementerian Perencanaan dan Anggaran Korsel menyebut, dana sebesar 2,6 triliun won akan digunakan untuk mendukung sektor-sektor yang terdampak oleh kenaikan biaya logistik dan energi, termasuk eksportir dan perusahaan petrokimia.

Dana tersebut juga sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasokan dan investasi dalam transisi energi. Rencana tersebut juga mencakup 9,7 triliun won untuk memperkuat keuangan pemerintah daerah dan 1 triliun won untuk pembayaran utang.

Baca Juga: Irak Minta Pelanggan Kirim Jadwal Pengapalan Minyak Usai Diberi Pengecualian Hormuz

“Tindakan pencegahan lebih penting dari sebelumnya, dan dukungan fiskal yang cepat diperlukan untuk mencegah pemulihan yang rapuh kehilangan momentum,” kata Menteri Anggaran Korsel Park Hongkeun, dalam sebuah konferensi pers, Selasa (31/3/2026) silam.

Paket stimulus tersebut sebagian besar akan dibiayai melalui pendapatan pajak. Kebetulan, penerimaan pajak Korsel lebih tinggi dari perkiraan, didorong oleh tingginya ekspor semikonduktor dan pasar ekuitas yang bergairah.

Rincian anggaran stimulus tersebut, 25,2 triliun won berasal dari kelebihan penerimaan pajak dan 1 triliun won dari dana publik. Pemerintah mengatakan sebagian dari pendapatan tambahan tersebut juga akan digunakan untuk membayar utang, membantu membatasi dampak pada pasar obligasi dan valuta asing.

Baca Juga: Bursa Asia Waspada Ancaman Serangan AS ke Infrastruktur Iran pada Senin (6/4/2026)

Total pengeluaran pemerintah diperkirakan akan meningkat 11,8% dari tahun sebelumnya menjadi 753,1 triliun won. Defisit fiskal yang dikelola diproyeksikan sebesar 3,8% dari produk domestik bruto.

Sementara rasio utang terhadap PDB diperkirakan akan membaik menjadi 50,6%, turun dari 51,6% dalam anggaran awal tahun 2026, seiring dengan rencana pembayaran utang.