Perang Iran Bikin OPEC+ Kehilangan Pengaruh, China Kini Jadi Penentu Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - LONDON. Enam bulan setelah perang Iran berlangsung, aliansi minyak paling berpengaruh di dunia, OPEC+, menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kelompok tersebut kini kesulitan memengaruhi pasar minyak yang sebelumnya turut mereka bentuk.

Perang Iran telah menutup jalur ekspor utama minyak Timur Tengah dan merusak sejumlah infrastruktur energi di negara-negara anggota OPEC. Kondisi tersebut menggerus pangsa pasar OPEC+ sekaligus mengurangi kemampuan kelompok itu untuk memengaruhi harga minyak dunia.

Pernyataan maupun keputusan kebijakan OPEC+ kini hanya memberikan pengaruh terbatas terhadap pergerakan pasar minyak.


Sebaliknya, penurunan impor minyak mentah China menjadi salah satu tema utama pasar minyak sepanjang 2026. Penurunan tersebut membantu menyeimbangkan pasar di tengah gangguan pasokan yang disebut sejumlah analis sebagai yang terburuk sepanjang sejarah.

Baca Juga: Banjir Bandang Nepal Diduga Dipicu Runtuhnya Gletser

Berdasarkan perhitungan Reuters yang menggunakan data Badan Energi Internasional (IEA), OPEC+ yang terdiri atas negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sejumlah negara mitra, termasuk Rusia, menyumbang sekitar 40% produksi minyak dunia pada Juli 2026.

Angka tersebut turun dari lebih dari 48% sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari. Namun, sekitar 4-5 poin persentase dari penurunan tersebut disebabkan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari OPEC pada Mei.

Sementara itu, kelompok inti OPEC+ yang terdiri atas tujuh produsen, termasuk Arab Saudi dan Rusia, hanya menyumbang sekitar seperempat produksi minyak dunia pada Juli.

Selat Hormuz Batasi Kemampuan OPEC+

Perang Iran juga mengurangi kemampuan OPEC+ untuk meningkatkan maupun memangkas pasokan minyak dengan cepat. Hal ini terjadi karena Selat Hormuz, jalur ekspor penting bagi produsen OPEC seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait, praktis tertutup akibat konflik.

OPEC didirikan pada 1960. Sementara itu, kerangka OPEC+ dibentuk pada 2016 ketika Rusia dan sejumlah produsen minyak lainnya bergabung untuk membantu kelompok tersebut menghadapi penurunan pangsa produksi minyak dunia.

Pangsa OPEC terhadap produksi minyak mentah global sempat mencapai sekitar 50% selama krisis minyak pada 1970-an. Namun, angka tersebut turun menjadi sekitar 30% pada pertengahan 1980-an seiring meningkatnya produksi minyak dari Laut Utara, Alaska, dan Siberia.

OPEC tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. OPEC+ menyatakan keputusan yang diambil bertujuan mendukung stabilitas pasar dan tidak menargetkan harga minyak tertentu.

Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 258 Drone dan Rudal, Kyiv-Odesa Jadi Sasaran

Gangguan pasokan akibat perang sebenarnya bukan hal baru bagi OPEC. Kelompok tersebut pernah menghadapi gangguan produksi akibat perang di Kuwait pada 1990-1991 serta Irak setelah invasi pimpinan AS pada 2003.

Namun, situasi saat ini berbeda karena skala gangguan pasokan jauh lebih besar. Gangguan tersebut secara bersamaan membatasi produksi sejumlah negara sehingga kemampuan OPEC+ untuk menggantikan kehilangan pasokan dari negara lain semakin terbatas.

Sejak Maret 2026, kelompok inti OPEC+ telah mengumumkan enam kali kenaikan produksi minyak. Namun, akibat blokade Selat Hormuz, sebagian besar keputusan tersebut masih sebatas di atas kertas.

Keputusan peningkatan produksi itu juga hanya memberikan dampak terbatas terhadap harga minyak. Pengecualian terjadi pada Juli ketika gencatan senjata sementara antara AS dan Iran sempat memunculkan harapan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka.

Situasi Berbeda Dibandingkan 2019

Kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan 2019. Kala itu, OPEC+ dan Presiden AS Donald Trump pada masa jabatan pertamanya kerap terlibat perselisihan terkait harga minyak.

Keputusan OPEC+ juga menjadi perhatian besar para pelaku pasar karena dinilai berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak dunia.

Pada saat itu, pertanyaan utama pasar adalah seberapa banyak minyak yang akan diproduksi OPEC+. Namun, fokus pasar kini bergeser menjadi seberapa banyak minyak yang secara fisik dapat diproduksi dan diekspor di tengah perang di Timur Tengah.

Salah satu faktor terbesar yang memengaruhi harga minyak tahun ini adalah penurunan tajam impor minyak China.

Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Nepal dan Tibet, Hampir 1.500 Orang Hilang

Sejak perang Iran dimulai, China telah membeli sekitar 400 juta barel minyak lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut mencerminkan sejumlah faktor, termasuk larangan ekspor bahan bakar, penurunan produksi kilang, serta semakin luasnya penggunaan kendaraan listrik.

Tren tersebut semakin menegaskan meningkatnya peran China dalam menyeimbangkan pasar minyak dunia. Peran sebagai penyeimbang pasar sebelumnya hampir secara eksklusif dikaitkan dengan OPEC+ sebagai produsen minyak yang dapat menyesuaikan pasokan untuk merespons perubahan pasar.

China Kini Jadi Penentu Permintaan Minyak

Melemahnya permintaan minyak China turut membantu membatasi kenaikan harga minyak sepanjang tahun ini.

Sebaliknya, aksi pembelian minyak China dalam jumlah besar pada tahun lalu, yang kemungkinan menyumbang hingga separuh pertumbuhan permintaan minyak global, membantu menopang pasar.

Analis Sparta Commodities June Goh mengatakan China kini memiliki peran yang semakin besar dalam menentukan keseimbangan permintaan minyak global.

"China telah menjadi pusat permintaan yang dapat menggerakkan pasar," ujar June Goh.