Perang Iran Didihkan Harga Minyak, Ancam Pemulihan Ekonomi Global



KONTAN.CO.ID - SINGAPORE/LONDON. Harga minyak dunia melonjak 9% pada Senin (2/3/2026), setelah serangan balasan Iran mengganggu pengiriman di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting. Serangan balasan Iran itu menyusul pemboman akhir pekan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Lonjakan harga minyak yang berkelanjutan akan mengancam pemulihan ekonomi global, memicu inflasi, dan dapat mendorong kenaikan harga bensin ritel AS, hasil yang berisiko bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu November ini.

Namun, lonjakan harga minyak pada awal perdagangan setelah akhir pekan lebih rendah dari prediksi beberapa analis.


Baca Juga: Perang Iran vs AS-Israel Rugikan Aktivitas Perusahaan Keuangan di Timur Tengah

Harga minyak mentah Brent naik hingga 13% menjadi US$ 82,37 per barel, tertinggi sejak Januari 2025, sebelum turun 8,2% menjadi US$ 78,87 per barel pada pukul 0919 GMT.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik ke level tertinggi intraday US$ 75,33, naik lebih dari 12% dan tertinggi sejak Juni 2025, meskipun kemudian sedikit turun 7,7%, menjadi US$  72,17.

"Pergerakan terbaru ini mencerminkan ketidakpastian seputar skala dan durasi konflik saat ini dan mengakui bahwa masa depan politik Iran mungkin memiliki implikasi besar bagi stabilitas Timur Tengah," kata James Hosie dari Shore Capital seperti dilansir Reuters.

Pada hari Minggu, beberapa analis memperkirakan harga minyak akan dibuka pada hari Senin di atas US$ 90 per barel dan mendekati US$ 100.

Harga melonjak karena serangan balasan merusak kapal tanker dan mengganggu pengiriman di Selat Hormuz antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut Arab.

Pada hari biasa, kapal-kapal yang membawa minyak setara dengan sekitar seperlima dari permintaan global dari Arab Saudi, UEA, Irak, Iran, dan Kuwait berlayar melalui Selat tersebut bersama dengan kapal tanker yang mengangkut solar, bahan bakar jet, bensin, dan bahan bakar lainnya dari kilang mereka ke pasar-pasar utama Asia termasuk Tiongkok dan India.

Lebih dari 200 kapal, termasuk kapal tanker minyak dan gas cair, telah berlabuh di luar Selat tersebut, menurut data perkapalan pada hari Minggu. Tiga kapal tanker rusak dan satu pelaut tewas dalam serangan di perairan Teluk.

"Pasar mengakui keseriusan konflik ini, tetapi juga memberi sinyal bahwa, untuk saat ini, ini adalah 'guncangan geopolitik, bukan krisis sistemik'," kata Priyanka Sachdeva, analis senior di Phillip Nova.

Baca Juga: Saudi Aramco Tutup Kilang Ras Tanura Setelah Serangan Drone

OPEC Tambah Produksi

OPEC+ pada hari Minggu menyetujui peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan April. Setiap produsen OPEC+ pada dasarnya berproduksi pada kapasitas penuh kecuali Arab Saudi, kata analis RBC Capital, Helima Croft.

Badan Energi Internasional (IEA) sedang berhubungan dengan produsen utama di Timur Tengah, kata direktur Fatih Birol pada hari Minggu. Badan pengawas energi ini mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis dari negara-negara maju selama keadaan darurat.

Secara global, persediaan minyak yang terlihat berada di angka 7,827 juta barel, "cukup untuk memenuhi permintaan selama 74 hari, yang mendekati median historis," tulis Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Analis Citi memperkirakan harga Brent akan diperdagangkan antara US$ 80 dan US$ 90 per barel minggu ini di tengah konflik yang sedang berlangsung.

"Pandangan dasar kami adalah bahwa kepemimpinan Iran berubah, atau rezim berubah cukup signifikan untuk menghentikan perang dalam 1-2 minggu, atau AS memutuskan untuk mengurangi ketegangan setelah melihat perubahan kepemimpinan dan menghambat program rudal dan nuklir Iran dalam jangka waktu yang sama," tulis analis Citi yang dipimpin oleh Max Layton.

Baca Juga: Perang Iran vs AS-Israel Ganggu Pasokan Minyak ke Negara-Negara Asia

Para analis juga memperingatkan bahwa harga bensin eceran di AS, konsumen bahan bakar terbesar di dunia, mungkin akan melampaui US$ 3 per galon karena konflik tersebut, sebuah hasil yang berpotensi berisiko bagi Trump dan Partai Republiknya menjelang pemilihan paruh waktu.

Harga bensin berjangka AS melonjak hingga 9,1% menjadi US$ 2,496 per galon, level tertinggi sejak Juli 2024, dan terakhir naik 4,3%.