KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gangguan pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari kawasan Teluk akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran mendorong pembeli LNG di Asia mencari sumber pasokan alternatif, termasuk dari Indonesia. Sejumlah importir LNG kini mulai memperluas sumber pasokan dari berbagai negara, mulai dari Afrika Barat hingga Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat utama perdagangan LNG global. Dalam konferensi Gastech pekan lalu, pejabat pemerintah dan eksekutif industri mengatakan bahwa negara-negara Asia mulai memperkuat strategi diversifikasi pasokan LNG. Pemerintah tidak hanya mencari pemasok baru, tetapi juga berupaya memastikan jalur pengiriman yang lebih beragam.
"Banyak pemerintah berpikir tidak hanya tentang diversifikasi pemasok, tetapi juga diversifikasi jalur pasokan," kata Sue-Ern Tan, Kepala Pusat Kerja Sama Regional Badan Energi Internasional (IEA) di Singapura, dalam konferensi Gastech. Dorongan untuk melakukan diversifikasi tersebut berpotensi meningkatkan prospek proyek LNG di luar Amerika Serikat dan Qatar. Kedua negara tersebut saat ini mendominasi rencana penambahan kapasitas LNG global. Namun, infrastruktur LNG Qatar juga mengalami kerusakan pada awal perang.
Baca Juga: Bursa London Menguat, Bank Pimpin Kenaikan di Tengah Harapan Diplomasi Timur Tengah Perusahaan energi milik negara Thailand, PTT, misalnya, tengah mencari pasokan dari Oman, Amerika Utara dan Afrika Barat. Chief Operating Officer bisnis hulu minyak bumi dan gas PTT, Bandhit Thamprajamchit, mengatakan perusahaan juga terus memperluas sumber pasokan LNG. PTT melalui unit perdagangannya pada Jumat telah menandatangani kesepakatan jangka panjang dengan perusahaan energi Norwegia, Equinor, untuk pasokan LNG.
Bangladesh mulai lirik Indonesia
Diversifikasi sumber LNG juga dilakukan Bangladesh. Sebelum perang Iran menyebabkan Selat Hormuz secara efektif tertutup bagi pengiriman energi, Bangladesh sangat bergantung pada Qatar untuk sebagian besar kebutuhan impor LNG. Kini Bangladesh mulai mencari alternatif pasokan dari Indonesia, Australia dan China. Menteri Energi Bangladesh Iqbal Hasan Mahmud mengatakan langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber pasokan. Pada awal perang Iran, sejumlah pembeli energi milik negara di Asia terpaksa membeli kargo LNG pengganti dari pasar spot. Perusahaan seperti PetroChina dan GAIL India dapat mengalihkan pembelian ke wilayah lain untuk memperoleh pasokan pengganti, tetapi harus membayar harga premium. Meski kehilangan sekitar 36 juta ton pasokan LNG dari Timur Tengah, penambahan kapasitas produksi baru membuat kehilangan pasokan bersih global pada tahun ini diperkirakan hanya sekitar 5 juta ton. Tom Summers, Executive Vice President LNG Marketing and Trading Shell, mengatakan jumlah tersebut setara dengan sekitar 1%-1,5% dari total pasokan LNG global. Menurut Summers, fleksibilitas pengiriman LNG juga meningkat dengan adanya tambahan sekitar 70-80 kapal LNG baru setiap tahun.
Baca Juga: Trump Lebih Lunak Hadapi China Jelang Bertemu Xi, Ada Pengaruh Rare Earth Indonesia berpotensi mendapat peluang
Kenaikan harga LNG dan kebutuhan terhadap sumber pasokan yang lebih terdiversifikasi turut meningkatkan prospek produsen baru seperti Argentina, Timor-Leste dan Tanzania. Timor-Leste, misalnya, berencana membangun dua fasilitas LNG baru. Salah satunya merupakan fasilitas berkapasitas 5 juta ton per tahun untuk mengolah gas dari ladang Greater Sunrise yang telah lama tertunda. Fasilitas kedua memiliki kapasitas 1,5 juta ton per tahun dan akan menggunakan sisa gas dari lapangan Bayu-Undan. Menteri Energi Timor-Leste Francisco da Costa Monteiro menyampaikan rencana tersebut kepada Reuters. Indonesia juga menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian dalam upaya diversifikasi sumber LNG. Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah pengembangan lapangan gas Abadi di Blok Masela. CEO perusahaan energi Jepang Inpex, Takayuki Ueda, mengatakan perusahaan kini memprioritaskan ketahanan dan diversifikasi portofolio pasokan. "Perusahaan hulu kini berfokus pada ketahanan portofolio, diversifikasi portofolio, diversifikasi sumber pasokan, dan juga keamanan seluruh rantai pasokan," kata Ueda. Inpex saat ini fokus mengembangkan lapangan gas Abadi di Indonesia. Keputusan investasi atau final investment decision (FID) untuk proyek tersebut ditargetkan pada pertengahan 2027. Proyek LNG Abadi memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton per tahun. Dalam jangka panjang, Inpex juga berencana melakukan diversifikasi investasi ke kawasan Amerika, termasuk Amerika Serikat dan kemungkinan Brasil.
Baca Juga: Harga Minyak Turun ke Level Terendah 11 Hari, Pasar Pantau Pertemuan PBB Pasokan LNG global mulai bergeser
Paul Marsden, Presiden perusahaan rekayasa Bechtel, memperkirakan sumber pasokan LNG baru akan berasal dari sejumlah kawasan, termasuk Afrika Timur melalui proyek Rovuma yang dikembangkan ExxonMobil dan TotalEnergies, Arab Saudi, serta kawasan Amerika. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola perdagangan LNG tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga dengan kebutuhan negara-negara konsumen untuk membangun ketahanan energi. Gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat importir LNG Asia semakin memperhatikan aspek keamanan jalur pengiriman dan diversifikasi sumber pasokan. Bagi negara seperti Indonesia yang memiliki cadangan gas dan sejumlah proyek LNG potensial, kondisi tersebut dapat membuka peluang untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok LNG global. Namun, realisasi peluang tersebut tetap bergantung pada perkembangan proyek, keputusan investasi, kapasitas produksi, serta kepastian infrastruktur dan pengiriman LNG.