Perang Iran Jadi Ujian Baru Ketahanan Ekonomi Amerika Serikat (AS)



KONTAN.CO.ID - Ekonomi Amerika Serikat (AS) yang selama setahun terakhir mampu bertahan dari guncangan perdagangan, imigrasi, dan berbagai tekanan lain kini menghadapi ujian baru.

Keputusan Presiden Donald Trump melancarkan serangan terbuka tanpa batas waktu terhadap Iran, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Islamis yang telah lama berkuasa di negara itu, meningkatkan ketidakpastian global.

Serangan balasan mulai terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah. Trump menyebut konflik ini bisa berlangsung setidaknya beberapa pekan.


Baca Juga: Indeks Nikkei Anjlok 3%, Seiring Meluasnya Konflik di Timur Tengah

Melansir Reuters Selasa (3/3/2026), para analis kini mencermati berbagai kemungkinan dampak, mulai dari lonjakan harga minyak hingga gangguan jalur pelayaran global.

Harga minyak sempat melonjak dari kisaran US$70 menjadi hampir US$80 per barel pada akhir pekan sebelum kembali sedikit melemah.

Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital distribusi energi dunia mulai terganggu.

Meski AS relatif lebih terlindungi dari guncangan energi dibanding banyak negara maju lain berkat produksi minyak dan gas domestik, dampak global terhadap perdagangan, harga, dan investasi berpotensi kembali menekan prospek pertumbuhan yang sebelumnya cukup optimistis untuk tahun ini.

Survei terbaru Conference Board menunjukkan kepercayaan CEO terhadap prospek ekonomi AS dan sektor masing-masing meningkat.

Namun hampir 60% responden menilai ketegangan geopolitik sebagai risiko besar yang dapat mengganggu stabilitas.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya menggambarkan prospek ekonomi AS sebagai “kuat”, namun penilaian itu kini diuji oleh konflik tak terduga di kawasan produsen minyak utama dunia.

Baca Juga: Pasokan Minyak Ketat, Kilang Minyak China ZPC Pangkas Produksi

Joseph Lupton, ekonom JPMorgan menilai, pemulihan yang mulai terlihat di awal tahun kini berada dalam risiko.

“Salah satu pilar proyeksi 2026 kami adalah memudarnya kehati-hatian terhadap kebijakan AS. Data awal tahun menunjukkan bisnis mulai kembali merekrut dan meningkatkan belanja modal non-teknologi. Pemulihan awal ini kini terancam,” tulisnya.

Menurutnya, perang militer yang terjadi bersamaan dengan “perang dagang” AS dapat kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas global.

Dampak terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) akan sangat bergantung pada sejauh mana konflik mendorong kenaikan harga minyak dan apakah konflik meluas secara regional atau berubah menjadi konflik internal di Iran, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara.

Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memberikan preseden serupa. Saat itu, respons awal bank sentral AS cenderung dovish sebelum akhirnya kembali agresif menaikkan suku bunga akibat lonjakan inflasi.

Tim Duy, kepala ekonom AS di SGH Macro Advisors, menyebut konflik Iran sebagai “wild card”. Menurutnya, pasar bisa cepat kehilangan perhatian jika konflik berubah menjadi persoalan internal Iran.

Namun Presiden dan CEO SGH Sassan Ghahramani memperingatkan, kemungkinan perang saudara di Iran atau eskalasi taktis yang menyasar pusat-pusat sipil untuk menekan ekonomi global.

Baca Juga: Perang Iran Masuk Hari Keempat, Pasar Global Tertekan dan Harga Energi Melonjak