KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Memasuki pekan ketiga konflik dengan Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi situasi yang kian sulit dikendalikan. Harga energi global melonjak, dukungan sekutu menipis, dan pengerahan pasukan terus meningkat, berlawanan dengan janji awal bahwa operasi militer hanya akan berlangsung singkat. Trump bersikeras operasi berjalan sesuai rencana dan bahkan menyebut pertempuran telah dimenangkan secara militer. Namun, klaim itu berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.
Iran tetap melawan dengan menutup jalur distribusi minyak dan gas di Teluk serta melancarkan serangan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan.
Baca Juga: Harga Bensin AS Naik Imbas Perang Iran, Begini Komentar Trump Konflik yang dimulai sejak 28 Februari itu juga memperlihatkan keterbatasan pengaruh Trump, baik secara diplomatik, militer, maupun politik. Sejumlah negara sekutu, termasuk anggota NATO, menolak terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz. Penolakan ini dinilai sebagai dampak dari memburuknya hubungan AS dengan sekutu tradisionalnya. "Trump terjebak dalam perang yang ia ciptakan sendiri dan kesulitan mencari jalan keluar," ujar Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah. Di sisi lain, Gedung Putih membantah situasi tersebut sebagai kegagalan. Seorang pejabat menyebut operasi militer sebagai keberhasilan yang tak terbantahkan, dengan klaim bahwa sebagian besar kekuatan laut Iran telah dilumpuhkan dan kemampuan misilnya melemah. Meski demikian, tekanan terus meningkat. Perbedaan sikap juga mulai terlihat antara AS dan Israel terkait koordinasi serangan, termasuk serangan ke fasilitas gas Iran. Sementara itu, ribuan personel tambahan AS dilaporkan mulai dikerahkan ke Timur Tengah, meski belum ada keputusan untuk mengirim pasukan langsung ke wilayah Iran.
Baca Juga: Donald Trump Berupaya Benarkan Perang Iran, Tujuan Operasi Dinilai Berubah-ubah Analis menilai Trump kini berada di persimpangan. Ia bisa meningkatkan ofensif militer dengan risiko keterlibatan jangka panjang yang tidak populer di dalam negeri. Sebaliknya, jika memilih mundur dan mengklaim kemenangan, langkah itu berpotensi mengecewakan sekutu di Teluk yang masih menghadapi ancaman Iran. Situasi ini juga mulai memengaruhi dukungan politik domestik. Sejumlah tokoh konservatif dan pendukung gerakan MAGA mulai mempertanyakan arah perang, terutama jika harga energi terus naik dan pengerahan pasukan bertambah. “Ketika dampak ekonomi terasa, publik akan bertanya kenapa mereka harus menanggung harga energi tinggi,” kata Dave Wilson. Sejumlah analis menilai salah satu kesalahan terbesar pemerintah AS adalah meremehkan respons Iran terhadap konflik yang dianggap sebagai ancaman eksistensial. Teheran membalas dengan kombinasi rudal dan drone, sekaligus mengganggu arus perdagangan minyak global melalui Selat Hormuz—jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Baca Juga: Pentagon Umumkan Empat Tentara AS Tewas Pertama dalam Perang Iran Mantan duta besar AS, John Bass, menilai pemerintah kurang mengantisipasi berbagai skenario terburuk. “Mereka gagal memperhitungkan kemungkinan konflik berjalan di luar rencana,” ujarnya. Seiring konflik berlarut, Trump juga dinilai kesulitan mengendalikan narasi publik. Ia bahkan menyerang media dan menuding adanya pengkhianatan atas pemberitaan yang dianggap merugikan. “Dia kesulitan menjelaskan alasan perang ini dan langkah selanjutnya,” kata Brett Bruen. “Kontrolnya atas pesan politik mulai melemah.” Dengan belum adanya strategi keluar yang jelas, perang ini kini tidak hanya menguji kekuatan militer AS, tetapi juga masa depan politik Trump dan Partai Republik menjelang pemilu mendatang.