Perang Iran Picu Kelangkaan Plastik, Kemasan Ramah Lingkungan Kebanjiran Pesanan



KONTAN.CO.ID - Perang di Timur Tengah membawa dampak tak terduga bagi industri kemasan di Asia. Kelangkaan plastik akibat terganggunya pasokan minyak dan petrokimia justru membuka peluang bagi produk kemasan ramah lingkungan berbasis kertas.

Mengutip Reuters pada Rabu (15/4/2026), produsen kemasan asal Korea Selatan, Yonwoo, mencatat lonjakan permintaan hingga tiga kali lipat untuk produk tabung dan kantong berbahan kertas.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat Rabu (15/4), Harapan Negosiasi AS-Iran Angkat Saham Tambang


Lonjakan ini terjadi seiring harga plastik yang melonjak ke level tertinggi dalam sekitar empat tahun, dipicu gangguan pasokan bahan baku akibat konflik Iran yang menutup jalur energi penting seperti Selat Hormuz.

Menurut Kim Min-sang, manajer senior di perusahaan induk Kolmar Korea, minat awal terhadap kemasan ramah lingkungan memang datang dari perusahaan yang fokus pada keberlanjutan.

Namun, jika krisis plastik berlanjut, permintaan diperkirakan akan meningkat lebih jauh.

Yonwoo sendiri merupakan pemasok bagi sejumlah perusahaan global, termasuk L'Oréal.

Produk kemasan berbasis kertas yang mereka tawarkan hanya menggunakan sekitar 20% plastik dibandingkan kemasan konvensional.

Baca Juga: Emas Stabil di Puncak Sepekan Rabu (15/4) Pagi, Pasar Tunggu Kepastian Damai AS-Iran

Asia Tertekan, Ketergantungan Plastik Tinggi

Asia merupakan salah satu wilayah dengan konsumsi plastik terbesar di dunia.

Data OECD menunjukkan, China, Jepang, Korea Selatan, dan Asia Tenggara menyumbang hampir sepertiga penggunaan plastik global pada 2022 atau melonjak hingga 900% sejak 1990.

Selain itu, kawasan ini juga menyumbang lebih dari sepertiga limbah plastik yang mencemari lingkungan, terutama akibat sistem pengelolaan sampah yang belum optimal di negara berkembang.

Di Jepang, kekhawatiran terhadap kelangkaan plastik mulai terasa. Manajer produk Marutake supermarket Kensuke Takahashi mengaku, pihaknya mulai mempertimbangkan cara berjualan tanpa kemasan plastik jika pasokan benar-benar terhenti.

Produsen bahan kimia seperti Mitsubishi Chemical dan Sanipak bahkan telah mengumumkan rencana kenaikan harga hingga 30% untuk beberapa produk plastik dalam waktu dekat.

Baca Juga: Kapal Tanker China Rich Starry Mundur, Blokade AS di Selat Hormuz Makin Ketat

Industri Dipaksa Beradaptasi

Kenaikan harga dan kelangkaan bahan baku memaksa pelaku industri beralih ke alternatif lain.

Di Malaysia, produsen susu Farm Fresh sementara waktu mengganti kemasan plastik dengan karton berbasis kertas.

Namun, tidak semua perusahaan dapat beradaptasi dengan cepat. Produsen kemasan masker asal Korea Selatan, Gaone International, terpaksa memangkas produksi hingga hanya 10%–20% dari kapasitas normal karena kesulitan bahan baku.

Perusahaan tersebut bahkan memperingatkan pelanggan tentang potensi keterlambatan pengiriman hingga delapan minggu, yang berisiko menekan pendapatan.

Di sisi lain, produsen material biodegradable berbasis bambu asal Taiwan, Lastic, juga mulai melihat peningkatan minat kembali dari pembeli AS, setelah sebelumnya terdampak kebijakan tarif.

Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Menguat, Dolar AS Tertekan ke Level Terendah 6 Pekan Rabu (15/4)

Peluang “Hijau” di Tengah Krisis

Meski dipicu oleh krisis geopolitik, pergeseran menuju kemasan ramah lingkungan dinilai bisa menjadi momentum percepatan transisi di Asia.

Namun, analis menilai tren ini masih dibayangi ketidakpastian. Jika konflik mereda dan pasokan plastik kembali normal, permintaan terhadap alternatif ramah lingkungan berpotensi kembali melandai.

Dengan kata lain, krisis ini membuka peluang bagi industri “hijau”, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada arah geopolitik dan harga energi global ke depan.