Perang Iran Picu Krisis Energi, India Kembali Dekat ke Rusia



KONTAN.CO.ID - Ketegangan geopolitik akibat perang yang dipicu Donald Trump terhadap Iran mendorong India kembali mempererat kerja sama energi dengan Rusia.

Setelah sempat memangkas impor minyak Rusia pada awal tahun sebagai konsesi terhadap tekanan Amerika Serikat (AS), New Delhi kini berbalik arah.

India dan Rusia disebut tengah menyiapkan kesepakatan baru untuk melanjutkan pasokan energi, termasuk kemungkinan dimulainya kembali impor gas alam cair (LNG) Rusia.


Baca Juga: Huawei Kian Percaya Diri, Chip AI Baru Dilirik ByteDance dan Alibaba

Melansir Reuters Jumat (27/3/2026), mengacu sumbernya menyebutkan, kesepakatan awal untuk membahas kerja sama LNG tercapai dalam pertemuan antara Wakil Menteri Energi Rusia Pavel Sorokin dan Menteri Perminyakan India Hardeep Singh Puri di New Delhi pada 19 Maret 2026.

Tak hanya LNG, kedua negara juga berencana meningkatkan pasokan minyak mentah Rusia ke India.

Porsinya bahkan berpotensi melonjak hingga menyumbang 40% dari total impor minyak India dalam waktu dekat.

Perubahan arah kebijakan ini terjadi di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah, terutama setelah serangan AS-Israel ke Iran yang memicu gangguan di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi India.

Baca Juga: Singapura Siapkan Diri Jadi Pusat Perdagangan Emas Asia

Gangguan tersebut berdampak langsung pada pasokan energi domestik India. Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar hingga kelangkaan gas memasak mulai terlihat di sejumlah wilayah.

Dalam kondisi ini, pasokan energi Rusia menjadi alternatif strategis karena jalur distribusinya tidak melewati kawasan Teluk yang rawan konflik.

Padahal sebelumnya, India sempat mengurangi impor minyak Rusia secara signifikan setelah AS memberlakukan tarif tinggi hingga 50% terhadap produk India pada Agustus lalu.

Namun, keputusan tersebut kini dinilai kontraproduktif di tengah krisis energi.

Dokumen internal pemerintah India yang dikutip Reuters menyebut, pengurangan impor minyak Rusia membuat India kehilangan bantalan terhadap gejolak harga energi global.

Jika gangguan pasokan dari Timur Tengah berlanjut, India berisiko menghadapi tekanan ekonomi berupa kenaikan inflasi, pelemahan mata uang, hingga lonjakan utang luar negeri.

Pertumbuhan ekspor bahkan diperkirakan bisa terpangkas 2%–4%.

Baca Juga: Yuan China Dekati Level Terendah 3 Minggu, Didorong Permintaan Aman ke Dolar

Di sisi lain, Rusia memanfaatkan momentum ini untuk memperluas pengaruhnya. Selain energi, Moskow juga menawarkan kerja sama di sektor infrastruktur kelistrikan hingga peningkatan konektivitas penerbangan langsung dengan India.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut hubungan kedua negara semakin erat, dengan sekitar 96% transaksi perdagangan kini menggunakan mata uang lokal, yakni rupee dan rubel.

“Hubungan Rusia-India menjadi contoh kerja sama yang dibangun atas dasar kepercayaan dan kepentingan bersama,” ujarnya.

Ke depan, langkah India yang kembali merapat ke Rusia menunjukkan pragmatisme dalam menjaga ketahanan energi di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks.