Perang Iran Picu Krisis LPG di India, Restoran Terancam Tutup



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik perang yang melibatkan Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel mulai menimbulkan dampak nyata terhadap sektor industri di India. Restoran dan hotel di berbagai kota besar di negara tersebut memperingatkan potensi gangguan operasional hingga penutupan sementara akibat terganggunya pasokan gas memasak.

Gangguan pasokan ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah menghentikan lalu lintas kapal di kawasan Teluk serta Selat Hormuz. Situasi tersebut memicu lonjakan harga energi dan biaya transportasi global, sekaligus menekan ekspor serta produksi energi dari negara produsen di kawasan Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi.

Sebagai importir liquefied petroleum gas (LPG) terbesar kedua di dunia, India terpaksa mengambil langkah darurat. Pemerintah India pekan lalu menggunakan kewenangan darurat untuk memerintahkan perusahaan kilang meningkatkan produksi LPG untuk kebutuhan domestik. Kebijakan ini membuat sektor perhotelan dan restoran kesulitan memperoleh pasokan gas yang cukup.


Pendiri jaringan restoran makanan Meksiko California Burrito, Bert Mueller, mengatakan perusahaannya hanya memiliki stok LPG untuk dua hari ke depan.

Baca Juga: Mata Uang Rupee India Jatuh ke Level Terendah Sepanjang Masa

“Kami memiliki stok LPG untuk dua hari. Kami sedang menyiapkan langkah darurat,” ujar Mueller, yang mengoperasikan lebih dari 100 gerai di kota-kota seperti Bengaluru, Chennai, Delhi, dan Noida.

Ia menambahkan bahwa perusahaannya mulai menghemat penggunaan gas serta memasang kompor induksi di beberapa gerai untuk mengurangi ketergantungan pada LPG.

Sementara itu, kementerian minyak India menyatakan telah membentuk panel khusus untuk meninjau permintaan pasokan LPG dari restoran dan berbagai sektor industri lainnya. Langkah ini diambil setelah adanya permohonan dari sejumlah asosiasi industri.

Dalam surat kepada kementerian pengolahan pangan India, National Restaurant Association of India (NRAI) menegaskan bahwa industri restoran sangat bergantung pada LPG komersial untuk operasional sehari-hari.

“Asosiasi restoran sangat bergantung pada LPG komersial. Gangguan pasokan akan menyebabkan penutupan besar-besaran,” tulis NRAI dalam surat tersebut.

Permintaan bantuan pemerintah juga datang dari Federation of Hotel & Restaurant Associations of India, yang memperingatkan dampak serius bagi sektor perhotelan jika pasokan energi tidak segera stabil.

Di tengah krisis pasokan, perusahaan energi India juga mulai menaikkan harga LPG untuk pertama kalinya dalam sekitar satu tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga impor, yang selama ini memenuhi sekitar dua pertiga kebutuhan LPG tahunan India.

Krisis energi semakin diperburuk setelah pemasok gas alam cair terbesar India, yaitu QatarEnergy, menghentikan produksi pekan lalu. Langkah tersebut diambil setelah serangan balasan Iran terhadap sejumlah negara Teluk menyusul serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Akibat Perang Timur Tengah Tekan Rupee India

Pasokan Menyusut

Di kota teknologi Bengaluru yang dikenal sebagai Silicon Valley India, sejumlah restoran mengaku pengiriman tabung gas menurun drastis. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa aktivitas dapur restoran dapat berhenti jika krisis berlanjut.

Pemilik jaringan restoran Udupi Food Hub di Bengaluru, Manish V Shetty, mengatakan salah satu restorannya bahkan tidak menerima kiriman tabung gas pada hari ini.

“Salah satu restoran kami tidak menerima tabung gas hari ini,” ujarnya.

Shetty mengaku beruntung karena salah satu pemasok lama membantu menyediakan gas. Hal itu dimungkinkan karena restorannya menerapkan pembayaran langsung, bukan sistem kredit mingguan atau bulanan seperti yang umum dilakukan.

Selain gas, restoran juga menghadapi kenaikan harga bahan baku lain, seperti minyak bunga matahari yang digunakan untuk memasak.

Sekretaris Bengaluru Hotels Association, Veerendra Kamat, mengatakan sebagian besar restoran tidak menyimpan banyak tabung LPG karena pertimbangan keselamatan. Mereka biasanya mengandalkan pasokan yang diganti secara berkala.

“Ini situasi yang sangat serius. Sebagian besar perusahaan gas sudah menghentikan pasokan,” ujar Ananth Narayan dari cabang Bengaluru NRAI.

Ia menambahkan bahwa bahkan restoran yang memiliki cadangan LPG kemungkinan hanya mampu bertahan selama satu hingga dua minggu jika pasokan tidak segera pulih.