Perang Iran Picu Krisis Rantai Pasok Asia, Harga Plastik hingga Makanan Melonjak



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dampak konflik antara Iran dan koalisi Barat mulai terasa luas di kawasan Asia. Dari makanan ringan, mi instan, hingga kosmetik dan mainan, perusahaan dan konsumen menghadapi tekanan berat akibat terganggunya rantai pasok global, lonjakan harga energi, serta kelangkaan bahan baku.

Gangguan ini terutama dipicu oleh situasi di Selat Hormuz, jalur penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Ketergantungan tinggi Asia terhadap energi dari Timur Tengah membuat kawasan ini paling rentan terhadap gejolak tersebut.

Industri Mulai Terpukul, Produksi Turun Drastis

Salah satu dampak paling nyata dirasakan oleh industri plastik. Choi Gun-soo, manajer pabrik film plastik di Korea Selatan, mengungkapkan bahwa harga bahan baku melonjak hingga 50%, bahkan beberapa pemasok kehabisan stok.


Akibatnya, perusahaan terpaksa memangkas produksi hingga hanya 20%–30% dari kapasitas normal. Ia memperingatkan bahwa satu hingga dua pekan ke depan menjadi periode kritis bagi kelangsungan operasional pabrik.

Gangguan pasokan ini diperburuk oleh kelangkaan nafta—turunan minyak yang menjadi bahan utama produksi plastik dan petrokimia. Produk seperti plastik dan karet kini mencatat harga tertinggi, memperbesar tekanan pada industri manufaktur.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Ingin Damai, Teheran Bantah di Tengah Dampak Perang Global

Mi Instan hingga Kosmetik Terancam Naik Harga

Perusahaan makanan seperti Samyang Foods mengingatkan potensi kenaikan biaya akibat kelangkaan bahan kemasan. Produk mi instan sangat bergantung pada plastik jenis PET, yang juga digunakan luas dalam industri makanan dan produk perawatan pribadi.

Produsen lain seperti Nongshim menyebut stok bahan kemasan hanya cukup untuk dua hingga tiga bulan, sambil bersiap menghadapi konflik yang berpotensi berkepanjangan.

Di sektor kosmetik, pemasok kemasan untuk merek global seperti L'Oréal dan perusahaan K-beauty seperti Amorepacific juga berjuang mengamankan resin plastik. Tanpa kemasan, produk tidak dapat dijual, terlepas dari harga.

Dampak Meluas ke Berbagai Sektor

Efek domino dari krisis ini merambah berbagai industri. Perusahaan ritel Jepang Takashimaya memperingatkan potensi kenaikan harga pakaian dan peralatan rumah tangga jika krisis berlanjut.

Bahkan sektor makanan ringan ikut terdampak. Produksi keripik populer Jepang sempat dihentikan karena kelangkaan bahan bakar berat yang digunakan dalam proses produksi.

Di China, yang memproduksi hampir setengah karet sintetis dunia, gangguan pasokan nafta memaksa produsen mempertimbangkan kenaikan harga atau beralih ke bahan alternatif. Produksi diperkirakan turun hingga sepertiga pada April.

Produsen global seperti Michelin juga mengakui tengah menyesuaikan rantai pasok untuk memenuhi kontrak di tengah gangguan distribusi.

Harga Energi dan Inflasi Tekan Konsumen

Lonjakan harga minyak turut berdampak langsung pada biaya bahan bakar seperti bensin, solar, hingga gas memasak. Di India, harga air minum kemasan naik akibat mahalnya botol plastik, sementara produsen bir global memperingatkan kenaikan harga akibat kelangkaan gas.

Di pusat manufaktur China seperti Dongguan, produsen mainan yang memasok ke ritel besar seperti Walmart mulai menaikkan harga produk baru untuk mengimbangi biaya bahan baku yang melonjak.

Baca Juga: Malaysia Krisis Pupuk, Simak Strategi Pemerintah

Kepanikan Konsumen Mulai Terjadi

Kekhawatiran terhadap kelangkaan barang telah memicu aksi panic buying di sejumlah negara. Di Korea Selatan, supermarket melaporkan kekurangan kantong sampah karena lonjakan permintaan.

Seorang mahasiswa, Ryu June-ho, mengaku membeli dalam jumlah besar karena khawatir harga akan terus naik. Selain kantong sampah, ia juga menimbun mi instan karena biaya kemasan plastik menjadi faktor utama dalam harga produk.

Risiko Berkelanjutan bagi Ekonomi Global

Para analis menilai, selama konflik belum mereda dan akses di Selat Hormuz belum pulih, tekanan terhadap rantai pasok global akan terus berlanjut. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga langsung menghantam konsumen melalui kenaikan harga barang sehari-hari.

Dengan ketergantungan tinggi terhadap energi dan bahan baku dari Timur Tengah, Asia diperkirakan akan tetap menjadi kawasan yang paling terdampak dalam krisis ini.