Perang Iran Picu Lonjakan Harga Plastik hingga 40%, Industri Barang Konsumen Tertekan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik berkepanjangan antara Iran dan sekutunya telah memicu lonjakan harga minyak global yang berdampak langsung pada biaya bahan baku industri plastik.

Produsen kemasan plastik rigid terbesar di India, Alternicq, mengungkapkan bahwa biaya bahan baku plastik untuk produk kebutuhan sehari-hari, cat, dan produk perawatan pribadi melonjak hingga 40% sejak perang dimulai.

Lonjakan ini terutama terjadi pada harga polyethylene terephthalate (PET) dan polypropylene (PP), dua polimer utama yang digunakan untuk membuat berbagai produk plastik. Kedua bahan tersebut berasal dari minyak mentah, sehingga kenaikan harga energi global langsung memengaruhi biaya produksinya.


Thimmaiah Napanda, CEO dan Managing Director Alternicq, mengatakan harga PET dan polypropylene masing-masing telah naik sekitar 40% sejak konflik dimulai.

Baca Juga: IEA Sebut Konflik Iran-AS-Israel Picu Krisis Energi Terburuk dalam Sejarah

Kenaikan harga bahan baku tersebut mulai memberikan tekanan pada margin keuntungan perusahaan barang konsumsi, produk perawatan pribadi, hingga industri cat.

Alternicq sendiri memasok kemasan plastik untuk sejumlah perusahaan besar seperti Marico, Hindustan Unilever, dan Asian Paints.

Seiring naiknya biaya produksi, sebagian tekanan harga kini mulai diteruskan produsen kepada konsumen akhir. Produk sehari-hari seperti air minum kemasan diperkirakan menjadi salah satu kategori yang paling cepat merasakan dampaknya.

Menurut Napanda, Alternicq telah mulai meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada para kliennya untuk membatasi dampak finansial terhadap perusahaan.

Baca Juga: Elon Musk Tambah Kepemilikan Saham di SpaceX Senilai US$ 1,4 Miliar

Namun, ia memperkirakan harga bahan baku dapat kembali normal dalam empat hingga enam bulan ke depan apabila konflik segera mereda dan pasokan minyak global pulih.

Alternicq juga menyebut hubungan jangka panjang dengan perusahaan kilang seperti Reliance Industries membantu perusahaan mengurangi sebagian dampak gangguan pasokan minyak.

Meski demikian, jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang, industri barang konsumsi global berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar, baik dari sisi biaya produksi maupun daya beli konsumen.