Perang Iran Picu Lonjakan Minat Mobil Listrik di Eropa, Penjualan Melesat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh konflik Iran mendorong peningkatan permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) baru maupun bekas di berbagai negara Eropa.

Data industri yang diperoleh Reuters menunjukkan tren tersebut semakin menguat, meski sejumlah pelaku industri memperingatkan bahwa minat konsumen dapat kembali melemah apabila harga BBM turun.

Para analis menilai kenaikan permintaan EV tidak hanya didorong oleh mahalnya harga bahan bakar, tetapi juga oleh semakin berkembangnya infrastruktur pengisian daya serta hadirnya berbagai model kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau, termasuk dari produsen asal China.


Baca Juga: Thailand Hidupkan Kembali Proyek Koridor US$30 Miliar untuk Saingi Selat Malaka

Registrasi Mobil Listrik di Eropa Melonjak 34%

Data dari lembaga riset New Automotive dan asosiasi industri E-Mobility Europe menunjukkan bahwa registrasi kendaraan listrik baru meningkat 34% secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei di 17 pasar yang mencakup lebih dari 90% penjualan mobil di kawasan Uni Eropa dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA).

Bahkan, mobil listrik berbasis baterai penuh (battery electric vehicle/BEV) kini menyumbang hampir satu dari setiap empat kendaraan baru yang terdaftar di pasar tersebut.

Konflik Iran dan Gangguan Pasokan Minyak Jadi Pemicu

Meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata, gangguan pengiriman minyak masih terjadi sehingga arus distribusi melalui Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk kembali normal.

Kondisi tersebut membuat harga minyak dan BBM diproyeksikan tetap berada pada level tinggi dalam beberapa bulan ke depan, sehingga mendorong masyarakat mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih hemat biaya operasional.

Renault: Pesanan Mobil Listrik Naik 50%

Chief Executive Officer Renault, Francois Provost, mengungkapkan bahwa daftar pemesanan kendaraan listrik perusahaan meningkat hingga 50% di beberapa negara sejak konflik Iran dimulai pada akhir Februari.

Namun, ia memperkirakan laju pertumbuhan tersebut dapat melambat apabila harga bahan bakar kembali turun.

Dalam keterangannya, Provost mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan "akan menurun" apabila harga BBM mengalami penurunan.

Ford: Minat Konsumen Meningkat, Tetapi Belum Tentu Permanen

Sementara itu, pimpinan Ford untuk wilayah Eropa, Jim Baumbick, menyebut konflik tersebut telah meningkatkan perhatian konsumen terhadap kendaraan listrik.

Menurutnya, "konflik ini telah meningkatkan minat pelanggan terhadap kendaraan listrik", namun ia mengingatkan agar fenomena tersebut tidak langsung dianggap sebagai perubahan perilaku jangka panjang.

Baca Juga: JPMorgan batasi akses AI Claude di Hong Kong

Mobil Listrik Murah Semakin Banyak Bermunculan

Di saat bersamaan, produsen otomotif terus meluncurkan model EV dengan harga lebih terjangkau di pasar Eropa. Langkah ini menjadi solusi atas salah satu hambatan utama adopsi kendaraan listrik, yakni harga awal yang selama ini lebih mahal dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal.

Produsen asal China juga mulai memperluas portofolionya ke segmen mobil kompak. Salah satunya adalah BYD yang meluncurkan model hatchback Dolphin G di Berlin pekan lalu.

Mantan eksekutif Nissan, Andy Palmer, yang pernah meluncurkan mobil listrik massal Leaf, menilai masuknya produk-produk China memberikan dampak signifikan terhadap pasar.

Ia mengatakan: "Minat konsumen terhadap kendaraan listrik jelas terdorong oleh hadirnya mobil-mobil China yang murah dan berkualitas sangat baik di pasar."

Pasar Mobil Listrik Bekas Ikut Bergairah

Tidak hanya kendaraan baru, pasar mobil listrik bekas juga mengalami peningkatan permintaan.

Platform jual beli daring OLX melaporkan bahwa prospek penjualan merek-merek China di Prancis melonjak lebih dari empat kali lipat secara tahunan pada Mei.

Sementara itu, platform otomotif Carwow di Jerman menyebut tingkat ketertarikan terhadap kendaraan listrik—yang diukur dari konfigurasi kendaraan dan permintaan pembelian—telah stabil di kisaran 70% hingga 75%, meningkat dari sekitar 40% pada awal tahun.

Managing Director Carwow Jerman, Philipp Sayler von Amende, menyatakan: "Perkembangan ini telah berubah dari sekadar efek jangka pendek menjadi tren yang berkelanjutan."

Harga Mobil Listrik Bekas Masih Lebih Murah

Harga mobil listrik bekas saat ini juga relatif kompetitif. Penurunan harga yang dipelopori Tesla pada 2023 sempat memangkas nilai jual kembali kendaraan listrik, meski kini harga mulai bergerak naik seiring meningkatnya permintaan.

Platform mobil bekas Denmark, Bilbasen, bahkan memperkirakan harga mobil listrik bekas akan naik sekitar 10% sepanjang tahun ini.

Baca Juga: Citigroup Tunda Prediksi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Meski demikian, secara umum mobil listrik bekas masih dijual lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil dengan usia yang setara.

Di Inggris, mobil listrik berusia dua hingga empat tahun dijual sekitar 33% dari harga awalnya, sedangkan mobil berbahan bakar fosil masih mempertahankan sekitar 52% dari nilai awal.

Prospek Pasar Dinilai Tetap Positif

Direktur Insight Cox Automotive, Philip Nothard, menilai pasokan kendaraan listrik baru dan bekas yang semakin terjangkau akan terus menopang permintaan, bahkan jika harga BBM nantinya kembali turun.

Ia mengatakan: "Pasar seharusnya akan stabil. Saya sangat meragukan bahwa kita akan melihat penurunan."

Dengan kombinasi harga kendaraan yang semakin kompetitif, pilihan model yang kian beragam, serta biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan mobil konvensional, kendaraan listrik diperkirakan akan terus memperkuat posisinya di pasar otomotif Eropa dalam jangka menengah hingga panjang.