KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri restoran di Dubai menghadapi tekanan berat akibat dampak konflik di Iran yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Gangguan rantai pasok, lonjakan biaya logistik, hingga penurunan jumlah pelanggan menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha kuliner di kota tersebut. Salah satu yang terdampak adalah chef Shaw Lash dari restoran Meksiko Lila Molino. Ia mengandalkan bahan impor seperti alpukat dan tomatillo—buah kecil berwarna hijau khas Amerika Tengah—yang menjadi bahan utama dalam masakan Meksiko. Namun, konflik yang memicu penutupan jalur laut Selat Hormuz membuat pasokan bahan tersebut semakin sulit diperoleh dan harganya melonjak.
Kenaikan harga bahan bakar jet juga mendorong biaya pengiriman udara meningkat signifikan, sehingga memperparah tekanan biaya operasional restoran. Lash mengaku telah mengurangi produksi, memangkas jumlah karyawan, dan membeli bahan dalam jumlah lebih kecil sebagai langkah sementara. "Kenyataannya biaya pengiriman kargo menjadi lebih mahal, harga bahan bakar meningkat, dan Selat Hormuz masih tertutup," ujar Lash. "Hal ini benar-benar menimbulkan masalah bagi kami dari sisi pasokan." tambahnya.
Baca Juga: Sekjen PBB Tegaskan Iuran AS kepada PBB Wajib Dibayar, Tak Bisa Dinegosiasikan Untuk bertahan, Lash kini fokus pada penjualan paket masak sendiri (fajita kit) dan lini produk bahan makanan.
Permintaan Menurun, Industri Tertekan
Dampak konflik juga terasa pada sisi permintaan. Industri restoran layanan penuh di Uni Emirat Arab yang sebelumnya diperkirakan mencapai US$ 11,3 miliar pada 2026 kini menghadapi risiko perlambatan. Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur utama impor bagi negara yang mengandalkan lebih dari 80% pasokan makanan dari luar negeri—memperburuk situasi. Konflik juga menekan sektor pariwisata, pusat perbelanjaan, hingga penjualan barang mewah, yang selama ini menjadi penopang ekonomi Dubai. Survei oleh Juniper Strategy dan Global Restaurant Investment Forum menunjukkan bahwa permintaan di sektor foodservice turun rata-rata 27% dibandingkan tahun lalu, sementara biaya pemasok naik sekitar 13%. Wilayah yang bergantung pada wisatawan dan kawasan bisnis menjadi yang paling terdampak, sementara restoran di area permukiman relatif lebih stabil. Pemerintah Dubai melalui otoritas ekonomi dan pariwisata menyebut pelaku usaha tengah menghadapi periode “disrupted footfall” atau penurunan jumlah pengunjung, namun mulai beradaptasi dengan berbagai strategi seperti penawaran promosi, format layanan baru, dan inisiatif berbasis komunitas.
Baca Juga: Warren Buffett Lepas Peran CEO, Sorotan Beralih ke Greg Abel di Berkshire Beralih ke Bahan Lokal
Untuk menekan biaya, sejumlah chef mulai beralih menggunakan bahan lokal. Chef Kelvin Cheung dari restoran fusion Jun’s Dubai menyebut pengiriman bahan segar impor seperti kerang Norwegia atau seafood Jepang kini menjadi sangat mahal. "Satu-satunya pilihan adalah menggunakan pengiriman udara, yang akan meningkatkan biaya kami sekitar tiga puluh hingga tiga puluh lima persen," ujarnya. Akibatnya, Cheung mengganti menu dengan ikan lokal dan memperkenalkan paket menu enam hidangan dengan harga lebih terjangkau. Meski demikian, ia tetap mempertahankan seluruh karyawan. Secara keseluruhan, tarif pengiriman udara dilaporkan melonjak hingga 70% di beberapa rute akibat kenaikan harga bahan bakar dan terganggunya distribusi minyak dari kawasan Teluk. "Pariwisata mengalami pukulan besar," kata Cheung, menyoroti hilangnya lonjakan wisatawan yang biasanya menjadi pendorong utama konsumsi.
Tekanan Lama Makin Terasa
Menurut penulis kuliner Courtney Brandt, konflik ini memperparah masalah lama seperti tingginya biaya tetap, ketergantungan pada pariwisata, dan kerentanan rantai pasok. Ia menilai pasar restoran Dubai memang sudah jenuh sebelum konflik terjadi.
Baca Juga: Ekonomi Iran Tertekan Akibat Konflik, Namun Masih Bertahan di Tengah Blokade AS "Kami memang sudah menuju fase koreksi," ujarnya. Beberapa restoran fine dining bahkan memilih tutup sementara untuk renovasi, sementara lainnya tetap membuka gerai baru di Dubai dan Abu Dhabi.
Tanda Pemulihan Mulai Terlihat
Meski tekanan masih terasa, pelaku industri mulai melihat tanda-tanda pemulihan seiring berlakunya gencatan senjata sejak awal April dan aktivitas kota yang perlahan kembali normal. "Dalam beberapa minggu terakhir, terutama dengan adanya gencatan senjata dan dimulainya kembali aktivitas sekolah, kami mulai melihat peningkatan positif dalam bisnis dan pergerakan secara keseluruhan di kota. Ada rasa bahwa kondisi normal perlahan kembali," kata Cheung.