Perang Iran vs Israel-AS Bakal Panjang, Tekan Ekonomi:Penerimaan Turun Harga BBM Naik



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) diprediksi akan berlangsung cukup lama, bahkan dapat memakan waktu hingga tiga sampai enam bulan. Eskalasi konflik ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global serta mengganggu aktivitas perdagangan dunia. Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah mengatakan konflik tersebut tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga fasilitas energi seperti kilang minyak yang dapat mengganggu pasokan minyak global. Menurutnya, serangan terhadap fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang sempat memicu lonjakan harga minyak dunia. “Yang diserang bukan hanya pangkalan militer Amerika, tetapi juga kilang-kilang minyak. Ini berarti suplai minyak global pasti akan terganggu,” ujar Piter saat ditemui Kontan di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga: Perang Iran Diprediksi Panjang, Ekonom Prasasti: Pemerintah Perlu Efisiensi Fiskal Ia menilai konflik tersebut berpotensi berlangsung lebih lama karena Iran diperkirakan tidak akan menghentikan serangan terhadap Israel maupun fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, meskipun AS menyatakan akan mengakhiri keterlibatannya. Di sisi lain, sejumlah negara yang menjadi rival AS seperti Rusia, China, dan Korea Utara juga dinilai tidak akan membiarkan Iran kalah dalam konflik tersebut. Jika Iran berhasil unggul, situasi ini dapat membuka peluang perubahan dalam tatanan geopolitik global yang selama ini didominasi AS. Piter memperkirakan dengan eskalasi konflik yang meningkat, harga minyak berpotensi bertahan di atas US$ 100 per barel. Bahkan sebelumnya sempat muncul proyeksi harga minyak bisa menyentuh US$ 150 per barel, meski kemudian sempat turun di bawah US$ 100. Ia menilai eskalasi konflik justru menunjukkan peningkatan, terlihat dari penggunaan persenjataan dengan daya ledak yang lebih besar dalam serangan terbaru. “Ini berarti eskalasinya bukan menurun, tapi justru meningkat. Dengan kondisi seperti ini, konflik berpotensi berlangsung lama dan harga minyak akan tetap tinggi,” jelasnya.

Baca Juga: Gejolak Timur Tengah Hantam Industri Nasional, Pengusaha Ungkap Dampak & Mitigasinya Selain kenaikan harga minyak, konflik juga diperkirakan memicu gangguan rantai pasok global. Biaya pengiriman (shipping cost) diprediksi meningkat dan aktivitas perdagangan internasional berpotensi melambat. Bagi Indonesia, kondisi tersebut dinilai dapat berdampak pada kinerja ekonomi. Hal ini karena industri domestik masih bergantung pada impor bahan baku dan bahan penolong, sementara ekspor juga berpotensi terganggu akibat penurunan aktivitas perdagangan global. Jika aktivitas ekonomi melambat, Piter menilai penerimaan negara juga berpotensi tertekan, termasuk dari pajak ekspor maupun pajak pertambahan nilai (PPN). Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi mendorong kenaikan harga BBM domestik apabila tidak direspons oleh kebijakan pemerintah. “Kalau harga minyak melonjak, akan menyebabkan harga BBM domestik melonjak drastis, dan memicu tekanan inflasi yang tinggi,” katanya.


Baca Juga: Belanja Subsidi Pemerintah Berpotensi Melonjak Imbas Perang AS,Israel - Iran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News