Perang Rusia-Ukraina Meluas ke Laut Hitam, NATO Perkuat Pertahanan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi perang Rusia dan Ukraina di Laut Hitam semakin meningkatkan risiko keamanan bagi negara-negara anggota NATO di kawasan tersebut. Serangkaian serangan terhadap kapal dagang di dekat perairan Rumania dan Bulgaria mendorong NATO memperkuat pertahanan di wilayah sayap timurnya.

Aliansi militer pimpinan Amerika Serikat (AS) itu menyatakan akan mengerahkan pesawat patroli maritim, radar, dan drone untuk meningkatkan pengawasan serta memperkuat pertahanan di kawasan Laut Hitam.

Langkah tersebut diambil setelah tujuh serangan terhadap kapal kargo terjadi di dekat Rumania dan Bulgaria sepanjang Oktober 2026. Namun, ancaman belum mereda. Pada 23 Oktober, sebuah kapal kembali terkena serangan tepat di luar perairan Rumania.


Pekan lalu, sebuah kapal kontainer asal Yunani bahkan tenggelam setelah dihantam drone laut di zona ekonomi eksklusif Bulgaria.

Rentetan serangan tersebut memperlihatkan bagaimana konflik maritim Rusia dan Ukraina semakin berkembang menjadi tantangan serius bagi NATO. Negara-negara anggota yang berbatasan dengan Laut Hitam, terutama Rumania dan Bulgaria, kini menghadapi risiko keamanan yang semakin besar.

Baca Juga: Dituding AS Jadi Dalang Pembobolan Binance, Korea Utara: Tidak Masuk Akal!

Sejumlah analis militer meyakini serangan-serangan tersebut dilakukan Rusia. Perusahaan keamanan pelayaran Ambrey menyebut drone laut yang terlihat dalam rekaman serangan terakhir memiliki kemiripan dengan salah satu varian drone milik Rusia.

"Saya pikir ini tidak dapat disangkal merupakan sebuah eskalasi," ujar Sidharth Kaushal, peneliti senior di lembaga kajian pertahanan Royal United Services Institute (RUSI) yang berbasis di London.

Rusia membantah menargetkan negara-negara tetangga Ukraina menggunakan drone. Moskow justru menuding pemerintah negara-negara Eropa sebagai pihak yang memperburuk konflik melalui pemberian bantuan militer kepada Kyiv.

Kementerian Pertahanan Rusia tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters terkait laporan tersebut.

Analis Sebut Rusia Sedang Menguji Batas Respons NATO

Sejumlah kapal yang menjadi sasaran serangan pada Oktober berada di dekat kanal penting Rumania yang digunakan Ukraina untuk mengekspor komoditas. Sebagian kapal lainnya sedang berlayar menuju atau meninggalkan jalur perairan tersebut.

Satu kapal terkena serangan di perairan teritorial Rumania, sedangkan delapan kapal lainnya berada di zona ekonomi eksklusif Rumania atau Bulgaria.

Direktur Program Laut Hitam di lembaga kajian Middle East Institute yang berbasis di Washington, Iulia Joja, menilai serangan Rusia mempertimbangkan keengganan negara-negara Barat untuk meningkatkan eskalasi konflik.

"Ini merupakan upaya untuk menguji batas-batas tersebut, dengan kesadaran penuh bahwa kami akan melakukan segala kemungkinan untuk mengambil langkah seminimal mungkin," kata Joja.

Ia membandingkan situasi tersebut dengan insiden masuknya drone Rusia ke wilayah udara negara-negara NATO dalam beberapa tahun terakhir.

Seorang pejabat NATO mengatakan, tindakan Rusia yang bertujuan menghalangi negara-negara sekutu NATO mendukung Ukraina merupakan ancaman serius terhadap keamanan kawasan.

Pejabat tersebut menegaskan komitmen NATO untuk mempertahankan seluruh negara anggotanya, termasuk negara-negara di kawasan Laut Hitam, tetap kuat dan tidak tergoyahkan.

Menurutnya, NATO membutuhkan kemampuan penanggulangan drone yang efektif dari sisi biaya. Aliansi tersebut juga telah berkomitmen menginvestasikan lebih dari US$ 40 miliar untuk pengembangan kemampuan antidrone dalam lima tahun ke depan.

Laut Hitam Jadi Jalur Strategis Perdagangan dan Energi

Bagi Rumania, Laut Hitam merupakan jalur perairan strategis untuk perdagangan sekaligus lokasi proyek gas lepas pantai Neptun Deep.

Proyek tersebut diproyeksikan menjadikan Rumania sebagai produsen gas terbesar di Uni Eropa pada tahun depan. Namun, proyek energi strategis itu juga menghadapi ancaman keamanan setelah sebuah drone laut mendekati kawasan Neptun Deep pada Agustus lalu.

Pemerintah Rumania menuduh Rusia melakukan serangan sistematis terhadap kapal-kapal sipil. Meski demikian, Bucharest belum secara langsung mengaitkan setiap insiden dengan Rusia karena masih membutuhkan bukti forensik.

Baca Juga: Masalah Keamanan, Piala Asia di Arab Saudi Ditunda Jadi Desember 2027

Sementara itu, Bulgaria belum secara terbuka menyalahkan Rusia. Namun, pemerintah negara tersebut menyatakan sejumlah serangan tampaknya memberikan keuntungan bagi Moskow.

Situasi ini berlangsung ketika Washington tengah mengevaluasi kembali kehadiran militernya di Eropa seiring meningkatnya perhatian AS terhadap China.

Tahun lalu, AS bahkan menarik 1.000 personel militernya dari Rumania.

Seorang pejabat senior Rumania menilai kondisi hubungan transatlantik saat ini berpotensi dimanfaatkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperluas pengaruhnya.

"Ini merupakan momen dalam hubungan transatlantik yang kemungkinan ingin dimanfaatkan Putin. Perhatian Uni Eropa dan NATO sangat penting, sementara pasukan mereka saat ini lebih berfokus ke wilayah utara dan negara-negara Baltik," ujar pejabat tersebut.

Joja mengatakan NATO telah memperkuat kehadiran militernya di wilayah Baltik dan Polandia melalui program enhanced forward presence. Namun, langkah serupa belum dilakukan di Rumania meskipun Bucharest telah mengajukan permintaan.

"Brussels dan Washington tampaknya masih belum memutuskan apakah Laut Hitam sepenuhnya termasuk dalam komitmen NATO," katanya.

Pejabat Rumania tersebut juga menyoroti kebutuhan mendesak negaranya terhadap sistem pencegat rudal darat-ke-udara dan radar untuk menghadapi berbagai ancaman.

Joja menambahkan, keterbatasan pasokan senjata pencegat berbiaya rendah menjadi persoalan utama bagi negara-negara Barat. Kondisi tersebut semakin sulit akibat perang di Iran.

Hampir 400 Kapal Terdampak Serangan dalam Setahun

Meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal di Laut Hitam telah mengganggu salah satu jalur utama ekspor gandum dan minyak yang digunakan Rusia maupun Ukraina.

Berdasarkan data Tomas Alexa, analis senior di Ambrey Analytics, sebanyak 317 kapal dagang dan kapal lainnya menjadi sasaran serangan di Laut Hitam dan Laut Azov selama Mei hingga Oktober 2026.

Jumlah tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan 74 kapal yang diserang selama enam bulan sebelumnya.

Intensitas serangan juga mengalami perubahan menjelang peringatan lima tahun invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada Februari mendatang.

Ambrey mencatat Ukraina melancarkan 137 serangan terhadap kapal selama kuartal III-2026, sedangkan Rusia melakukan 92 serangan.

Namun, situasi berbalik pada Oktober. Rusia tercatat menyerang 38 kapal, sementara Ukraina hanya melancarkan lima serangan.

Baca Juga: Laba Bersih Saudi Aramco Melonjak 34,5% di Kuartal III-2026, Ini Penyebabnya

Ekspor Gandum Rusia dan Ukraina Tertekan

Serangan terhadap kapal dan infrastruktur pelabuhan turut menekan aktivitas ekspor kedua negara. Rusia dan Ukraina kini terpaksa mencari jalur alternatif untuk mengirimkan komoditas ke pasar internasional.

Berdasarkan data ekspor Rusia yang dilihat Reuters, ekspor gandum Rusia melalui Laut Hitam dan Laut Azov hanya mencapai 0,3 juta ton metrik pada September 2026.

Angka tersebut turun tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika ekspor gandum Rusia mencapai 4,74 juta ton metrik.

Sementara itu, Ukraina menghentikan operasional pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam pada akhir Juli akibat serangan Rusia.

Kondisi tersebut memaksa Ukraina mengalihkan pengiriman komoditas melalui pelabuhan sungai di Sungai Donau. Selanjutnya, pengiriman dilakukan melalui Kanal Sulina di Rumania serta jalur selatan yang melintasi wilayah Laut Hitam Rumania.

Namun, penggunaan jalur alternatif belum mampu mengimbangi penurunan ekspor.

Data pemerintah Ukraina menunjukkan ekspor gandum melalui pelabuhan negara tersebut hanya mencapai 0,81 juta ton metrik pada September 2026. Jumlah itu turun dibandingkan 2,1 juta ton metrik pada September tahun sebelumnya.

Analis angkatan laut sekaligus mantan perwira senior Angkatan Laut Ukraina, Andriy Ryzhenko, menilai tujuan utama Rusia adalah semakin menekan volume ekspor Ukraina.

Sementara itu, menguji respons dan komitmen NATO menjadi tujuan sekunder Moskow.

Zelenskiy Peringatkan Risiko Krisis Pangan Global

Serangan terhadap kapal di Laut Hitam juga menjadi perhatian sejumlah negara yang berkepentingan terhadap kelancaran perdagangan internasional.

Pekan lalu, para menteri pertahanan dan kepala militer Rumania, Bulgaria, serta Turki menggelar pertemuan di Sofia untuk membahas perkembangan keamanan di kawasan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Menteri Pertahanan Turki memperingatkan Rusia dan Ukraina agar tidak melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Hitam.

Turki sendiri tengah menunggu respons Moskow dan Kyiv terhadap usulan gencatan senjata terbatas di wilayah maritim.

Baca Juga: Malaysia Akan Gelar Pertemuan Terkait Ancaman Keamanan

Sebagai negara yang mengendalikan jalur pelayaran kapal perang melalui Selat Bosporus dan Dardanella berdasarkan Konvensi Montreux, Turki memiliki posisi strategis dalam menjaga keamanan kawasan Laut Hitam.

Sejumlah negara, termasuk Mesir, Turki, dan India, juga mendorong tercapainya gencatan senjata maritim untuk mencegah dampak lebih luas terhadap perdagangan global.

Dorongan tersebut muncul ketika harga bahan bakar dan pangan dunia mengalami kenaikan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu lalu mengatakan minat internasional terhadap usulan gencatan senjata terbatas di Laut Hitam semakin meningkat.

Namun, Rusia menolak usulan tersebut karena menilai kesepakatan itu justru akan memberikan kesempatan bagi Ukraina untuk memulihkan kekuatannya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pun memperingatkan potensi krisis pangan akibat terganggunya jalur pelayaran dan ekspor komoditas.

"Semua orang membicarakan solar dan melupakan gandum. Dalam satu atau dua bulan, semua orang akan mulai membicarakan krisis pertanian," ujar Zelenskiy pada bulan lalu.

Peringatan tersebut menegaskan bahwa eskalasi konflik di Laut Hitam tidak hanya menjadi persoalan keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok pangan dan energi dunia.