KONTAN.CO.ID - Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara pertamanya sejak menghentikan kampanye pengeboman pekan lalu dengan menyasar kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak bersama Arab Saudi. Mengutip
Reuters, Rabu (29/7/2026), serangan tersebut terjadi ketika Iran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz, sehingga memupus harapan tercapainya terobosan diplomatik untuk meredakan perang.
Baca Juga: Iran Tolak Usulan Pengelolaan Bersama Selat Hormuz, Terobosan Diplomatik Memudar Iran juga mengklaim telah menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania. Kondisi ini mendorong harga minyak kembali menguat karena pasar menilai konflik belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Washington dan Riyadh menyatakan serangan gabungan itu dilakukan sebagai balasan atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang dituduhkan kepada kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran. Sementara itu, Popular Mobilisation Forces (PMF), kelompok paramiliter pro-Iran yang menjadi bagian dari aparat keamanan resmi Irak, menyebut sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka akibat serangan AS dan Arab Saudi yang menyasar sejumlah pangkalan di Irak. Operasi militer tersebut menjadi aksi besar pertama AS di Timur Tengah sejak Jumat pekan lalu, ketika Presiden Donald Trump menghentikan kampanye pengeboman selama 13 hari setelah mendapat masukan dari para komandan militer bahwa strategi tersebut telah mencapai tujuannya.
Baca Juga: Gucci Lampaui Ekspektasi, Saham Kering Naik di Tengah Lesunya Industri Barang Mewah Keterlibatan Arab Saudi dalam operasi tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik karena untuk pertama kalinya selama perang berlangsung Riyadh secara terbuka mengakui ikut serta dalam serangan militer bersama AS terhadap kelompok pro-Iran. Pemerintah Irak yang dipimpin kelompok Syiah segera menggelar rapat darurat. Baghdad selama ini menjaga hubungan militer dan diplomatik dengan AS maupun Iran. Upaya Washington agar Irak menindak kelompok paramiliter pro-Iran sebelumnya beberapa kali memicu ketegangan domestik. Di sisi lain, Arab Saudi juga menghadapi tekanan dari kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran. Pekan lalu, Houthi mengumumkan blokade terhadap ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah dan melancarkan serangan ke kapal serta fasilitas energi. Beberapa jam sebelum serangan ke Irak, militer AS menyatakan berhasil menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukannya di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Pemilu Israel Digelar 27 Oktober 2026, Ini Peta Persaingan Netanyahu dan Penantangnya Militer Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan lima rudal Iran. Tiga dari empat personel militer AS yang tewas bulan ini gugur di Yordania, yang kini menjadi salah satu sasaran utama serangan Iran. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi telah menembakkan sejumlah rudal balistik ke instalasi militer AS di Yordania. IRGC juga mengklaim menyerang tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang disebut tidak mendapat izin.
Baca Juga: BMW Pangkas Ribuan Karyawan di Jerman Lewat Program Pengunduran Diri Sukarela Iran tolak usulan Oman Pertempuran kembali meningkat setelah kesepakatan kerangka kerja antara AS dan Iran yang dicapai pada Juni lalu gagal dipertahankan. Salah satu penyebab utama adalah perbedaan pandangan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Pekan ini, Oman mengusulkan pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara kawasan dengan dukungan sejumlah negara Teluk. Skema tersebut mencakup penerapan biaya layanan sukarela bagi kapal yang melintas.
Baca Juga: Gempa Dahsyat Guncang Jepang, Ledakan Mal di Kumamoto Tewaskan Tiga Orang Namun, seorang pejabat senior Iran kepada Reuters menegaskan bahwa Teheran telah menolak usulan tersebut karena dinilai tidak masuk akal. Menurut pejabat itu, pembagian kendali Selat Hormuz secara 50:50 dengan Oman tidak sejalan dengan kepentingan Iran, meski Teheran tetap memandang Oman sebagai mitra dan mediator penting. Iran menginginkan kendali penuh atas jalur masuk Selat Hormuz serta sebagian kendali atas jalur keluarnya. AS sendiri telah mengarahkan kapal-kapal agar menggunakan jalur yang lebih dekat ke wilayah Oman dibandingkan melintas di dekat perairan Iran.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menegaskan masih menguasai penuh Selat Hormuz dan akan merespons setiap bentuk campur tangan militer AS yang dianggap melanggar hukum.
Baca Juga: Bursa Singapura Pecahkan Rekor Saat Saham Teknologi Asia Dilanda Aksi Jual Eskalasi terbaru tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari US$ 3 per barel hingga kembali diperdagangkan di atas level US$ 87 per barel. Sebelumnya, harga sempat turun ke kisaran pertengahan US$ 80 per barel setelah Presiden Trump menghentikan operasi pengeboman terhadap Iran pada akhir pekan lalu.